Jika matamu berat memandangku, ringankanlah kakimu pergi dariku. Jika bibirmu terpaksa senyum padaku, relakanlah wajahmu tuk berpaling dariku. Jika dirimu susah untuk melupakan kesalahanku, maka senanglah lidahmu untuk menghinaku. Tapi, andai suatu hari nanti telingamu mendengar berita kematianku, ikhlaskanlah tanganmu untuk mengusap jasadku, dan bisikkan padaku sesuatu yang akan mengingatkanku. Semoga kalimat terakhirmu dapat menjadi pelita dalam kamar gelapku dan menjadi bantal ketika tidur panjangku. Maafkan atas semua kesalahanku...Hmm..... Aku Cuma bisa tersenyum simpul membaca pesan kemarin malam itu. Walau telah lama kuhapus jejakmu, namun aku tahu bahwa itu adalah dirimu. Ya, dirimu yang dulu pernah ada di hidupku. Sudahlah, yang dulu hanyalah dulu. Tidak perlu minta maaf lagi. Aku sudah memafkan dari dulu. Oh, bukan, bukan hanya memaafkan, tapi aku juga memang telah melupakan. Kamu nggak pernah tahu kan, dampak dari semua itu baru terlihat sekarang. Semuanya menjadi terbalik sekarang. Aku menganggap semuanya sama. Tidak ada yang spesial hingga detik ini. Aku hanya bisa tersenyum melihat yang terjadi sekarang. Sudahlah tidak ada yang perlu disesali,.. Ya mungkin Tuhan sudah membukakan pikiran jernih kita masing-masing. Permintaan maaf nggak ada artinya, yang penting sekarang bagaimana kamu memperbaiki hidupmu. Pasti ada hikmah dari ini semua. Sudahlah..., bagiku kini, hidupku ya hidupku, hidupm ya hidupmu. Aku dengan duniaku, dan kamu, silahkan dengan duniamu, tanpa perlu lagi kamu kembali memasuki hidupku yang sekarang. Aku sudah berada jauh di depan, jelas aku tak ingin untuk kembali ke belakang. Urusan perasaan, jujur, memang belum ada yang mengisi hati ini. Namun bukan berarti karena belum ada yang bisa menggantikanmu. Bukan. Sama sekali bukan. Bahkan hatiku sudah lama pergi dari masa-masa itu. Aku Cuma tidak ingin mengulangi kesalahan. Aku hanya percaya sama Tuhan, tanpa harus aku ngoyo untuk mendapatkan “dia” yang aku mau. Ya just santai aja, nikmatin hidup. Aku berteman dengan siapa saja, tanpa ada perasaan apapun. Dan kamu, tidak perlu tahu tentang semua ini. Aku sudah malas untuk membahasmu. Sudahlah, kita banyak rintangannya, dan perasaanku pun sudah tidak seperti dulu lagi...
Tampilkan postingan dengan label open your eyes more and more. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label open your eyes more and more. Tampilkan semua postingan
087859690xxx, 10:23:23 pm / 27 02 2012
Posted by deastu at 16.44 0 commentsSenin, 27 Februari 2012
“Stop complaining!” said the farmer
Posted by deastu at 01.48 0 commentsKamis, 23 Februari 2012
Sore ini, entah mengapa, aku merasa begitu melankolik.
Aku merasa lelah dengan keadaan.
Aku lelah dengan ketidaksempurnaan dari perintah-perintah yang aku berikan.
Perfectsionis, entahlah.
Aku cuma tidak ingin ada yang lecet sedikitpun.
Aku cuma ingin yang terbaik.
Mengapa mereka tidak mau mendengar?
Aku lelah dengan apa yang aku berikan.
Untuk apa aku mengurus yang tidak mau diurus?
....................................................................................................................................
Hanya mendengarkan lagu Donna, Donna, Donna yang membuatku masih terus menerus mencoba untuk kuat bertahan.
Baca Selengkapnya →“Stop complaining!” said the farmer
How the winds are laughing, they laugh with all their might. Laugh and laugh the whole day through, and half the summer`s night. Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don. Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don. “Stop complaining!” said the farmer, Who told you a calf to be? Why don`t you have wings to fly with, like the swallow so proud and free?”..................................................................................................................................... Lelah hati, lelah fisik, juga lelah pikiran. Rasa-rasanya tubuh ini tak kuasa untuk bekerja terlalu larut. Berbaring di atas awan, mungkin akan menenangkan sejenak. Sama seperti yang pernah dikatakan,
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda...................................................................................................................................... Jujur, aku memang sering tidak percaya pada orang lain, aku hanya ingin memastikan, agar semuanya menjadi yang terbaik, agar tidak ada yang kecewa, agar mereka dapat tersenyum. Aku tidak pernah bisa marah untuk ketidaksempurnaan pekerjaan mereka. Yang ada hanyalah justru aku diam, dan tentunya bad mood. Dan hari ini, mungkin semua lelahku bertumpuk menjadi satu, hingga seuntai senyuman pun tak mucul menghiasi indahnya hari ini.... .................................................................................................................................. Mungkin, memakan sebatang coklat atau sebuah ice cream akan sedikit menenangkan batin yang lelah. Oui, peut-etre. ................................................................................................................................... Dan masih kuingat, ketika aku berkata,
"Saya sangat mengagumi Soe Hok-Gie, bu..."dan kemudian beliau menjawab,
"Bagus, jadikan itu semangatmu. Jadikan itu sebagai penghapus air matamu. Jadikan itu sebagai pembangkit senyummu.Ya, memang itu yang selalu kuingat tiap kali aku merasa dalam keharuan seperti saat ini....
Langganan:
Postingan (Atom)



