Hanya Bisa Memandangi Lampu Temaram di Gazebo

0 comments

Rabu, 29 Februari 2012

Ah, tahun ini mungkin memang benar seperti yang aku pernah bilang. Tahun ini adalah tahun yang mungkin awal dari bagaimana merasakan beratnya hidup. Banyak yang bisa dipetik semenjak predikat sebagai siswa berganti menjadi mahasiswa. Segalanya diatur sendiri. Terutama dalam pengambilan keputusan. Dan aku, sudah berkali-kali ditatapkan pada dua situasi di mana aku harus memilih. Tidak ada yang lebih baik, kurang baik, atau lebih buruk, dan kurang buruk. Semuanya sama baiknya. Ya, tidak sekali dua kali. Malam ini, adalah kesekian kalinya aku harus memilih. Berat, itu yang kurasakan. Lagi-lagi aku disadarkan bahwa kita tidak bisa menjalani dua keberhasilan. Tidak, and absolutely imposible! Berada di antara dua pilihan. Segala pengandaian tidak akan mungkin terjadi. Aku pernah berandai, andai saja ada dua buah tanggal yang sama, atau, andai saja aku mempunyai tubuh cadangan, atau, andai saja.... ahhh, segala pengandaian yang tidak masuk akal. Kembali lagi aku diingatkan, harus satu-satu, tidak ada yang bisa dua sekaligus. Kalau bisa dua, tiga, atau empat, itu tidak sekaligus, itu pasti tergapai namun tetap bergiliran, tidak secara bersamaan. Dalam hal ini, pepatah
Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui
kurang dapat ditempatkan. Masalahnya bukan sekali kerja bisa dua atau tiga pekerjaan selesai, tapi ini lebih pada dua sisi yang nggak mungkin dikerjakan secara bersama. Di sini dibutuhkan fokus, agar hasilnya maksimal. Oh Tuhan, sesuai dengan perintah berdoa on air jam 10 malam tepat, aku tadi sudah berdoa padaMu. Semoga Engkau segera memberikan jalan terbaik untuk kami semua. Amin....
Baca Selengkapnya →Hanya Bisa Memandangi Lampu Temaram di Gazebo

087859690xxx, 10:23:23 pm / 27 02 2012

0 comments

Senin, 27 Februari 2012

Jika matamu berat memandangku, ringankanlah kakimu pergi dariku. Jika bibirmu terpaksa senyum padaku, relakanlah wajahmu tuk berpaling dariku. Jika dirimu susah untuk melupakan kesalahanku, maka senanglah lidahmu untuk menghinaku. Tapi, andai suatu hari nanti telingamu mendengar berita kematianku, ikhlaskanlah tanganmu untuk mengusap jasadku, dan bisikkan padaku sesuatu yang akan mengingatkanku. Semoga kalimat terakhirmu dapat menjadi pelita dalam kamar gelapku dan menjadi bantal ketika tidur panjangku. Maafkan atas semua kesalahanku...
Hmm..... Aku Cuma bisa tersenyum simpul membaca pesan kemarin malam itu. Walau telah lama kuhapus jejakmu, namun aku tahu bahwa itu adalah dirimu. Ya, dirimu yang dulu pernah ada di hidupku. Sudahlah, yang dulu hanyalah dulu. Tidak perlu minta maaf lagi. Aku sudah memafkan dari dulu. Oh, bukan, bukan hanya memaafkan, tapi aku juga memang telah melupakan. Kamu nggak pernah tahu kan, dampak dari semua itu baru terlihat sekarang. Semuanya menjadi terbalik sekarang. Aku menganggap semuanya sama. Tidak ada yang spesial hingga detik ini. Aku hanya bisa tersenyum melihat yang terjadi sekarang. Sudahlah tidak ada yang perlu disesali,.. Ya mungkin Tuhan sudah membukakan pikiran jernih kita masing-masing. Permintaan maaf nggak ada artinya, yang penting sekarang bagaimana kamu memperbaiki hidupmu. Pasti ada hikmah dari ini semua. Sudahlah..., bagiku kini, hidupku ya hidupku, hidupm ya hidupmu. Aku dengan duniaku, dan kamu, silahkan dengan duniamu, tanpa perlu lagi kamu kembali memasuki hidupku yang sekarang. Aku sudah berada jauh di depan, jelas aku tak ingin untuk kembali ke belakang. Urusan perasaan, jujur, memang belum ada yang mengisi hati ini. Namun bukan berarti karena belum ada yang bisa menggantikanmu. Bukan. Sama sekali bukan. Bahkan hatiku sudah lama pergi dari masa-masa itu. Aku Cuma tidak ingin mengulangi kesalahan. Aku hanya percaya sama Tuhan, tanpa harus aku ngoyo untuk mendapatkan “dia” yang aku mau. Ya just santai aja, nikmatin hidup. Aku berteman dengan siapa saja, tanpa ada perasaan apapun. Dan kamu, tidak perlu tahu tentang semua ini. Aku sudah malas untuk membahasmu. Sudahlah, kita banyak rintangannya, dan perasaanku pun sudah tidak seperti dulu lagi...
Baca Selengkapnya →087859690xxx, 10:23:23 pm / 27 02 2012

