Senin, 28 Mei 2012
Hari ini terasa begitu melelahkan atas selesainya BCF kemarin malam.
Sebenarnya pemikiran ini sudah muncul di sela-sela jalannya acara kemarin.
BCF, Brawijaya Choir Festival. Melihat semua peserta, aku menjadi teringat akan lomba di Semarang yang dibatalkan. Harusnya hari ini (kemarin) aku juga bisa seperti mereka, di Semarang. Namun, semua itu hanyalah ilusi. Keikutsertaanku lomba di Semarang juga membuat beberapa konser di PSM Univ akhirnya aku tiadakan. Aku memang sengaja menolak latihan untuk konser karena aku tahu bahwa aku tidak akan mengikuti konser. Aku juga memutuskan mundur dari kepanitiaan BCF dengan alasan yang sama, yaitu karena aku ingin fokus lomba di Semarang. Tapi ternyata, semua itu batal. Dan yang terjadi, aku diminta tetap ada di kepanitiaan dan mengenai konser, nol. Selama jadwal konfirmasi yang ditentukan aku tidak pernah datang latihan. Jika karena kebatalanku ke Semarang lalu tiba-tiba aku latihan, c’est imposible. Dengan waktu sedekat ini, dengan dua lagu yang sama sekali belum pernah kupelajari, dengan tingkat kesulitan yang cukup, mana mungkin. Yasudahlah...
Hari demi hari aku mengerjakan tugas dalam divisiku ini. Tidak pernah lagi aku datang latihan. Aku datang ke sana hanya bila perlu minta tanga tangan, TM, ataupun jika ada rapat besar. Mungkin aku salah satu orang yang belum bisa merasakan kenyamanan di sana. Ya, jujur, ini sudah hampir setahun, namun aku belum seakrab yang lain. Aku sudah mencoba, tapi tetap saja, terasa begitu kaku. Bercanda, iya, aku bercanda dengan mereka. Mereka semua baik kok, ngga ada yang jahat. Kalau soal nyebelin, sukanya merintah-merintah, ngomongnya nyelekit, sok ngerendahin orang lain, dsb, dll, itu sudah biasa. Nggak cuma di PSM Univ, aku telah menemukan berbagai tipe manusia semenjak memasuki dunia perkuliahan. Nah, sekarang pertanyaannya begini, kalau tidak ada masalah, lantas apa yang membuat aku tidak bisa merasa nyaman di sana??? Ya, jawabannya adalah, murni dari dalam hatiku sendiri. Ini soal hati, bukan mulut. Kenyamanan dan kebahagiaan muncul dengan sendirinya yang itu semua berasal dari hati.
Hmm, terkadang aku merasa ini terlalu berlebihan. Tapi aku yakin, dari sekian banyak mereka yang sudah jarang latihan dan mungkin juga telah memutuskan untuk keluar dari sana, pasti juga mengalami perasaan yang sama denganku. Hanya saja mereka cenderung membiarkan berlalu dan memutuskan untuk pergi begitu saja. Tapi aku, bukanlah tipe orang yang seperti itu. Aku bukanlah orang yang bisa membiarkan suatu cerita berakhir tanpa ada penyelesaian. Ya, segala keputusan dalam hidupku telah kuibaratkan sebagai penggalan-penggalan cerita dalam novel kehidupanku.
Jujur, yang aku rasakan sekarang adalah ½ hati aku ingin tetap berada di sana karena aku merasa aku harus mencoba, aku pribadi yang kuat, aku orang yang bisa menghadapi situasi-situasi seperti itu, aku merasa sayang melewatkan kesempatan menjadi keluarga di sana. Namun, ½ hati aku tidak pernah merasa nyaman ada di sana, semua adalah temanku, semua baik-baik, tapi hanya sedikit yang aku kenal, tidak ada bercanda yang natural, tidak ada celotehan gosip yang asyik, tidak ada rencana pergi bersama, tidak ada bentuk keakraban, dsb, dll. Keadaan ini yang selalu meresahkan pikiranku.
Menggapai sebuah keberhasilan memanglah penuh perjuangan. Soal menjalani, aku rasa aku kuat, walau itu sungguh terpaksa. Namun, satu hal yang selalu aku takutkan, iya kalau nantinya aku menjadi bisa merasa nyaman, kalau ternyata tetap tidak? Yang ada aku hanyalah akan menjadi manusia yang tidak pernah merasa bahagia menjalani kehidupan di sana. Yang ada bukannya malah aku stres nantinya? Ya, suntuk, seperti saat ini.
