Islamic Book Fair

0 comments

Rabu, 11 April 2012

Setelah sejam lebih puas menjelajah di Islamic Book Fair, ada hal menarik yang membuatku ingin segera menuliskan dalam catatanku ini. Melihat ratusan muslimah berpakaian gamis, baju terusan panjang dengan jilbab yang panjang pula, bahkan ada yang lengkap dengan cadarnya, membuatku tersenyum simpul. Ya, seperti itulah memang ketentuan yang benar tentang berpakaian seorang wanita dalam Islam. Aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Kalimat di atas adalah kalimat ketika aku menjawab pertanyaan dalam lomba cerdas cermat agama Islam di SD dulu. (hehee) Benar, itu hanyalah teori. Pada penerapannya? Aku akui, aku memang belum bisa menjadi seperti itu. Menutup seluruh auratku dengan ketentuan yang benar. Masih teringat ayat yang menjelaskan bahwa akan banyak perempuan yang menutup aurat tapi sebenarnya tidak menutup aurat. Ya, tidak lain dan tidak bukan aku pastilah termasuk dalam daftar orang-orang yang seperti itu. Menutup aurat, tapi masih terlihat lekuk tubuhnya. Kalau dari aku sendiri sih sudah terbiasa dengan pro kontra dari orang-orang di sekitarku. Bukannya aku tak mau mendengar mereka, tapi, ya inilah aku. Aku, yang lebih nyaman dan percaya diri memakai baju yang sedikit press body daripada gamis, jubah, atau sejenisnya yang benar-benar longgar. Aku, yang masih mementingkan penampilan daripada kesesuaian aturan. Aku, yang masih sering membuka jilbab ketika di luar. Aku, aku, dan aku. Bagiku, selain memang kewajiban, memakai jilbab adalah media berlatih menjalankan perintah-perintahNYA. Kadang, dengan memakai jilbab, diri ini menjadi malu jika sholat telat, berkata kotor, jingkrak-jingkrak, dll. Walau memang aku masihlah tetap seperti itu kadang-kadang, namun kan ya lumayan...bisa mengontrol, walau hanya sedikit...  Aku masih berusaha menjaga diri agar tetap berada pada agama ini kok. Aku sudah diarahkan menuju agama ini, insyaallah nggak akan aku kembali pada jalan yang salah. Aku yakin Tuhan akan selalu ada di hari-hariku. Tuhan akan selalu menjagaku agar tidak berbuat hal-hal seperti dulu. Aku harus ingat, memakai jilbab adalah murni keputusanku sendiri sejak lima tahun terakhir ini, dan aku harus tetap menjaganya. Ya, biarlah orang berkata apa, tapi inilah aku, dengan segala kekuranganku. 
Baca Selengkapnya →Islamic Book Fair

Malang, 11 April 2012

0 comments
Aku tak pernah menyangka dampak membaca buku yang tak sengaja kubaca itu ternyata benar-benar positif. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit aku mulai lebih bisa menyikapi kehidupan dengan lebih dewasa, ya, semoga. Buku yang berjudul The Magic of Thinking Big karangan David J. Schwartz ini telah membuka lebar-lebar mata, hati, dan telingaku. Nggak akan lagi nggak bisa tidur hanya karena banyak beban dalam otak ini. Mengingat momen-momen yang bisa membuat tersenyum bahkan tertawa adalah sama dengan memanggil pelayan dalam otak kita untuk memberikan pelayanan dengan cara menambah lagi dan lagi energi positif dari tubuh kita. Mengubur dalam-dalam perasaan sedih atau kejadian yang dirasa menjadikan kenangan yang kurang menyenangkan adalah cara terampuh menghilangkan rasa Bad Mood. Bukan menjadi orang yang acuh dan seenaknya sendiri, namun justru membuat tubuh dan pikiran memperoleh energi positif. Sedih itu pasti dialami setiap orang, namun bagaimana cara kita menyikapi kesedihan itulah kunci dari sebuah kesuksesan. Selalu optimis dan mengingat hal yang indah-indah dapat membuat memori otak kita menjadi bersemangat untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Senang, setiap hari, itulah yang terjadi sekarang. 
Baca Selengkapnya →Malang, 11 April 2012