"Diamlah"!, itulah perintah dari sisi lain raga yang tumbang ini.

0 comments

Minggu, 26 Februari 2012

Aku menjadi jarang makan jika sediri. Kalau tidak ada teman makan, ya sudah, lebih baik tidak makan. Baru kalau ada teman makan, entah itu Ibu atau teman di kampus, baru aku makan. Rasanya, nafsu makan ini hilang jika aku makan sendirian. Padahal, aku telah terbiasa makan sedirian dari dulu. Apa mungkin aku mulai lelah dengan kesendirian? Apa mungkin aku mulai membutuhkan seseorang untuk aku ajak bicara? Ya, mungkin. Mungkin aku mulai bosan dengan kebohongan ini. Mungkin aku mulai lelah dengan semuanya. Dan satu yang pasti, mungkin aku juga sudah lelah, bosan, dan muak pada kepura-puraan dan kebasa-basian dalam kehidupan. Aku mulai ingin menumbangkan diriku satu-persatu, di atas puing-puing gejolak hati. Segala pertentangan batin tak akan pernah kukoarakan, karena aku yakin bahwa semuanya pasti akan membawa kebaikan untuk ke depannya.
Aku cinta padamu, Pagrango yang dingin dan sepi. Karena aku cinta pada keberanian hidup.
Bullshit!
Kalimat itu adalah kalimat penguat hati dikala aku terjatuh. Namun sesungguhnya, hati ini tak kuasa menahan ketakutan yang membara.
Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita sadari, tanpa kita ketahui. Terimalah, dan hadapilah!
"Diamlah!", itulah perintah dari sisi lain raga yang tumbang ini.
Baca Selengkapnya →"Diamlah"!, itulah perintah dari sisi lain raga yang tumbang ini.

“Stop complaining!” said the farmer

0 comments

Kamis, 23 Februari 2012

Sore ini, entah mengapa, aku merasa begitu melankolik. Aku merasa lelah dengan keadaan. Aku lelah dengan ketidaksempurnaan dari perintah-perintah yang aku berikan. Perfectsionis, entahlah. Aku cuma tidak ingin ada yang lecet sedikitpun. Aku cuma ingin yang terbaik. Mengapa mereka tidak mau mendengar? Aku lelah dengan apa yang aku berikan. Untuk apa aku mengurus yang tidak mau diurus? .................................................................................................................................... Hanya mendengarkan lagu Donna, Donna, Donna yang membuatku masih terus menerus mencoba untuk kuat bertahan.
How the winds are laughing, they laugh with all their might. Laugh and laugh the whole day through, and half the summer`s night. Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don. Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don. “Stop complaining!” said the farmer, Who told you a calf to be? Why don`t you have wings to fly with, like the swallow so proud and free?”
..................................................................................................................................... Lelah hati, lelah fisik, juga lelah pikiran. Rasa-rasanya tubuh ini tak kuasa untuk bekerja terlalu larut. Berbaring di atas awan, mungkin akan menenangkan sejenak. Sama seperti yang pernah dikatakan,
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
..................................................................................................................................... Jujur, aku memang sering tidak percaya pada orang lain, aku hanya ingin memastikan, agar semuanya menjadi yang terbaik, agar tidak ada yang kecewa, agar mereka dapat tersenyum. Aku tidak pernah bisa marah untuk ketidaksempurnaan pekerjaan mereka. Yang ada hanyalah justru aku diam, dan tentunya bad mood. Dan hari ini, mungkin semua lelahku bertumpuk menjadi satu, hingga seuntai senyuman pun tak mucul menghiasi indahnya hari ini.... .................................................................................................................................. Mungkin, memakan sebatang coklat atau sebuah ice cream akan sedikit menenangkan batin yang lelah. Oui, peut-etre. ................................................................................................................................... Dan masih kuingat, ketika aku berkata,
"Saya sangat mengagumi Soe Hok-Gie, bu..."
dan kemudian beliau menjawab,
"Bagus, jadikan itu semangatmu. Jadikan itu sebagai penghapus air matamu. Jadikan itu sebagai pembangkit senyummu.
Ya, memang itu yang selalu kuingat tiap kali aku merasa dalam keharuan seperti saat ini....
Baca Selengkapnya →“Stop complaining!” said the farmer