Teman-temanku pernah berkata,
“Kapan kamu ada waktu?”
“Kita lagi di rumah blablabla, ke sini dong cepetan....”
“Kita lagi di blablabla, ke sini ya...”
“Eh, hari minggu kita ke blablabla yuk!”
“Please, ikut ya... kali ini....aja”
dsb,dll.
Dan jawaban yang selalu kolantarkan adalah, “Aduh maaf aku nggak bisa. Jam blablabla aku ada blablabala, setelah itu blablabla, dan blablabla, sekian.sekian.sekian.
Dan dengan sabarnya beberapa orang dari mereka menjawab, “Hmm, yasudah, nanti kalau kamu ada waktu, ikut ya...”
Dan aku hanya bisa tersenyum simpul.
Rasanya seperti berada di dua pilihan. Sisi lain hatiku mengatakan berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, bersusah payah dahulu bersenang-senang kemudian. Bukankah kebahagiaan akan datang setelah kita menjalani kesulitan?
Bukankah dengan semakin banyak masalah malah semakin mendewasakan seseorang?
Bukankah dengan banyak pengalaman justru membuat seseorang menjadi pribadi yang tangguh?
Bukankah di akhir nanti akan ada bayaran yang setimpal untuk segala kerja keras?
Bukankah, bukankah, bukankah, dan segala kalimat bukankah yang menentang segala keyakinanku bila aku mulai merasa ingin mundur dari suatu hal.
Tapi, di sisi lain hati ini memiliki satu kalimat “bukankah” yang membuat aku merasa semakin bimbang, “Bukankah hidup ini hanya sekali, harusnya aku bisa lebih membuat hidup ini simple, lantas mengapa malah aku membuat hidup ini ribet, Tuhan aja lho tidak meribetkan hidup kita, just percaya bahwa Tuhan akan ngasih yang terbaik dan akan lebih membahagiakan, lantas untuk apa membuat hidup menjadi sangat berat?”
Entah mengapa semakin menulis kisah ini keinginanku untuk berhenti menjadi justru semakin kuat. Mungkin benar yang mereka katakan, aku menjauhi Tuhan atas pemikiran-pemikiranku yang aneh itu. Pemikiran-pemikiran aneh itu tidak membuat sebuah penemuan ataupun fakta baru, justru malah membuatku ragu atas pilihanku pada agama dan Tuhan agama ini. Tidak pernah lagi aku membca Al-Qur’an, tidak pernah lagi aku sholat duha, tahajud, baca yasin, ngajar ngaji, dan segala kegiatan keagamaan. Aku merasa sibuk dengan organisasi, tugas, dead line kepanitiaan, kerjaan, penampilan, kostum, make-up, sepatu, dan segalanya tentang itu.
Ada sedikit perasaan plong setelah semua pemikiran-pemikiran anehku ini kuutarakan pada ibu, beberapa saudaraku, beberapa temanku, juga beberapa orang yang berada di dekatku.
Dan aku sangat mengucapkan terimakasih atas orang-orang yang telah memberikan aku jawaban-jawaban atas segala pemikiran konyolku itu.
Ya, beberapa dari mereka memang menyuruhku untuk kembali seperti dulu. Salah satu dari mereka berkata, bukankah sudah 4 tahun ini aku memutuskan untuk memakai jilbab? Bukankah sudah 15 tahun ini aku berada dalam agama ini? Lantas, mengapa tiba-tiba muncul keraguan itu? Semakin kita ragu, maka semakin pula hal yang kita ragukan itu akan menjauh dari kita.
Dalam setiap doaku, selalu kuucapkan berkali-kali permintaan maafku atas ini semua pada Tuhan. Aku takut Tuhan marah. Ya, hingga detik ini aku berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki kesalahan-kesalahanku. Dan efek yang terjadi, aku menjadi lebih banyak diam ketika bersama teman-teman. Di dalam kediamanku kusimpan segala pemikiran, kesalahan, penyesalan, dan berbagai harapan besar.
Dan tak terasa air mata ini menetes perlahan...
Baca Selengkapnya →Kalau ditanya masih kuatkah, ya pasti jawabannya masih, karena hatiku berkata masih ingin berlagak kuat walau sebenarnya di perjalanannya nanti perasaan ingin selesai kembali bermunculan.



