Buka Lepas Jilbab???

Minggu, 05 Agustus 2012

Mengapa sih ada sebagian orang yang selalu mempermasalahkan perempuan berjilbab yang jilbabnya masih suka lepas pake lepas pake? Bahkan ada yang berkata lebih baik nggak pake jilbab daripada pake tapi masih sering lepas. Banyak, banyak kok pendapat-pendapat lainnya. Aku tidak menyalahkan. Karena kebebasan berpendapat adalah hak setiap individu. Nah, karena setiap individu berhak berpendapat, jadi aku juga boleh dong berpendapat mengenai hal ini? . Ini bukanlah bentuk pembelaan diri sendiri. Ini hanyalah murni pendapat dan pemikiran-pemikiranku saja. Oke? Aku punya beberapa teman dan guru yang masih suka lepas jilbab ketika di luar. Kalau aku pribadi nih ya, nggak apa-apa... Ini semua tuh ada masanya. Biar kita sendiri yang sadar. Suatu saat kita juga pasti akan mengerti tentang pemakaian jilbab dan lama-lama kita akan benar-benar bisa selalu berjilbab. Dan setiap orang yang masih sering lepas jilbab, ya emang ada yang ibadahnya masih kurang, tapi juga ada yang ibadahnya bagus. Soal ibadah, biar Tuhan yang menilai... Toh negara kita bukanlah negara Arab. Lingkungan, kondisi alam, kepribadian, kemajemukan, dan berbagai perbedaan itu yang tidak akan bisa disamakan seperti di negara Islam yang saklek. Tuhan itu lho simpel. Tuhan nggak akan marah dengan pemakai jilbab di Indonesia yang jauh berbeda dengan wanita-wanita di Mekkah ataupun Madinah. Apalagi ada juga yang berpendapat bahwa perempuan yang jilbabnya dimodel-model entah itu diputer-puter, ditumpuk-tumpuk, tempel sana tempel sini, pake bros mulai yang besar sampe yang bergelantungan, dan berbagai macam itulah, justru malah sholatnya nggak lengkap. Dan kebalikannya, perempuan yang jilbabnya biasa-biasa saja dan cenderung dapat dikatakan ndeso, itu justru yang sholatnya lengkap. Hmm, aku cuma bisa ketawa mendengar pendapat ini. Hush, mana kita tahu soal ibadah seseorang. Ya masa sholat aja mau dipamer-pamerin? Kembali lagi soal jilbab yang dimodel-model. Di satu sisi aku ya setuju dengan keadaan seperti itu. Kita perempuan, saya berani jamin, semua wanita pasti akan bahagia jika ada yang memujinya dengan kata “cantik”. Ini sudah naluri. Merias diri agar terlihat cantik memang sudah naluri seorang wanita. Sekalipun dia itu katanya tomboy, pasti masih ada sisi kewanitaannya. Dengan memodifikasi jilbab juga berarti membuat daya kreatifitas kita terasah. Ini seni. Nah lhoh, jadi rumit kan kalau agama dikaitkan dengan seni? Ups, oke-oke, kita memang tidak perlu mencampuradukkan dua jalur itu kok. Fokus, kembali ke topik jilbab!. Tadi kan sudah di satu sisi nih ya, nah tapi di sisi lain, kadang timbul pernyataan kurang setuju dengan tulisan-tulisan tentang buku-buku cara memakai jilbab praktis dalam lima menit, cantik, modis, dan sesuai syar’i. “Sesuai Syar’i”??? Iyakah sudah sesuai? Kalau ternyata tidak, bagaimana hayo? Kan biasanya kita masih suka pake baju yang masih terlihat bentuk tubuhnya... Ada lagi nih sebuah fenomena, coba ya, kalau nggak percaya, survey membuktikan, ada sebagian anak yang masa kecilnya dimasukkan orangtuanya dalam sekolah yang katanya berbasis Islam itu, gede-gedenya malah lepas jilbab. Iya atau tidak??? Iya kan? Aku nggak bilang semua lho ya... Aku hanya bilang sebagian. Ya bukan berarti juga aku menyalahkan orangtua yang seperti itu. Kan tujuan awalnya baik. Ya cuma kenyataan malah seperti itu. Nah dari situlah mengapa kita tidak seharusnya ngejudge perempuan yang memakai jilbab. Sudahlah, biarkan menjadi urusan masing-masing. Sekali lagi, kalau aku pribadi nih ya, lebih baik memakai jilbab daripada yang belum. Terserahlah nanti gimana pandangan orang kalau memakai jilbab tapi masih sering lepas. Kan memakai jilbab adalah kewajiban... Namanya juga belajar. Belajar menjadi manusia lebih baik. Urusan waktu, itu tergantung dari setiap individunya. Ada yang sekali pake trus pakeeeeee terus sampai mati, ya Subhanallah. Ada yang pada tahun-tahun pertama masih sering buka, tapi setelah nikah jadi bisa nutup terus. Dan lain sebagainya. Nggak apa-apa, inilah proses, wajar kok... Kita juga manusia biasa seperti kalian. Dan tidak ada kaitannya bahwa perempuan berjilbab berarti harus menjadi alim 100 %. Oh, No!. Justru dengan jilbab yang kita kenakan, terkadang perasaan malu itu muncul pada diri sendiri ketika kita sedang melakukan kesalahan. Misalnya tanpa sengaja masih mengucap kata-kata yang sedikir kotor, masih pake baju yang sedikit ketat, masih suka aneh-aneh. Justru bagus kan? Balik lagi, ini semua tergantung individunya. Ada yang memang telah menjadi lebih agamis, tapi ada yang masih belum. Aku