Sebuah Tanya

0 comments

Rabu, 22 Februari 2012

Akhirnya semua akan tiba Pada suatu hari yang biasa. Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih berbicara selembut dahulu. Memintaku minum susu dan tidur yang lelap. Sambil membenarkan letak leher kemejaku. Kabut tipis pun turun pelan-pelan. Di lembah kasih, lembah Mandalawangi. Kau dan aku tegak berdiri. Melihat hutan-hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu. Ketika kudekap kau. Dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi. Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. Kau dan aku berbicara. Tanpa kata, tanpa suara. Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita. Apakah kau masih akan berkata. Kudengar derap jantungmu. Kita begitu berbeda dalam semua. Kecuali dalam cinta. Hari pun menjadi malam. Kulihat semuanya menjadi suram. Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara. Dalam bahasa yang kita tidak mengerti. Seperti kabut pagi itu. Manisku, aku akan jalan terus. Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan. Bersama hidup yang begitu biru. Jakarta, Selasa, 1 April 1969
Baca Selengkapnya →Sebuah Tanya

MANDALAWANGI - PANGRANGO

0 comments
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu, aku datang kembali, kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu. Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna, aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan, dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku. Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi, sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada, hutanmu adalah misteri segala, cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta. Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi. Kau datang kembali. Dan bicara padaku tentang kehampaan semua.
"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar terimalah dan hadapilah"
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara, aku terima ini semua, melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu. Aku cinta padamu Pangrango, karena aku cinta pada keberanian hidup. Jakarta 19-7-1966 SOE HOK-GIE
Baca Selengkapnya →MANDALAWANGI - PANGRANGO

SOE HOK-GIE "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

0 comments
Aku sangat menyukai segalanya tentang sosok seorang SOE HOK-GIE. Bukan politik dan demonstrannya, namun tentang mimpi-mimpinya, puisi-puisinya, nada-nadanya, tentang Mandalawangi, Pangrango.. Novel yang pernah kubaca dan film yang pernah aku tonton itu tak pernah sedikitpun membuatku menyesal. Justru, aku ingin selalu membaca ataupun menontonnya lagi dan lagi. Sosok seorang Soe Hok-Gie dan kalimat-kalimatnya. Ada sebuah kalimat yang sangat aku renungkan dan mungkin juga akan menjadi keinginanku nantinya,,,
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
Baca Selengkapnya →SOE HOK-GIE "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Donna, Donna, Donna

0 comments
On a waggon bound for market there's a calf with a mournful eye. High above him there's a swallow, winging swiftly through the sky. How the winds are laughing, they laugh with all their might. Laugh and laugh the whole day through, and half the summers night. Donna, Donna, Donna, Donna. Donna, Donna, Donna, Don. Donna, Donna, Donna, Donna. Donna, Donna, Donna, Don. "Stop complaining!" said the farmer, Who told you a calf to be? Why don't you have wings to fly with, like the swallow so proud and free? Calves are easily bound and slaughtered, never knowing the reason why. But whoever treasures freedom, like the swallow has learned to fly
Baca Selengkapnya →Donna, Donna, Donna

