Tak Ada Mawar Ungu, Edelweiss Ungupun Jadi.

Jumat, 07 Desember 2012

Edelweiss.. Edelweiss.. Bless my homeland forever... Lagu itu masih terngiang di telingaku setiap kali kulihat bunga Edelweiss Ungu yang kubeli di Gunung Bromo.
Tak ada niat sama sekali untuk membeli bunga Edelweiss yang dijajakan para penjual di tempat sunrise waktu itu. Namun, ketika ada satu penjual yang tiba-tiba menawarkan yang warnanya ungu, sontan hati ini pun menjadi terrayu, hahaa. Dan akupun membelinya. Sabtu, 1 Desember 2012 merupakan hari yang tak akan pernah aku lupakan. Impianku untuk mendaki gunung akhirnya kesampean juga. Bromo, menjadi gunung pertama yang berhasil kudaki. Cantik, cantik, dan cantik. Cuma itu kata yang selalu aku ucapkan di sana. Cantik, cuma itu yang bisa aku ungkapkan untuk Bromo tercinta.
Capek yang aku rasakan, besarnya uang yang aku keluarkan, dan segala kantuk yang aku tahan, terbayar lunas dengan pemandangan yang Bromo berikan. Subhanallah, Allahuakbar, Tuhan memang Maha Besar. Aku bener-bener nggak bisa berkata apa-apa selain terus memuji, memuji, dan memuji kebesaran Allah. Bagus dan cantik banget. Nggak ada sebutirpun penyesalan yang aku dapatkan sepulang dari sana. Mungkin aku memang lebih suka gunung daripada pantai. Sensasinya berbeda. Dingin, itu yang membuat menjadi lebih seru. Kita pergi bersembilan orang. Aku, Annisa, Riska, Novi, Nona, Regin, Hadyan, Tesa, dan Mas Satria, pacarnya Tesa. Dan yang bikin lebih serunya lagi, di sana ada turis Prancis, dan aku berani ngajak ngobrol. Kata salah satu dari mereka aku adalah orang pertama yang ngajak dia ngomong pake bahasa Prancis selama dia di Indonesia ini. Dia sangat-sangat senang dengan kehadiran kita. Kita juga memperkenalkan diri kalau kita adalah mahasiswa Bahasa Prancis Universitas Brawijaya di Malang. Nggak lama sih, tapi lumayan cukup puaslah bisa ngobrol langsung dengan orang Prancis. Dia juga bilang kalo Hadyan bagus ngomong Prancisnya, hahaa, hebat emang dia itu. Setalah kami puas berfoto dengan mereka, berakhir jualah pendakian kita. Seneeeng banget rasanya, mungkin karena memang baru pertama kalinya ke Bromo. Gimana rasanya saat memijakkan kaki di sana masih terasa selalu. Dan aku juga yakin, mereka semua juga merasakan hal yang sama, bahagia.

2 comments:

Unknown mengatakan...

kasian bgt edelweis ny. bukankah lebih indah jk dia berada di tempatnya tumbuh. Dengan dia ada di tempatnya justru akan membuat qt rindu untuk melihatnya di alam. bukan kah begitu lebih indah???
Mungkinkah generasi setelah kita akan tetap bisa melihat n menikmati keindahannya???? Edelweis q sayank... Edelweis q malang....

deastu mengatakan...

Kan itu edelweisnya dijual. Kalo semuanya dibilang kasian nah trus gimana nasibnya bunga yg dijual di pasar bunga? Hahaa

Posting Komentar