teringat akan perkataan Zarka dalam film Paris Je T’aime. “Kecantikanku adalah berkah bagiku. Namun, dengan memakai jilbab, aku merasa mempunya iman”. Subhanallah...luar biasa sekali kalimat itu. Aku bukanlah dari keluarga santri ataupun pondok. Keluargaku menganut iman islam sama seperti yang lainnya. Tidak begitu saklek, namun tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadis. Bahkan aku masih nggak pernah nyangka kalau aku ini mu’alaf. Aku dilahirkan dalam naungan Sang Hyang Widi Wasa, aku hindu. Hanya saja Allah masih sangat menyayangiku, hingga akhirnya aku bisa berada dalam naunganNYA kini. Aku juga jadi teringat waktu pertama kalinya memutuskan untuk memakai jilbab. Ini murni keputusanku sendiri. Tidak ada yang memaksa, tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menyarankan. Ya tiba-tiba aja hatiku terketuk untuk memakai jilbab. Waktu itu keinginanku ini disambut dengan sangat gembira oleh salah satu temanku. Namanya Dewi Sartika. Aku memang langsung mengganti semua seragamku dengan seragam lengan panjang untuk siswa berjilbab. Tepatnya kelas 3 SMP Semester 2 setelah hari raya, aku memakai jilbab ke sekolah. Rok Pramukaku adalah pemberian dari Tika. Ya, dialah yang sangat mendukungku. Meskipun aku sampai saat ini masih belum bisa sealim dia, setidaknya aku akan selalu ingat sama dia.  Sejak saat itulah aku merasa lebih nyaman. Namun di awal SMA, itulah pertama kalinya aku merasa sedang diuji. Hahaa. Ibuku adalah orang pertama yang meragukanku saat aku memakai jilbab. Ibu takut dengan berjilbab akan membatasi kegiatanku. Ya, memang sih, aku kadang merasa nggak bisa lagi menari dan menyanyi sevulgar dulu. Aku suka banget menari, joget-joget, senam, ke sana ke mari deh. Dan memang benar, aku merasa nggak sebebas dulu. Dikit-dikit aku jadi inget dosa. Hehee. Tapi dasarnya aku, aku yang suka mencoba hal-hal yang belum pernah aku coba, sekalipun itu sedikit berbahaya dan memberi dampak buruk, tetep aja aku lakuin. Aku beranggapan bahwa masa SMA adalah waktu yang paling berharga untuk mencoba segala hal. Kalau nggak sekarang, kapan lagi??? Aku juga mulai “NAKAL”. Aku berpikiran bahwa sejak kecil aku sudah menjadi Pipit yang baik, pintar, patuh pada orang tua, rajin belajar, selalu ranking, pinter ngaji, nggak pernah pulang malem, selalu di rumah, selalu sama keluarga, nah di masa SMA, apa salahnya kalau aku sedikit berani untuk menjadi nakal? Toh aku masih bisa jaga diri dan komitmen pada nilai-nilai pelajaranku kan? Hmm, yah aku salah. Ya nyeselnya emang baru sekarang. Kalau inget masa-masa itu, ya agak nyesel kadang-kadang. Ya tapi mau gimana lagi? Lagian kan udah terjadi. Yah, anggep aja pengalaman... Nggak etis juga jika aku menyalahkan keadaan keluargaku yang membuat aku menjadi seperti itu. Kini baru aku sadar. Aku salah. Dan tidak sepantasnya aku menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini. Jelas-jelas aku yang salah. Ini hidupku, keputusan aku yang ngambil, jadi resiko ya aku yang harus tanggung. Ahh, itu kan dulu. Manusia pasti pernah punya salah. Bukan soal mengambil jalan hidup yang salah atau benar, namun soal berani atau tidaknya mempertanggungjawabkan pilihan yang sudah kita ambil. Menurut Marisa Haque, di belakang kepala tepatnya di sekitar tengkuk, ada sebuah syaraf yang bernama Sudhur. Ini merupakan syaraf yang seakan-akan mengingatkan kita seperti ini, “Hati-hati lho ya kalo mau ngelakuin apapun... Nanti percuma lhoh,,,kan sudah pake jilbab... ”. Ya, seakan-akan syaraf inilah yang mengontrol alam bawah sadar kita untuk selalu teringat jika kita akan, sedang, ataupun telah melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Dia mengakui bahwa selama dua belas tahun memakai hijab merupakan sebuah kenyamanan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Memakai hijab adalah proses belajar dan melatih kesabaran. Dibutuhkan fokus dan kesadaran untuk melatih diri kita agar menjadi manusia yang lebih baik. Itulah mengapa sampai detik ini aku merasa masih dalam proses belajar. Memperbaiki yang sekiranya patut untuk diperbaiki. Menjadi insan yang lebih dan lebih baik lagi. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan segera membukakan hati hamba-hambaNYA yang mungkin masih bisa dikatakan tertutup. Amin. Biarkanlah dosa dan kebenaran semata-mata menjadi murni urusan Tuhan, tanpa harus kita saling menyakiti satu sama lain dengan berlandaskan kebebasan berpendapat. C’est vrai ou faux???  Dan harapanku di Romadhan kali ini adalah semoga aku lebih bisa selalu memakai jilbab tanpa harus buka lepas buka lepas lagi. Amiiiiiiiiiiin.

0 comments:

Posting Komentar