JE NE VEUX PAS

0 comments

Senin, 20 Februari 2012

Que faire si je n'aime pas en savoir plus? Que faire si je n'aime pas être observé sur ma vie? Non, pas que je ferme. Je ne veux pas être quelqu'un qui connaît toute ma vie. Pas si facile de me connaître. Non. Par conséquent, je vais seulement parler avec des gens qui sont vraiment proches, je pense. Donc, si je vous dis, ce n'est pas nécessairement une histoire de confidentialité. En raison de quelque chose que je n'ai pas dit, on ne savait jamais, sauf les gens qui me connaissaient vraiment il ya longtemps, et déjà je crois. Non, pas si facile, à cause de ma réticence à parler de ma vie. Et mon silence ne signifie pas que je suis arrogant, mais parce que je n'ai pas envie de parler à de nouvelles personnes. Ce coeur artificiel à long à ouvrir. Oui, il n'est pas facile. Parce que j'avais l'habitude de dire non à quelqu'un d'autre. Je veux changer et de mettre fin à tout cela. Mais pourquoi jusqu'à présent n'ont pas été en mesure de?
Baca Selengkapnya →JE NE VEUX PAS

Tuhan, kenapa sekarang malah sering terjadi hal yang terbalik???

0 comments
Kenapa, Tuhan? Apa memang sekarang gantian aku yang harus merasakan digitukan? Apakah ini balasan? Aku pernah salah? Atau memang tanpa sadar aku pernah menyakitkan orang lain? Aku ketus? Aku sinis? Aku selalu membenarkan "AKU"? Aku pernah membuat orang lain sakit hati karena apa yang aku lakukan? Aku pernah membuat orang lain menangis di balik senyumnya? Katakan, Tuhan.... Katakan....... Ampuni aku kalau memang aku pernah melakukan hal-hal tersebut di atas tanpa sepengetahuanku. Sampaikan maafku pada orang-orang yang mungkin menginginkan kata maaf dariku di masa lalu. Maaf... Jangan Kau balas aku sekarang, Tuhan...dengan cara terbalik seperti ini.. Aku melakukan hal-hal yang dulu justru aku katakan padanya, aku maki padanya, aku marah padanya.. Jangan.. Cukup,,, Kalau aku salah, aku minta maaf, karena aku nggak mau akan terus seperti ini untuk hidupku di masa ini. Aku mohon, Tuhan ................
Baca Selengkapnya →Tuhan, kenapa sekarang malah sering terjadi hal yang terbalik???

Ketika Nurani Tak Sebanding dengan Kenyataan. (What should we do?)

0 comments

Minggu, 19 Februari 2012

Maafin aku ya. Awalnya aku pikir kamu sudah tau semua tentang ini. Sumpah, aku nggak pernah nyangka kalau kamu ternyata nggak tau apa-apa di balik ini semua. Ngebaca tulisanmu, aku jadi merasa gimana...gitu. Maafin aku juga yang udah bilang kaya gitu. Aku nggak bermaksud menakut-nakuti atau berpikiran negatif, tidak. Aku hanya menyangka, mengira, sekaligus memadukan logika hingga terciptalah sebuah pemikiran yang seperti itu. Aku cuma ingin ngebantu kamu, ikut nyuksesin kamu. Aku cuma ingin jadi tim sekaligus pendukungmu. Aku suport kamu, Shan... Karena aku sangat mengagumi tulisan-tulisanmu. Inget kan, aku udah bilang kalo kamu itu udah terkenal di jamannya aku SMA. Senang sekali waktu aku bisa kenal kamu, apalagi bisa deket sama kamu, ya seneng aja. Ada perasaa bangga gitu. Gak tau kenapa. Aku dulu cuma berpikir, enak aja gitu kalo suatu saat aku bisa kenal sama orang yang namanya Shahnaz yang selalu disebut-sebut. Dan emang, dugaanku nggak salah. Kamu pinter nulis. Membuat makalah, artikel, dan segala wacana, udah makanan sehari-harimu. Hal yang selalu aku takutkan dalam perkuliahan, yaitu menulis skripsi. Bagiku, kamu pasti dengan gampangnya akan lancar menulis, lha aku? Itu sebabnya aku mengagumimu.... (guduk secret admior lho yo.... Hmm). Dan saat Vincent nawarin, aku emang nggak seantusias kamu, Shan. Aku juga lagi bingung enaknya nerima tawaran itu apa nggak. Makanya aku lama ngejawabnya. Tapi ngeliat kamu yang antusias banget, makanya aku mutusin untuk berkata "oke". Waktu ternyata pkm nya udah diambil orang lain kan aku juga bilang, "yaudah nggak papa. Tapi kalo kamu mau dan emang punya ide, aku mau jadi timmu". Karena jujur ya Shan, aku nggak punya ide sama sekali buat penelitian. Nggak kaya kamu yang selalu punya ide-ide cemerlang... Ya aku minta maaf banget kalo jadinya seperti ini....
Baca Selengkapnya →Ketika Nurani Tak Sebanding dengan Kenyataan. (What should we do?)

