Malang, 9 April 2012. 20:00

Senin, 09 April 2012

Ahh, kenapa tiba-tiba detik ini aku jadi inget hal itu lagi ya? Hmm, tiba-tiba aku keinget sama... ups, kalau dikatakan salah, ya nggak sih. Ini kan udah resiko. Kalau dibilang langkah yang aku ambil salah, gak pantes aku ngomong kaya gini, kan segala sesuatunya itu nggak boleh disesali. Namun jujur, ada perasaan kecewa. Aku mutusin buat ikut lomba ke Semarang dengan membawa sejuta harapan dan bayangan yang indah-indah. Kepengenanku dari dulu mengenai drama Prancis yang katanya akan ditampilin di Jakarta, dengan yakin aku tolak nggak ikut audisi hanya karena tampilnya berdekatan dengan lomba itu. Masih teringat waktu salah satu temanku berkata padaku tentang drama Prancis itu, “Jakarta, Pit! Ikut audisi ya!” dan aku dengan bahagianya menjawab, “Iya,iya, pasti! Nanti, info selanjutnya kasih aku kabar ya. Pengen banget aku. Jakarta, pengen ke sana!” Ya, senyuman itu terus mengembang. Hingga tiba saatnya, ternyata aku nggak bisa. Aku harus fokus lomba ke Semarang itu. Aku nggak mau dikatakan nggak bertanggungjawab pada apa yang sudah jadi komitmenku. Mengenai BCF, dengan berat hati aku mutusin untuk mundur dari kepanitiaan. Aku merasa aku harus perjuangin fakultasku. Aku harus memilih, tetap di BCF atau Semarang, tanggalnya sama. Apa salahnya sih kalau aku lebih memilih ini. Karena berbagai alasan itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk segera mundur. Beberapa tugas sudah kukerjakan dengan rapi, it’s okay, kalau aku mundur, aku ikhlas dengan yang sudah kukerjakan. Namun ternyata, aku diminta untuk tetap dalam kepanitiaan itu, namun pada hari H nya, aku boleh ke Semarang. Alhamdulillah, Tuhan kasih jalan. Padahal semaleman aku udah mikirin mateng-mateng gimana baiknya. Sama seperti waktu aku harus memilih tetap di BC4 atau ikut LA. Huwfth, pilihan yang amat berat. Annual Concert atau latihan untuk tampil di BCF pun aku tolak, karena aku merasa aku nggak tampil nantinya, aku kan nggak ada di hari H nya.. Uang pembayaran lomba sudah aku bayarkan. Bukannya aku terlihat sok kaya, bukan. Bagiku, entar di belakang aku nggak bisa makan sebulan, atau apapun, udah, biar jadi urusanku. Yang penting aku udah bayar kewajibanku. Segalanya sudah kupersiapkan, sepatu, baju, semuanya deh... aku udah kangen banget ikut lomba paduan suara. Udah lama....banget nggak ngerasain momen-momen itu. Waktu SMP, SMA, seru!, cuma itu kata yang bisa aku ungkapkan. Latihan perlatihan aku ikuti,... Doa tiap jam 10 malam pun selalu aku haturkan. Ibu juga selalu ngedukung. Indah....banget yang ada di bayanganku tentang Semarang. Ini akan jadi lomba perdanaku di bangku universitas, ke luar kota lagi. Aku kabarkan ke beberapa temanku kalau aku mau ke Semarang, doain ya rek.... Namun......... Melihat kenyataan yang ada, semakin lama semakin pupus harapanku. Semangat yang tadinya membara, perlahan-lahan menciut. Ambisi yang tadinya menggebu-gebu, perlahan-lahan hilang. Hopeless. Ya. Feelingku mengatakan, kita nggak jadi ke Semarang jika keadaannya seperti ini. Percuma, dukungan aja nggak cukup. Diperlukan pengorbanan untuk terus berlatih. Nggak cuma dalam berlatih, dalam segala hal. Perasaanku terus aja nggak enak selama latihan. Bahkan