Ketika Nurani Tak Sebanding dengan Kenyataan. (What should we do?)

Minggu, 19 Februari 2012

Maafin aku ya. Awalnya aku pikir kamu sudah tau semua tentang ini. Sumpah, aku nggak pernah nyangka kalau kamu ternyata nggak tau apa-apa di balik ini semua. Ngebaca tulisanmu, aku jadi merasa gimana...gitu. Maafin aku juga yang udah bilang kaya gitu. Aku nggak bermaksud menakut-nakuti atau berpikiran negatif, tidak. Aku hanya menyangka, mengira, sekaligus memadukan logika hingga terciptalah sebuah pemikiran yang seperti itu. Aku cuma ingin ngebantu kamu, ikut nyuksesin kamu. Aku cuma ingin jadi tim sekaligus pendukungmu. Aku suport kamu, Shan... Karena aku sangat mengagumi tulisan-tulisanmu. Inget kan, aku udah bilang kalo kamu itu udah terkenal di jamannya aku SMA. Senang sekali waktu aku bisa kenal kamu, apalagi bisa deket sama kamu, ya seneng aja. Ada perasaa bangga gitu. Gak tau kenapa. Aku dulu cuma berpikir, enak aja gitu kalo suatu saat aku bisa kenal sama orang yang namanya Shahnaz yang selalu disebut-sebut. Dan emang, dugaanku nggak salah. Kamu pinter nulis. Membuat makalah, artikel, dan segala wacana, udah makanan sehari-harimu. Hal yang selalu aku takutkan dalam perkuliahan, yaitu menulis skripsi. Bagiku, kamu pasti dengan gampangnya akan lancar menulis, lha aku? Itu sebabnya aku mengagumimu.... (guduk secret admior lho yo.... Hmm). Dan saat Vincent nawarin, aku emang nggak seantusias kamu, Shan. Aku juga lagi bingung enaknya nerima tawaran itu apa nggak. Makanya aku lama ngejawabnya. Tapi ngeliat kamu yang antusias banget, makanya aku mutusin untuk berkata "oke". Waktu ternyata pkm nya udah diambil orang lain kan aku juga bilang, "yaudah nggak papa. Tapi kalo kamu mau dan emang punya ide, aku mau jadi timmu". Karena jujur ya Shan, aku nggak punya ide sama sekali buat penelitian. Nggak kaya kamu yang selalu punya ide-ide cemerlang... Ya aku minta maaf banget kalo jadinya seperti ini....

0 comments:

Posting Komentar