Malang, 9 April 2012. 20:00

0 comments

Senin, 09 April 2012

Ahh, kenapa tiba-tiba detik ini aku jadi inget hal itu lagi ya? Hmm, tiba-tiba aku keinget sama... ups, kalau dikatakan salah, ya nggak sih. Ini kan udah resiko. Kalau dibilang langkah yang aku ambil salah, gak pantes aku ngomong kaya gini, kan segala sesuatunya itu nggak boleh disesali. Namun jujur, ada perasaan kecewa. Aku mutusin buat ikut lomba ke Semarang dengan membawa sejuta harapan dan bayangan yang indah-indah. Kepengenanku dari dulu mengenai drama Prancis yang katanya akan ditampilin di Jakarta, dengan yakin aku tolak nggak ikut audisi hanya karena tampilnya berdekatan dengan lomba itu. Masih teringat waktu salah satu temanku berkata padaku tentang drama Prancis itu, “Jakarta, Pit! Ikut audisi ya!” dan aku dengan bahagianya menjawab, “Iya,iya, pasti! Nanti, info selanjutnya kasih aku kabar ya. Pengen banget aku. Jakarta, pengen ke sana!” Ya, senyuman itu terus mengembang. Hingga tiba saatnya, ternyata aku nggak bisa. Aku harus fokus lomba ke Semarang itu. Aku nggak mau dikatakan nggak bertanggungjawab pada apa yang sudah jadi komitmenku. Mengenai BCF, dengan berat hati aku mutusin untuk mundur dari kepanitiaan. Aku merasa aku harus perjuangin fakultasku. Aku harus memilih, tetap di BCF atau Semarang, tanggalnya sama. Apa salahnya sih kalau aku lebih memilih ini. Karena berbagai alasan itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk segera mundur. Beberapa tugas sudah kukerjakan dengan rapi, it’s okay, kalau aku mundur, aku ikhlas dengan yang sudah kukerjakan. Namun ternyata, aku diminta untuk tetap dalam kepanitiaan itu, namun pada hari H nya, aku boleh ke Semarang. Alhamdulillah, Tuhan kasih jalan. Padahal semaleman aku udah mikirin mateng-mateng gimana baiknya. Sama seperti waktu aku harus memilih tetap di BC4 atau ikut LA. Huwfth, pilihan yang amat berat. Annual Concert atau latihan untuk tampil di BCF pun aku tolak, karena aku merasa aku nggak tampil nantinya, aku kan nggak ada di hari H nya.. Uang pembayaran lomba sudah aku bayarkan. Bukannya aku terlihat sok kaya, bukan. Bagiku, entar di belakang aku nggak bisa makan sebulan, atau apapun, udah, biar jadi urusanku. Yang penting aku udah bayar kewajibanku. Segalanya sudah kupersiapkan, sepatu, baju, semuanya deh... aku udah kangen banget ikut lomba paduan suara. Udah lama....banget nggak ngerasain momen-momen itu. Waktu SMP, SMA, seru!, cuma itu kata yang bisa aku ungkapkan. Latihan perlatihan aku ikuti,... Doa tiap jam 10 malam pun selalu aku haturkan. Ibu juga selalu ngedukung. Indah....banget yang ada di bayanganku tentang Semarang. Ini akan jadi lomba perdanaku di bangku universitas, ke luar kota lagi. Aku kabarkan ke beberapa temanku kalau aku mau ke Semarang, doain ya rek.... Namun......... Melihat kenyataan yang ada, semakin lama semakin pupus harapanku. Semangat yang tadinya membara, perlahan-lahan menciut. Ambisi yang tadinya menggebu-gebu, perlahan-lahan hilang. Hopeless. Ya. Feelingku mengatakan, kita nggak jadi ke Semarang jika keadaannya seperti ini. Percuma, dukungan aja nggak cukup. Diperlukan pengorbanan untuk terus berlatih. Nggak cuma dalam berlatih, dalam segala hal. Perasaanku terus aja nggak enak selama latihan. Bahkan