Sholat??? Ehm.... sudahkah kita lakukan? :)

Minggu, 12 Agustus 2012

(Teruntuk dia yang selalu mengingatkanku tentang kata “ikhlas”. Makasih yaaa. Darimu aku bisa lebih mengerti tentang kata itu.) Tingkatan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah itu ada 4. Yang pertama sebagai kewajiban, kedua karena kebutuhan, ketiga karena rasa syukur, dan yang teratas adalah karena cinta. Tidak perlu dulu lah kita ikut mempermasalahkan terbaginya Islam menjadi banyak golongan, atau tentang cara membaca Alqur’an dengan makhroj yang sangat benar, atau tentang keafdholan berpuasa mengikuti ilmu hisab dan rukyat, atau tentang penutupan aurat yang sesuai syar’i, atau tentang ilmu dalam kitab Riyadhussholihin, atau segala macam ajaran Islam yang dirasa berat. Paling juga ilmu kita belum kesampaian. Itu buat orang-orang yang sudah benar-benar mahir dan sadar tentang Islam. Nanti, semua ada waktunya. Tidak perlu dulu lah kita gembar-gembor berdebat tentang sebuah kajian dalam Islam, tentang teroris, tentang syah dan tidak syah, bahkan tentang dosa dan pahala. Sebelum kita berani berpendapat lebih jauh mengenai islam, ada baiknya kita tengok dulu siapa diri kita... Sudah pantaskah kita mengatakan kata-kata itu? Daripada kita terlalu banyak menilai orang tentang salah dan benarnya, coba kita lirik sebentar mengenai hal terkecil dalam agama Islam, yaitu SHOLAT FARDLU 5 WAKTU. *senyum* Sudahkah anda sholat? Ketika kita merasa kok gini ya, kok gitu ya, kok aku begini ya, kok bisa jadinya gini ya, dan segala macam pertanyaan sejenis itu, itulah tanda-tanda bahwa kita mulai menjauh dariNYA. Katanya butuh.. tapi mengapa tidak segera kita memenuhi panggilanNYA? Tuhan itu lho sejenak dalam sehari sebanyak lima kali memanggil kita. Menyuruh kita untuk sebentar saja menghadap Beliau. Beliau ingin melihat kesehatan kita, keadaan kita. Beliau ingin mendengarkan cerita-cerita kita. “Kemarilah... katakan segala yang ingin kau katakan.. Lalu selanjutnya kamu mau minta apa? Katakan.. Aku akan memberikan yang kamu mau”. Itu bahasa kasarannya ketika Tuhan sedang memanggil kita. Mengapa tidak pernah terpikirkan oleh kita tentang memasrahkan diri pada Tuhan. Yang membuat kita ada adalah Dia, yang memberi cobaan juga Dia. Lantas apa yang masih kita takutkan. Berusahalah menyelesaikan masalah, selanjutnya serahkan semuanya pada Tuhan. Bahkan Tuhan jualah satu-satunya tempat curhat yang dijamin kerahasiaannya. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Kegagalan bukanlah segalanya. Pasti masih ada jalan kebahagiaan. Yakinlah... Ketakutan itu adalah dampak dari kurangnya keyakinan. Jika kita yakin dan sama sekali tidak meragukan adanya Tuhan, maka apa lagi yang masih kita takutkan? Hidup ini akan tenang jika kita mau selalu dekat padaNYA. Tak banyak orang yang mau memahami dan mengkaji hal ini. Kembali lagi pada sholat 5 waktu. Sekarang tentang niatnya. Mau berniat seperti apa itu yang harus diperbaiki. Kita beribadah karena siapa, untuk apa, dan agar apa? Kembali lagi pada 4 tingkatan ibadah yang saya jelaskan di awal tadi. Kewajiban, kebutuhan, rasa syukur, dan cinta. Melaksanakan ibadah sebagai kewajiban maka tak akan pernah kita merasa tenang. Semua ibadah dianggap kewajiban, jika tidak mengerjakan maka kita mendapat dosa. Maka beban, beban, dan bebanlah yang akan tercipta. Tidak akan nikmat hidup yang penuh dengan beban.. Naik satu tingkat menjadi sebagai kebutuhan. Kita butuh makan kan? Teman? Tetangga? Maka dengan sungguh-sungguh kita mencari cara agar bisa makan, baik pada teman dan tetangga. Sama seperti beribadah. Kita butuh Tuhan kan? Sombong sekali orang yang berkata tidak butuh Tuhan... Nah kalau kita butuh, ya menghadaplah padaNYA ketika Beliau memanggil.. Sesungguhnya Tuhan sedang menghormati kita ketika beliau mengundang kita. Ibaratnya ketika kita diundang tetangga untuk hajatan. Diperlukan waktu, tenaga, dandan, baju yang bagus, lalu kita bisa menikmati hidangan di sana dan pulang membawa makanan. Sama seperti saat sholat. Tuhan mengundang kita, diperlukan waktu, tenaga, berdiri, rukuk, sujud, capek-capek berwudlu, dan pengorbanan lain untuk bisa melaksanakan sholat. Nanti ketika sudah selesai sholat, kita juga pulangnya membawa bingkisan. Misalnya berupa kesehatan, hati yang menjadi tentram, jalan keluar masalah kita, dan sebagainya.. Selanjutnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Ada kalimat bijak mengatakan “Bukan karena bahagia maka kita menjadi bersyukur, namun karena bersyukurlah kita menjadi bahagia”. Benar,... Kalau kita masih saja terbelenggu dalam kesedihan, kita tak akan pernah sadar bahwasanya masih banyak kebahagiaan yang bisa kita dapatkan. Bersyukurlah atas kehidupan yang indah ini. Tuhan begitu baik. Tuhan selalu mengarahkan kita pada jalan yang benar. Tuhan selalu ada kapanpun kita mau. Tuhan selalu memaafkan kesalah-kesalahan kita. Tuhan selalu memberikan apa yang menurut kita itu tidak mungkin. Tuhan selalu menepati janjiNYA. Selalu, ya, Tuhan selalu mengasihi semua hambaNYA. Dan justru kitalah yang kadang belum sadar-sadar juga. Dan tingkatan yang paling atas adalah melaksanakan ibadah sebagai wujud kecintaan kita pada Tuhan. Nabi Muhammad yang jelas-jelas jaminan surga, dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang sudah pasti dihapuskan, masih saja sholat malam hingga kakinya sakit, itu semua demi apa? Demi kita umatnya, karena saking cinta dan berbaktinya beliau pada Allah. Lantas mengapa kita tidak bisa cinta pada Tuhan? Ya, itulah sedikit wacana dan pendapat yang ada dalam pemikiranku. Aku tahu dan juga sangat sadar bahwa apa yang aku katakan juga belum sepenuhnya aku lakukan. Namun, ini semua dalam proses dan belajar. Belajar untuk memperbaiki yang sekiranya patut untuk diperbaiki. Karena kita hanyalah manusia biasa, yang tempatnya salah dan lupa. Jalanilah kebaikan tanpa harus ditunda-tunda, teman... Namun, juga jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Namun, juga bukan mengenai benar atau salahnya dalam pengambilan sebuah keputusan, tapi mengenai berani atau tidaknya mempertanggungjawabkan keputusan yang telah berani kita ambil. Nah, mengenai berani atau tidaknya, kembali lagi pada yang sudah aku katakan. Jika kita yakin akan adanya Tuhan, lantas apa lagi yang perlu kita takutkan? *senyum senyum senyum*

0 comments:

Posting Komentar