Jumat, 27 Juli 2012

1 comments

Kamis, 26 Juli 2012

Selamat ulang tahun, mas. *menghela nafas*. Ingin sekali kuucapkan kalimat ini untuknya. Namun, hati kecilku berkata, tidak. Aku merasa lebih baik tidak mengucapkan. Bukannya sombong. Tapi, entah kenapa, rasa-rasanya, lebih baik tidak dulu. Yang penting kan aku ingat, dan tulus aku mendoakan yang baik-baik untuknya. Jujur, sesekali aku masih sering teringat akan hal itu. *menghela nafas lagi*. Bagiku, ini merupakan pelajaran teramat berharga tentang bagaimana menghargai perasaan orang lain. *tersenyum simpul*. Mungkin ini sebuah cerminan. Aku dulu seperti itu, jadi ketika sekarang giliran aku yang mendapatkan hal ini, yasudah. Anggap saja ini sebuah peringatan agar tidak berlaku seperti dulu lagi. Oke. Aku yakin bisa melewati masa-masa ini, aku hanya perlu waktu. Ya, waktu. Dan semuanya pasti akan segera menjadi baik-baik saja. Amin. Beberapa hari ini, aku tiba-tiba teringat akan teman-temanku. Teman-teman x.5, teman-teman bahasa, dan semuanya. Aku rindu pada mereka. Mereka yang pernah tertawa dan menangis bersamaku. Pada Faris, Hita, Ayu, Asin, Ria, dan lainnya. Memang mereka masih ada, namun kita tidak bisa seperti dulu. Kita sudah sibuk dengan kesibukan masing-masing. Aku benar-benar ingin berkumpul bersama mereka, sejenak saja, untuk bercanda. Untuk mas di Bali, aku benar-benar rindu. Tagname di FB dari mas tentang kerinduannya padaku membuat aku semakin kangen. SMS tentang buka puasa yang sekali-sekali dikirimkannya juga menambah rinduku. Aku tahu, walaupun di sana banyak orang yang nemenin, ada keluarga dari ayah, ada teman dari Malang dan keluarganya, ada teman-teman lama mas yang di Bali, ada rekan-rekan kerjanya yang baik, ada semuanya. Namun aku juga tahu, dia pasti sering merasa sepi. Sama seperti aku, aku yang sering merasa sendiri di dalam keramaian ini, aku yang selalu teringat dia di saat sedih maupun bahagia. Hal yang paling aku inginkan adalah berkumpul bertiga. Ya, hanya bertiga saja. Sampai kapan kita akan hidup sendiri-sendiri. Bisakah kita kembali hidup bersama suatu saat nanti? Aku memang mulai terbiasa tanpa dua orang lelaki yang aku anggap sebagai penjaga dalam hidupku ini. Aku masih selalu yakin, mereka berdua pasti akan selalu menyimpan namaku di benaknya. *menghela nafas*. Lebaran kali ini aku berharap bisa berkumpul lagi, walaupun hanya beberapa hari. Aku ingin merasakan pelukan darinya. Aku cuma ingin belajar sungguh-sungguh dan mewujudkan harapan-harapan mereka bertiga, sesuai dengan pesannya selalu. Tu me manques aussi. Aku jadi inget akan Karza dalam film Paris Je T'aime. Dia berkata,
Kecantikanku adalah berkah bagiku. Namun, dengan memakai kerudung aku merasa mempunyai iman.
Iya ya, kenapa dari dulu aku masih sering membuka kerudung. Padahal jelas-jelas aku tahu bahwa ini adalah pilihanku.
Baca Selengkapnya →Jumat, 27 Juli 2012