tiap kali jargon selesai latihan, saling bergandeng tangan, saling bersorak, “XXXXXXX goes to XXXXXX, sukses! Sukses! Sukses!”, yang lain berteriak demikian, hanya aku yang diam. Aku merasa, “nggak. Sepertinya nggak jadi.” Ya, dulu memang awal-awal aku sangat bersemangat mengucap jargon itu. Tapi untuk beberapa minggu terakhir ini, feelingku berkata “tidak...” Dan akhirnya, setelah pembahasan yang lumayan singkat, diputuskan untuk tidak jadi mengikuti lomba di Semarang. Kecewa, pasti. Semua yang sudah latihan pasti juga merasakan hal yang sama dalam hal ini. Kecewa, bahkan ada yang berkata, “no coment”. Memang, nggak ada yang sia-sia latihan selama ini. Toh itu pasti berguna untuk ke depannya. Oke. Aku setuju dengan pernyataan itu,bahkan sangat setuju. Ya sudahlah, aku belajar legowo. Ya mungkin emang belum saatnya kita ke sana. Nangis, ya, hahaa. Aku sengaja nggak langsung pulang malam itu. Aku menceritakan semuanya pada salah seorag temanku. Bukannya aku merasa semuanya hancur, bukan. Aku hanya merasa, aku cukup kecewa. Aku merasa, aku lelah bernyanyi. Aku ingin berhenti saja... Aku cuma pingin ngerasain tenang.... Hidup emang seperti ini, benturan-benturan akan membuat kita menjadi semakin dewasa dalam menyikapi berbagai hal di kehidupan. Tapi sekali lagi aku katakan, aku cukup kecewa. Bukannya aku sambat, bukan, sama sekali bukan. Aku ngerasa sayang aja,. Benar kata temanku, apa yang aku perjuangin selama ini, malah begini jadinya. Sedangkan yang bisa aku raih, malah aku lepasin gitu aja.. Aku tidak pernah menyesal, bagiku ini pelajaran yang amat berharga. Aku emang harus nerima resiko atas pilihan yang sudah aku ambil. Konser, lepas. Drama, lepas. Lomba, lepas. Aku jadi berpikir, apa emang seharusnya nggak perlulah aku menyiapkan segalanya secara matang ya? Kok rasa-rasanya tiap kali aku mempersiapkan sesuatu secara detail, hasilnya malah nggak karu-karuan. Maksud hati sih biar semuanya sempurna, kalau hasilnya ternyata demikian, kan ya malah eman.. Sedangkan kalau sesuatu yang ndadak-ndadak, malah lebih jadi berkesan... Berusaha berkata “iya nggak apa-apa” itu adalah nggak mungkin. Buktinya, aku jadi suntuk. Kalo inget ke matos sampe malem, ke mog muter-muter, cuma buat ngilangin suntuk, untung aja ada temen yang mau aku ajak ngegembel di sana.... Capek, dari rumah langsung tidur. Hmm, cukup dua hari itu saja. Aku masih bisa fokus bahwa aku harus belajar, wong mau UTS... Yah, lega rasanya menuliskan perasaanku yang tiba-tiba ini tadi. Aku harus yakin bahwa ada hikmah yang akan didapat atas apa yang telah terjadi. Satu yang bikin aku sadar, sholatku mulai sering telat, ngajiku udah nggak pernah, tahajudku tak lagi aku lakuin, puasaku udah sama sekali nggak pernah, kerudung semakin sering aku buka, ya, aku tidak lagi sepatuh dulu... mungkinkah Tuhan marah? itu salahku...dan mungkin juga itu yang buat aku nggak setenang dulu dalam menyikapi berbagai masalahku akhir-akhir ini. Yasudahlah, yang akan aku lakukan sekarang adalah pelan-pelan memperbaiki apa-apa yang sekiranya masih bisa diperbaiki. Toh, emang c’est la vie! Inilah hidup! “Tetaplah tersenyum karena itu jalan yang telah kau pilih.....” Ahh, lagu itu, sendu sekali...... 
Baca Selengkapnya →Malang, 9 April 2012. 20:00

