Aku Diam Bukan Berarti . . .

Rabu, 07 Maret 2012

Malam ini, ketika lampu jalan gemerlapan memberiku salam kehangatan, seraut senyummu mengaburkan pandanganku. Terbesit pemikiran yang seperti dulu,
Di saat semuanya merasa kesal, mengapa hanya aku yang memandang itu adalah sebuah keindahan?
Bahkan akupun teringat sebuah kalimat yang pernah muncul dari dasar hati,
Di saat tak ada satupun yang mendukungmu, "aku", ya, "aku", aku yang akan mendukungmu.
Mengapa? Mengapa hingga kalimat demikian berserakan dalam hatiku? Hari ini banyak sesuatu yang cukup menyeka hati dan pikiran. Dalam diamku, kusimpan segala kebimbangan. Semangat yang dulu membara, kini mulai padam. Hanyalah ilusi semata. Di saat semua orang berbicara tentang kehampaan dan keriuhan, aku ingin berbicara padamu tentang cinta dan keindahan. Tentang udara di bukit yang menusuk memasuki setiap ruang yang ada dalam hatimu dan hatiku. Sedikit ingin kutundukkan kedua mata ini, ada berbagai kebahagiaan yang belum pernah dijamah. Ya, memang, saat otak mulai merasa lelah dengan semuanya, alam bawah sadar pasti akan mengajak kita untuk sedikit melihat ke bawah. Menjumpai setiap kebahagiaan yang sebenarnya sudah tersedia dari dulu. Kalau aku yang mengalami seperti tadi, apa jadinya? Akankah aku sanggup? Bahkan untuk meyakinkan diriku saja aku merasa harus berpikir sejuta kali. Apa lebih baik meletakkan perasaan ini dalam sebuah kehampaan?

0 comments:

Posting Komentar