Mengenalnya SAMA DENGAN Membuka lembaran lalu

0 comments

Kamis, 16 Februari 2012

Ahh..... aku hanya bisa meneteskan setitik air mata. Ya, mengenalnya adalah sama dengan membuka lembaran laluku. Melihat sekilas foto-fotonya. Kebudayaan, kasih sayang, dan semuanya bercampur menjadi satu. Ruwet, itu yang terjadi malam ini dalam benakku. Seakan dihantarkan menuju sebuah masa lalu yang tak pernah ingin kujumpai, lagi. Beribu niat selalu datang setiap kali aku ke sana.
Aku dilahirkan di sana, aku yakin, itulah yang menyebabkan raga ini terkadang masih ingin tinggal di sana. Berada pada kehidupan di 19 tahun yang lalu
. Indah, cuma itu yang bisa kuungkapkan. Namun, aku juga yakin, seberapa detail perasaan yang ingin kugambarkan saat ini, tetap saja, tak akan ada seorangpun yang akan mengerti.
I love My Hometown,.. T.T
Tapi, tidak, tidak mungkin, aku tidak mungkin kembali. Perasaan itu terlalu sakit. Ya, aku cinta, kebudayaan dan kehidupan di sana, namun, ahh.....sulit sekali hati ini berbicara yang sesungguhnya...
Menjadi Islam, apakah ini takdir, atau hanya kebetulan semata?
Yang jelas, satu yang aku yakini, ini sebuah jalan, jalan kebenaran. Dan Tuhan, sedang mengujiku tentang kekokohan hatiku....... Maafkan aku, Tuhan, jika masih seperti ini tiap kali sepulang dari sana. Karena walau bagamanapun, aku memang masih mencintai kehidupan dan orang-orang di sana, khususnya kehidupan di 19 tahun yang lalu... Maaf... T.T T.T T.T T.T T.T T.T T.T
Baca Selengkapnya →Mengenalnya SAMA DENGAN Membuka lembaran lalu

Ini Postingan Pertamaku.... Hikz

4 comments
Ini blogku yang baru. Setelah Blog yang lama rusak, akhirnya aku seperti tidak seberapa bersemangat buat ngeblog lagi. Padahal, udah seru banget lho ngutek-utek blog kemarin-kemarin itu. Niat hati ngutek-utek karena pengen nyobain hal baru, eh malah ngerusak sistemnya... Hikz. Sedih banget waktu 2 hari kemaren. Emang sih terkesan lebay, tapi, ya begini kalo udah terlanjur jadi blogger, kalo blognya kenapa-napa, pasti kelimpungan bingung nyembuhin. Gak pernah nyangka aku kalo semua cerita di sana yang udah ngerekam kisah perjalanan hidupku mulai dari tahun 2008, hilang. Nggak tahu lagi deh, nanti kalo moodku balik lagi buat ngeblog, aku pasti ngeblog lagi...
cuma bisa memandangi blog lama....
dan berganti dengan blog yang masih sepi,,,,krik.krik..
Baca Selengkapnya →Ini Postingan Pertamaku.... Hikz