^LES CHAUSSURES EST MA VIE^, SHOES IS MY LIVE

0 comments

Minggu, 08 April 2012

:> Ya, entah mengapa aku sangat tertarik pada sebuah benda yang bernama “sepatu”, apalagi high heels. Tiap kali nge-net, pasti aku sempetin buat nyari gambar-gambar high heels lewat google, atau kalo nggak gitu lewat online-shop, lalu aku simpan di sebuah file yang kuberi nama “sepatu keren”. “KEREEEEEN!!!”. Cuma itu yang bisa kuucapkan tiap kali melihat gambar-gambar itu. Aku bukan cuma mencintai high heels, namun aku menggilai. Hahahahaaaa.... Ya, bagiku, seseorang yang sedang memakai high heels itu akan terlihat keren, cantik, indah. “3 cm? Hmm, terlalu kecil tantangannya...” “5 cm? Kurang tinggi ahh...” “7 cm? Ahaa! Ini baru pas...” “12 cm? Kereeeeeen! Tapi selalu sulit cari ukurannya. Kadang juga nggak sesuai warnanya. Kadang juga, aku mikir, “nggak ketinggian apa nanti kalo aku makenya???” “15 cm? Apalagi ini....” Hahaa... aneh emang, bahkan terkesan nggak penting nulis ini semua. Wkwkwk, biarin aja, EGP kaleeeee, kan cuma buat seru-seruan aja. Ketertarikanku pada high heels sudah sejak duduk di bangku smp. Ada seorang guru PKn ku yang orangnya tinggi, putih, cantik, pokoknya enak dipandang deh. Nah, aku inget banget waktu aku ditegur cuman gara-gara aku di bangku miring-miring sambil nunduk ketika beliau menerangkan materi di depan kelas cuma gara-gara aku lagi mengagumi betapa indahnya sepatu high heels yang dipakenya itu. Heheheee. Sejak saat itu, aku selalu mengamati semua guru-guru ku yang memakai sepatu high heels di SMA,  . Pernah juga, awal-awal dibukanya MOG, aku bersama temanku yang mempunyai hobi sama denganku pulang sekolah (waktu itu aku smp nya SMP 1, jadi kan deket jalan dari Lawu ke MOG) nggak pulang dulu, tapi mampir ke MOG, ke Center Point. Woow!! Gilaaa! Kita nyobain banyak high heels di sana. (Cuma nyoba’in). Diliatin banyak orang? Gak ngurus... Yang penting kita seneng. Tapi kesenangan itu hanya sesaat. Tiba-tiba satpam MOG menghampiri kami yang sedang mencoba sepatu, “Adek, pelajar berseragam nggak boleh masuk sini”. “Tapi pak, kita udah jam pulang kok.” “Ya, tapi tetap saja, nggak boleh...” Hmm, tanpa pikir panjang, aku dan temanku langsung keluar dari sana. Malu, cuma itu yang kita rasakan. (hahaa) Ada lagi waktu aku ada di Bali, mana tau lah aku gimana yang namanya Museum di Renon itu. Ya aku pikir kaya museum biasa gitu. Tapi ternyata, jarak dari parkiran ke Museum itu lumayan jauh, dan aku pake sendal high heels.  Awalnya aku ngebetah-betahin jalan di batu-batu gitu. Tapi lama-lama, bah, gak ngurus aku, bah diwasno wong, bah, aku nyeker ndik rumput-rumput. Lha kuesel e....  Pas aku lewat, ada orang yang bilang, “Wow, tinggi banget nih cewek!”. Hmm, aku langsung berpikir, “Aduh, kayanya penampilanku bagaikan tiang listrik deh, udah tinggi, makin tinggi aja pakai sendal kaya gini. Huwfth” -.- Dulu aku juga pernah bilang sama temenku bahwa cita-citaku adalah bekerja di tempat yang mewajibkan aku memakai sepatu high heels. Cita-cita yang aneh... (ini tanggepan mereka). Tapi ternyata, kecintaanku pada high heels semakin lama semakin besar. Tapi aku ya sadar diri dong, semua itu ada tempat dan waktunya. Kapan harus pake high heels, kapan harus pake sepatu sporty, kapan musti pake sendal jepit... Heheheheheheeee Ini beberapa koleksiku, nggak semuanya sih... Dan ini beberapa gambar yang aku suka, masih banyak lagi sih sebenernya... Keren kaaaaan?????
Baca Selengkapnya →^LES CHAUSSURES EST MA VIE^, SHOES IS MY LIVE

Malang, 6 April 2012 / 21:30

0 comments
Terdengar goresan air mata di penghujung antara kelelahan dan kebangkitan Tahukah kau, aku di sini menjerit dalam kesunyian Menyapu segala upaya Membangkitkan segala kenistaan Lampu-lampu berkilauan seakan mencoba Menepis simfoni yang luka Lelah tak berobat Geming tak berdawai Gelora tak berujung Jika dikata selesai, tidak Kecewa, pasti Namun, mawar tetaplah mawar Merubahnya menjadi melati, Bukanlah sebuah kemuliaan Namun, sedap malam masih tetap berdendang Meresap ke dalam sukma. Dan kalian ? Tertawalah. Karena aku, hanya akan tersenyum simpul.
Baca Selengkapnya →Malang, 6 April 2012 / 21:30

Happy Birthday, My Sweety.... Mmmmuach!