tiap kali jargon selesai latihan, saling bergandeng tangan, saling bersorak, “XXXXXXX goes to XXXXXX, sukses! Sukses! Sukses!”, yang lain berteriak demikian, hanya aku yang diam. Aku merasa, “nggak. Sepertinya nggak jadi.” Ya, dulu memang awal-awal aku sangat bersemangat mengucap jargon itu. Tapi untuk beberapa minggu terakhir ini, feelingku berkata “tidak...” Dan akhirnya, setelah pembahasan yang lumayan singkat, diputuskan untuk tidak jadi mengikuti lomba di Semarang. Kecewa, pasti. Semua yang sudah latihan pasti juga merasakan hal yang sama dalam hal ini. Kecewa, bahkan ada yang berkata, “no coment”. Memang, nggak ada yang sia-sia latihan selama ini. Toh itu pasti berguna untuk ke depannya. Oke. Aku setuju dengan pernyataan itu,bahkan sangat setuju. Ya sudahlah, aku belajar legowo. Ya mungkin emang belum saatnya kita ke sana. Nangis, ya, hahaa. Aku sengaja nggak langsung pulang malam itu. Aku menceritakan semuanya pada salah seorag temanku. Bukannya aku merasa semuanya hancur, bukan. Aku hanya merasa, aku cukup kecewa. Aku merasa, aku lelah bernyanyi. Aku ingin berhenti saja... Aku cuma pingin ngerasain tenang.... Hidup emang seperti ini, benturan-benturan akan membuat kita menjadi semakin dewasa dalam menyikapi berbagai hal di kehidupan. Tapi sekali lagi aku katakan, aku cukup kecewa. Bukannya aku sambat, bukan, sama sekali bukan. Aku ngerasa sayang aja,. Benar kata temanku, apa yang aku perjuangin selama ini, malah begini jadinya. Sedangkan yang bisa aku raih, malah aku lepasin gitu aja.. Aku tidak pernah menyesal, bagiku ini pelajaran yang amat berharga. Aku emang harus nerima resiko atas pilihan yang sudah aku ambil. Konser, lepas. Drama, lepas. Lomba, lepas. Aku jadi berpikir, apa emang seharusnya nggak perlulah aku menyiapkan segalanya secara matang ya? Kok rasa-rasanya tiap kali aku mempersiapkan sesuatu secara detail, hasilnya malah nggak karu-karuan. Maksud hati sih biar semuanya sempurna, kalau hasilnya ternyata demikian, kan ya malah eman.. Sedangkan kalau sesuatu yang ndadak-ndadak, malah lebih jadi berkesan... Berusaha berkata “iya nggak apa-apa” itu adalah nggak mungkin. Buktinya, aku jadi suntuk. Kalo inget ke matos sampe malem, ke mog muter-muter, cuma buat ngilangin suntuk, untung aja ada temen yang mau aku ajak ngegembel di sana.... Capek, dari rumah langsung tidur. Hmm, cukup dua hari itu saja. Aku masih bisa fokus bahwa aku harus belajar, wong mau UTS... Yah, lega rasanya menuliskan perasaanku yang tiba-tiba ini tadi. Aku harus yakin bahwa ada hikmah yang akan didapat atas apa yang telah terjadi. Satu yang bikin aku sadar, sholatku mulai sering telat, ngajiku udah nggak pernah, tahajudku tak lagi aku lakuin, puasaku udah sama sekali nggak pernah, kerudung semakin sering aku buka, ya, aku tidak lagi sepatuh dulu... mungkinkah Tuhan marah? itu salahku...dan mungkin juga itu yang buat aku nggak setenang dulu dalam menyikapi berbagai masalahku akhir-akhir ini. Yasudahlah, yang akan aku lakukan sekarang adalah pelan-pelan memperbaiki apa-apa yang sekiranya masih bisa diperbaiki. Toh, emang c’est la vie! Inilah hidup! “Tetaplah tersenyum karena itu jalan yang telah kau pilih.....” Ahh, lagu itu, sendu sekali...... 

0 comments:

Posting Komentar