"Diamlah"!, itulah perintah dari sisi lain raga yang tumbang ini.

Minggu, 26 Februari 2012

Aku menjadi jarang makan jika sediri. Kalau tidak ada teman makan, ya sudah, lebih baik tidak makan. Baru kalau ada teman makan, entah itu Ibu atau teman di kampus, baru aku makan. Rasanya, nafsu makan ini hilang jika aku makan sendirian. Padahal, aku telah terbiasa makan sedirian dari dulu. Apa mungkin aku mulai lelah dengan kesendirian? Apa mungkin aku mulai membutuhkan seseorang untuk aku ajak bicara? Ya, mungkin. Mungkin aku mulai bosan dengan kebohongan ini. Mungkin aku mulai lelah dengan semuanya. Dan satu yang pasti, mungkin aku juga sudah lelah, bosan, dan muak pada kepura-puraan dan kebasa-basian dalam kehidupan. Aku mulai ingin menumbangkan diriku satu-persatu, di atas puing-puing gejolak hati. Segala pertentangan batin tak akan pernah kukoarakan, karena aku yakin bahwa semuanya pasti akan membawa kebaikan untuk ke depannya.
Aku cinta padamu, Pagrango yang dingin dan sepi. Karena aku cinta pada keberanian hidup.
Bullshit!
Kalimat itu adalah kalimat penguat hati dikala aku terjatuh. Namun sesungguhnya, hati ini tak kuasa menahan ketakutan yang membara.
Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita sadari, tanpa kita ketahui. Terimalah, dan hadapilah!
"Diamlah!", itulah perintah dari sisi lain raga yang tumbang ini.

0 comments:

Posting Komentar