0 comments
Bener-bener bahagia hari ini. Memanjakannya adalah hal yang bisa membuatku bahagia, bahkan sangat bahagia. Apalagi tinggal beberapa jam lagi adalah hari ultahnya. Memang sengaja aku keluar dengannya, mengajaknya bermain di time zone, membelikannya mainan yang dia inginkan, menyuapinya, mengajaknya bermain, membelikannya kue, mendengarkan cerita-cerita ocehan dari mulut kecilnya, dan semuanya. Senang sekali bisa berdua dengannya. Tak pernah sedetikpun melewatkan waktu bersamanya tadi. Menikmati setiap tingkah lakunya. Sayaaaaaaaaang banget. Hahaaaa. Pernah semuanya jadi sedikit marah hanya karena aku yang selalu memanjakannya. Hehe. Bukannya kenapa, tapi memang aku selalu memanjakannya, membelikan apapun yang dia mau. Aku nggak mau dia menangis hanya karena dilarang untuk melakukan atau membeli sesuatu. Ya, memang, aku memang memanjakannya, karena aku sayang banget sama dia. Memeluknya ketika dia menangis adalah hal yang cukup nyaman bagiku. Tidak jarang, setiap gajian, pasti ada aja yang aku kasih buat dia. Entah itu mengajaknya jalan-jalan, membeli mainan, atau hanya sekedar membawakan kue. Senyumnya adalah kebahagiaanku. Tangisnya adalah kesedihanku. Aku nggak pernah membiarkan dia disakiti. Posesif? Bukan. Buat apa posesif, toh dia bukan tanggung jawabku. Aku hanya menyayanginya dan tidak ingin ada yang melukainya. Happy Birthday, My Baby.... Semoga jadi anak yang pinter, sholeh, berbakti pada kedua orang tua, jadi pemimpin yang handal, dan semuanya yang baik-baik aja deh. Mbak sayaaaaaaaaaaaang banget sama kamu. “Muhammad Alief Richies Ariyudha Maulidan” “6 April”
Baca Selengkapnya →Happy Birthday, My Sweety.... Mmmmuach!

Hmm, mungkin inilah saatnya aku harus sedikit menoleh ke belakang. Kembali pada kegiatan, ataupun momen-momen, ataupun orang-orang yang bisa mengembalikan senyumku...

0 comments
Malam ini aku benar-benar kecewa. Tidak ada yang aku sesali, tidak ada yang salah. Toh anggep aja ini sebagai pengalaman... Special thank’s to Annisa Lazuardi, yang bersedia menampung tetesan air mataku pada bahunya. Entah kenapa tiba-tiba muncul pemikiranku untuk mampir ke kosannya setelah pulang dari rapat tadi. Mungkin ini adalah puncak dari segala yang tidak aku ungkapkan di dalam hati selama ini. Ya terserah pada siapapun yang bila berkata bahwa postinganku lebay, banyak sambat, atau apalah. Toh yang tau hatiku ya cuma aku. Sudah kesekian kalinya aku di perjalanan pulang menutup helm dan menangis di dalamnya. Aku harap tadi adalah yang terakhir kalinya aku seperti itu. Orang yang bisa membaca ini dengan bijaksana dan lebih peka, pasti bisa merasakan bahwa ini bukanlah terlalu berlebihan. Tentang kepelikan yang terjadi sekarang, tentang pandangan, tentang kesakitan. Untuk apa aku mengada-ada? Tidak. Untuk apa coba aku sampai menjadi lebih diam jika memang tidak ada apa-apa sebenarnya. Bukannya aku juga lantas membeberkan segalanya di sini untuk mendapat perhatian, bukan. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang ingin aku tulis. Untuk apa sih aku memperbesar masalah? Justru aku ingin mengecilkan masalah.. Aku nggak bisa mengatakan semuanya. Ya cukup tadi itu, segalanya tak sengaja aku luapkan. Yah, lega, lumayan. Bisa mengatakan apa yang ada di hati ini. Aku adalah aku. Aku dengan caraku. Terserah mereka mau berkata apa. Aku diam bukan berarti badmood. Aku diam bukan berarti tidak mendengar. Aku diam karena aku merasa untuk apa berdebat? Toh aku tetaplah aku, yang tidak pernah berkata mana yang benar mana yang salah karena aku menilai semuanya pasti ada sisi positif dan negatifnya. (menghela nafas) Mungkin benar kata mereka, sedikit aja kalau aku mau menoleh ke belakang, masih ada mereka. Ya, mereka yang akan selalu tersenyum dan berkata padaku, “kembalilah, Pit. Kita masih ada di sini, untukmu”. Aku jadi teringat kalimat dalam puisi Soe Hok Gie, hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita ketahui, terimalah, dan hadapilah.
Baca Selengkapnya →Hmm, mungkin inilah saatnya aku harus sedikit menoleh ke belakang. Kembali pada kegiatan, ataupun momen-momen, ataupun orang-orang yang bisa mengembalikan senyumku...

