Hmm, mungkin inilah saatnya aku harus sedikit menoleh ke belakang. Kembali pada kegiatan, ataupun momen-momen, ataupun orang-orang yang bisa mengembalikan senyumku...
Posted by deastu at 21.25Minggu, 08 April 2012
Malam ini aku benar-benar kecewa. Tidak ada yang aku sesali, tidak ada yang salah. Toh anggep aja ini sebagai pengalaman...
Special thank’s to Annisa Lazuardi, yang bersedia menampung tetesan air mataku pada bahunya. Entah kenapa tiba-tiba muncul pemikiranku untuk mampir ke kosannya setelah pulang dari rapat tadi.
Mungkin ini adalah puncak dari segala yang tidak aku ungkapkan di dalam hati selama ini.
Ya terserah pada siapapun yang bila berkata bahwa postinganku lebay, banyak sambat, atau apalah. Toh yang tau hatiku ya cuma aku.
Sudah kesekian kalinya aku di perjalanan pulang menutup helm dan menangis di dalamnya. Aku harap tadi adalah yang terakhir kalinya aku seperti itu.
Orang yang bisa membaca ini dengan bijaksana dan lebih peka, pasti bisa merasakan bahwa ini bukanlah terlalu berlebihan. Tentang kepelikan yang terjadi sekarang, tentang pandangan, tentang kesakitan. Untuk apa aku mengada-ada? Tidak. Untuk apa coba aku sampai menjadi lebih diam jika memang tidak ada apa-apa sebenarnya. Bukannya aku juga lantas membeberkan segalanya di sini untuk mendapat perhatian, bukan. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang ingin aku tulis. Untuk apa sih aku memperbesar masalah? Justru aku ingin mengecilkan masalah..
Aku nggak bisa mengatakan semuanya. Ya cukup tadi itu, segalanya tak sengaja aku luapkan. Yah, lega, lumayan. Bisa mengatakan apa yang ada di hati ini. Aku adalah aku. Aku dengan caraku. Terserah mereka mau berkata apa. Aku diam bukan berarti badmood. Aku diam bukan berarti tidak mendengar. Aku diam karena aku merasa untuk apa berdebat? Toh aku tetaplah aku, yang tidak pernah berkata mana yang benar mana yang salah karena aku menilai semuanya pasti ada sisi positif dan negatifnya.
(menghela nafas)
Mungkin benar kata mereka, sedikit aja kalau aku mau menoleh ke belakang, masih ada mereka. Ya, mereka yang akan selalu tersenyum dan berkata padaku, “kembalilah, Pit. Kita masih ada di sini, untukmu”.
Aku jadi teringat kalimat dalam puisi Soe Hok Gie, hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita ketahui, terimalah, dan hadapilah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 comments:
Posting Komentar