Sebuah Tanya
Posted by deastu at 06.49Rabu, 22 Februari 2012
Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa.
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu.
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap.
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.
Kabut tipis pun turun pelan-pelan.
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri.
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram.
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin.
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu.
Ketika kudekap kau.
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi.
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya.
Kau dan aku berbicara.
Tanpa kata, tanpa suara.
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita.
Apakah kau masih akan berkata.
Kudengar derap jantungmu.
Kita begitu berbeda dalam semua.
Kecuali dalam cinta.
Hari pun menjadi malam.
Kulihat semuanya menjadi suram.
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara.
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti.
Seperti kabut pagi itu.
Manisku, aku akan jalan terus.
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan.
Bersama hidup yang begitu biru.
Jakarta, Selasa, 1 April 1969
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 comments:
Posting Komentar