Malang, 3 April 2012

0 comments

Selasa, 03 April 2012

Lihatlah.... hari berganti. Namun tiada seindah dulu... Datanglah, aku ingin bertemu. Untukkmu, aku bernyanyi... Untuk “*y*h” tercinta, aku ingin bernyanyi, walau air mata di pipiku.. ....... Ya, setiap kali aku dilanda masalah, rasa-rasanya cuma lagu itu yang bisa membuatku yakin dan tersadarkan bahwa dialah sosok yang sangat aku butuhkan hingga kini. Kadang aku berfikir, pernahkah ia mengingatku? Pernahkah ketika aku memikirkannya diapun memikirkanku? Dan di saat-saat seperti ini tiba-tiba perasaan rindu itu menyeruak. Ingin sekali aku berada dalam pelukannya, merasakan hangat tubuhnya, berada dalam dekapannya untuk sejenak melepas tangis di dadanya. Suatu fenomena yang nggak pernah aku rasakan. Bahkan ketika sekarang satu-satunya orang yang selalu aku jadikan tumpuan dalam setiap masalahku harus berpisah denganku, rasa-rasanya hilang sudah dua orang pelindungku. Aku tau, aku nggak sendirian. Masih ada teman-temanku di sini, masih ada saudara-saudaraku di sini, masih ada banyak orang di sini. Ya, aku tau. Aku mengerti itu. Namun, tetap saja aku merasa kita nggak lagi utuh.. Biarpun orang berkata A, B, C, D, E, hingga Z padaku, tetap saja, hanya aku, pikiranku, hatiku, dan Tuhan yang tau. Terserah kalau ada yang bilang tulisan ini terlalu lebay, terserah. Masalah suka nggak suka, pilih-pilih temen, itu hak setiap individu. Toh aku hormat pada semuanya. Aku akan tetap belajar menghargai orang lain. Terserah mereka mau menghargai aku atau tidak. Itu hak setiap manusia. Di setiap latihan fisikku, aku senang melakukannya, karena bagiku saat itulah aku bisa meluapkan kepenatanku pada setiap keringat yang menetes dari dahiku. Puas rasanya. Pikiran menjadi terkalahkan oleh rasa lelah. Malam ini, aku sedikit marah dengan diriku sendiri. Mengapa secepat ini moodyku muncul lagi. Aneh, kenapa aku sensitif banget, gampang sendu. Aku nggak suka aku yang seperti ini. Itulah salah satu alasannya kenapa aku pengen banget ikut olahraga bela diri, biar aku nggak gampang nangis, biar hatiku kuat, biar aku nggak jadi orang yang moody. Segala yang ingin kukatakan telah kukatakan di sepanjang jalan pulang tadi. Untung aja ada kaca helm, jadi nggak keliatan kalo aku lagi kenapa-kenapa. Setelah ini, aku mau sholat, agar bisa lebih tenang...
Baca Selengkapnya →Malang, 3 April 2012

Well, BONJOUR A TOUS......!!!!

0 comments

Senin, 02 April 2012

Well, BONJOUR A TOUS......!!!! #pasang imot senyum selebar-lebarnya# Huwth, kangen banget nggak posting di sini. Terimakasih kepada beberapa temanku yang sempet sms, mention, bahkan berkata langsung menanyakan hal yang sama. “Kapan posting lagi??? Kok blognya sepi...?” Hahaaa... Aku pikir nggak ada yang peduli. Tapi ternyata masih ada yang mau membaca blog yang agak-agak nggak penting ini. Hehe, makasih banyak ya kawan-kawan. Oke, akan aku jelaskan mengapa baru sekarang aku update postingan lagi. Faktor pertama adalaaaaaah... jreng.jreng.jreng... Aku nggak punya pulsaaaaa *logat pacar kimi*. Iya nih, sekarang baru aku mikir-mikir, ngapain ya aku dulu nafsu banget buat beli modem smart friend yang katanya buat orang-orang yang merasa kurang smart itu, ngapain gitu lho. Aku pake inet jarang-jarang. Kalo nggak fb an, twitter an, google picture, ato blog. Paling banter sih kalo ada tugas gitu baru browsing yang penting-penting. Ato kalo nggak gitu ya cari referensi soal, atau email an. Setelah itu, nothing. Sempet sih mau daftar kelas bisnis online waktu itu, syaratnya yang penting punya lapy and modem. Tapi setelah aku pikir-pikir, nggak dulu deh. Nah, berati, hanya dengan wifi, selesai kan? Ya meskipun aku bakal kaya dulu lagi, berat ngebawa lapynya. Tapi, lebih eman lagi kalo aku cuma pake duwit 50 ribu buat isi pulsa modem yang nantinya hanya aku pake begituan, paling yang keliatan penting karena kepake buat download di youtube. Berasa sayang gitu kalo aku mikir bahwa sebenernya masih ada pemanfaatan yang lebih penting untuk uang 50 rb itu. Heheheheee Next, alasan kedua, jujur, aku lumayan ngerasa gimana....gitu waktu ada beberapa orang yang bilang, “blogmu galau mulu”, “blogmu nggak penting”, dan semacamnya. Ya, urusan pro ataupun kontra, itu hak setiap individu. Namun, urusan sedikit jadi sakit ati, berasa down, berasa malu ataupun berasa gimana....gitu, itu kan ya hak setiap individu juga kan? C’est vrai ou faux mes amis? Nah, aku jadi males aja kalo entar orang bilang tulisanku banyak sambatnya atau semacamnya lah. Entar disangkanya hidupku nggak pernah bahagia. Hahahahahaaha. Padahal sebenernya yang aku tulis di sini ya sekedar ungkapan perasaanku aja. Entah kenapa aku lebih bisa banyak nulis hal-hal yang mellow daripada menulis tentang ungkapan kebahagiaan. Karena bagiku kebahagiaan cukup hatiku aja yang tau. *aseeeeeek*. Ya meskipun tetep aja pelajaran yang aku dapatkan sampai saat ini bahwa nggak semua orang bisa mengerti orang lain. Namun, bagi kita sendiri, mencoba belajar untuk mengerti orang lain, hukumnya wajib. Wajib Ain! (senyum simpul). Iya, kenapa wajib? Karena dengan mencoba mengerti orang lain, maka kita akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam hidup ini. Apa sih yang dicari selain kedamaian dalam hidup ini? Nggak ada lagi kan? Uang? Kerjaan? Ketenaran? Atau apa? Ahh, itu semua hanya penyedap. Bumbu utamanya adalah “kedamaian”. Dengan kedamaian, bahagia pasti akan tercipta.  Sebetulnya, aku tetep kok menulis cerita-cerita dalam hidupku selama ini, cuman ya di diary.. Segala sesuatu yang aku tulis di diary itu berati emang bener-bener private, hanya aku, hatiku, dan Tuhan yang boleh tau. Jadi kalau aku nulis di blog, berarti tulisan ini masih layak untuk diketahui orang lain. Sepertinya, hanya itu sih alasan-alasannya. Dan sekarang nih yang bener-bener pengen aku tulis kali ini....  Senin, 02 April 2012. Hidupku masih seperti yang dulu, kadang naik, kadang turun. Aku sempet pengen berhenti nyanyi. Di PSM Univ, aku udah nggak aktif. PSM Fak, yah, begitulah. PSM Prancis, hmm.. Aku merasa capek aja. Aku juga kadang malu dengan diriku sendiri. Aku nggak bisa nahan nafsuku untuk membeli barang-barang yang mahal. Emang sih tuh duwit juga hasil kerjaku, uang uangku juga. Aku ya udah ngasih berapapun yang ibu mau. Namun, tetep aja, aku merasa dengan uang ini, harusnya aku nggak usah terlalu lah untuk membeli barang-barang itu. Toh harga yang dibawah itu pasti ada. Walaupun kewajiban sudah selalu kunomor satukan, walupun mereka bilang aku masih dalam batas wajar dan normal, walaupun ibu juga bilang ya nggak apa-apa, walaupun aku juga masih bisa mengatur uang ini, walaupun tetep uang itu aku sisihkan untuk tabungan perbulannya, walaupun tiada henti-hentinya aku mengingatkan diriku sendiri untuk selalu sodaqoh, tapi pada kesimpulannya tetep aja aku selalu merasa sedikt menyesal begitu setelah membeli barang-barang yang aku beli hanya karena alasan suka beli yang harganya sedikit mahal namun kualitas oke. Huwfth, kadang aku merasa diriku sedikit keterlaluan... Aku juga udah jarang dapet tawaran tampil nyanyi, lagi sepiiii... Nggak payu... hahaa. Yah, mungkin karena aku juga jarang banget sekarang buat nyari info-info lomba kali ya? Habisnya, aku pengen berusaha mendewakan kuliah, sebagai bentuk tanggung jawabku pada beasiswa. Aku juga masih pengen mahir cas cis cus bahasa Inggris dan Prancis. Jadi inget pesan motivator itu, kalau kamu menginginkan sesuatu, jangan hanya dipikirkan dan direncanakan. Tapi mulailah, laksanakanlah. Mulai, nanti gimana-gimana selanjutnya dipikir sambil jalan aja. Layaknya orang yang mau masuk kamar mandi. Selalu tanpa pikir panjang kan? Masa ada orang yang mau masuk kamar mandi mikir nanti enaknya gosok gigi dulu atau keramas dulu ya? Odolnya pake apa ya enaknya? Ehm, keramasnya di akhir atau di awal ya? Nggak pernah kan kita mikir seperti itu? Toh nanti kalau ternya handuknya ketinggalan, ya keluar aja lagi, ambil, lalu masuk lagi. Beres kan? Lanjut lagi mandinya... Sama, kalau ternyata di tengah-tengah perjalanan kita dapetin sesuatu yang agak nggak beres, ya nggak apa-apa. Kerjain aja. Toh semuanya pasti akan ada jalan keluarnya. Sampai saat ini aku belum ngedengerin conversation ataupun belajar soal-soal TOEIC yang udah aku beli waktu itu. (menghela nafas) Oh iya, aku sekarang kerja lagi. Tapi emang aku sengaja cuma satu hari dalam seminggu, itupun cuma Jum’at, Sabtu, atau Minggu. Aku keteteran kalau musti kerja di hari efektif seperti dulu. Masih sama sih, ngelesin. Namun, yang kali ini beda, aku ngelesin sempoa dan bahasa Inggris. Hihihihihiiii, kangen banget nggak pegang sempoa selama hampir 9 tahun ini. Seneng banget rasanya waktu dapet panggilan sempoa itu. Maklumlah, yang di lembaga waktu itu kan aku tolak, habisnya, waktunya nabrak sih. Makanya yang private kali ini aku terima, ngajarin anak kecil lagi, aduh, seneng banget deh. Hehee. Walaupun gaji juga sangat berbeda jauh dari yang dulu, tapi nggak apa-apa, masih lumayan kok buat beli bensin ataupun pulsaku sendiri. Jujur, aku nggak pengen minta uang ibu untuk urusan lainnya, kan urusan makan udah gratis... Aku hanya berusaha nyelesein satu-persatu kegiatan yang sudah terlanjur aku ambil untuk satu tahun ini. Ya sebagai bentuk tanggung jawabku sih. Itung-itung juga biar ngerasain gimana enak dan nggak enaknya kehidupan di dunia kampus itu. Heheee Okey, kalo ngomongin soal c*nt*, aku cuma bisa tersenyum simpul. Wkwkwkwk. Emang bener ya lirik dalam lagu itu, “hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga. Hai, begitulah kata para pujangga”. Iya emang, dengan adanya cinta, hari terasa begitu berwarna, begitu indah dan begitu syahdu. #lebay beud# -.-“ Masih kuingat kalimatku waktu itu, jika semua orang berkata “tidak” padamu, di sini, ada aku yang siap untuk berkata “iya”, untukmu. Itu bukti keseriusan hatiku. Aku nggak main-main loh. Dulu emang, waktu SMA yang namanya pacaran ya semacam itu. Namun sekarang, persepsiku tentang apakah itu “pacaran” telah berbeda. Aku lebih mikir ini untuk masa depan. Nggak ada kata main-main lagi. Kalau selama ini tiap kali aku pacaran, itu karena mereka yang suka aku. Itu juga karena dikenalin. Belum pernah yang sama-sama saling suka ataupun aku yang emang suka. Nah yang sekarang justru aku yang suka sama seseorang. Aku nggak bisa apa-apa selain berdoa. Mungkin aku juga nggak akan seberani itu. Aku merasa bahwa kuliah masih lebih penting. Aku harus ngaca siapa aku, bisa apa aku. Dia sangat hebat, pinter, tenar, sedangkan aku? Aku terlihat kecil dibanding dia. Mungkin nanti kalau aku sudah berprestasi, punya kerjaan mapan, disegani orang, jadi orang penting, dsb, baru aku akan mencoba meraihnya. Hahaaa, munak juga sih. Dan terkesan sia-sia. Cemen. Tapi, ya emang seperti itulah yang aku pikirkan. Meskipun mereka bilang aku terlalu baik untuknya, namun bagiku, dia akan menjadi yang spesial untukku. Jujur, meskipun dengan alasan-alasan di atas, andaikan dia siap, aku mau. Ya, aku pasti mau. Aku siap, aku siap menjadi orang yang akan mendampinginya dalam keadaan apapun. (kadang aku tersadar, ngeri deh baca kalimat-kalimatku barusan). Aku nggak akan mainin hatinya. Namun, ya kembali lagi, entah dia tau atau tidak. Aku tidak berani berkata aku mencintainya, karena itu terlalu berat untuk dipertanggungjawabkan. Aku hanya berkata bahwa aku menyayanginya Ya, aku menyayangimu. Semoga Tuhan selalu memberikan hal-hal yang nggak pernah disangka sebelumnya. 
Baca Selengkapnya →Well, BONJOUR A TOUS......!!!!