Je pense que IKHLAS itu kewajiban

0 comments

Selasa, 17 Juli 2012

Hidup adalah soal keberanian. Mengahadapi yang tanda tanya, tanpa kita ketahui, tanpa kita sadari. Terimalah, dan hadapilah. Bukan tentang bagaimana kita menanggapi persoalan kehidupan, tapi harusnya tentang bagaimana kita menghadapi persoalan kehidupan. Menurutku semua ini berasal dari niat, jadi niatnya dulu yang harus ditata. Dengan niat, maka ikhlaspun akan tercipta. Nah, baru ketika perasaan ikhlas sudah tertanam pada persoalan yang sedang kita hadapi, di situlah segalanya akan lancar, insyaAllah... Bukan tentang salah atau benar dalam sebuah pengambilan keputusan, namun tentang bagaimana cara mempertanggungjawabkan sebuah pilihan. Bukan tentang berani atau tidak, siap atau tidak dalam mempertanggungjawabkan sebuah keputusan, tapi tentang ikhlas atau tidaknya menghadapi kenyataan yang ada. Ya, kuncinya tetaplah “IKHLAS”. Nggak gampang lho belajar ilmu ikhlas itu. Namun, sebuah kewajiban bagi kita semua untuk mempelajarinya. Yang terjadi sekarang bagiku inilah sebuah pembelajaran dari sebuah penyesalan. Inilah sebuah penjelasan dari sebuah ke”malu”an. Inilah sebuah ke”palsu”an dari sebuah ke”asli”an. Inilah sebuah kebahagiaan dari sebuah kesedihan. Dan inilah hidup dari sebuah persoalan hidup. Wahana dalam dunia permainan adalah penggambaran sebuah kehidupan. Kata siapa aku berani di ketinggian? Kata siapa tubuhku berani diputar-putar dia atas? Kata siapa aku nggak gemetaran ngeliat orang lain yang sedang naik wahana? Kata siapa? Awalnya, aku bukanlah orang yang memang berani untuk melakukan hal-hal semacam itu. Namun, aku menjadi orang yang terbukti mampu menaiki segala wahana itu. Bukan karena aku berani, aku hanya mencoba melakukan yang orang lain bisa lakukan. Soal mengalahkan keberanian, menguji adrenalin, sok-sok an kuat, itu biarlah aku yang merasakannya, yang penting kan hasilnya. Kalau kita tidak pernah mencoba, mau sampai kapan lagi cuma bisa menebak-nebak gimana rasanya? Sama seperti hidup ini, kalau hanya berspekulasi, hanya perasaan menduga-duga yang akan tercipta. Spekulasi dan memakai perasaan dalam sebuah pemikiran itu memang tetap diperlukan. Namun, kita juga harus sadar, kita hidup di dunia nyata, cobalah sedikit berpikir secara real. Bebas, terbuka, di atas, adalah sebuah kenikmatan. Bebas, tertutup, di atas, adalah sebuah ketakutan. Sama seperti bianglala itu. Di atas ataupun dibawah, jika cupnya tertutup, bagiku tetap saja akan merasa lebih menakutkan. Memang sih, aman. Tapi, apakah keaman itu bisa menjamin sebuah kebahagiaan? Namun jika cupny terbuka, segalanya akan terasa berbeda. Kita bagaikan terbang, lepas, bebas, dan siap menikmati hidup. Ada di atas ataupun ada di bawah, tetap saja terasa bahagia. Justru kita akan lebih berani. Memang sih kurang aman, tapi kembali lagi, mau pilih mana, aman, atau bahagia? Terjamin, atau tenang? Mau pilih yang mana, itu terserah kita. Toh pembuat bianglala itu sudah menyediakan pilihan. Sama seperti Tuhan, Beliau juga sudah meyuguhkan banyak pilihan, tinggal terserah kita mau pilih yang mana. Kembali lagi, bukan soal benar atau tidaknya kita dalam mengambil sebuah pilihan. Namun soal ikhlas atau tidaknya kita menghadapi kebahagiaan maupun resiko yang akan terjadi dalam pilihan yang telah kita ambil. :)
Baca Selengkapnya →Je pense que IKHLAS itu kewajiban

Agama ?

0 comments
Pada dasarnya semua agama itu sama, yang berbeda adalah sudut pandang kita masing-masing. Yang dibahas sama, tentang pemujian Tuhan, bagaimana menjadi hamba yang mulia, baik buruk, dan, yah, seputar itulah. Dulu aku menjadi umat hindu, sekarang aku tercatat sebagai umat Islam, dan siang tadi, aku mengikuti doa di gereja. Eits, jangan salah dulu... Aku hanya ingin melihat dan mengamati apa yang belum pernah aku tahu. Di saat puji-pujian mulai digaungkan, yang terlintas di benak dan pikiranku hanyalah Tuhan yang aku sebut Allah. Biarkan saja mereka menyembah apa yang mereka sebut sebagai Tuhan mereka. Beribadah di manapun sama saja. Tergantung niatnya. Nyanyian yang mereka serukan tadi, tak terasa menenggelamkanku pada perasaan haru. Ketika seorang pemimpin yang entah disebut apa tadi itu berkata, “Serahkan semua pada Yesus. Percayalah bahwa Yesus adalah Raja di atas sana! Jika kalian yang datang ke mari membawa segala masalah, serakan semuanya pada Tuhan, Haleluya, Haleluya!”, dan masih banyak lagi sebenarnya. Aku tidak ingin membahas penulisan haleluya yang salah ataupun soal penyebutan nama Tuhan atau apalah itu. Aku juga tidak bermaksud membanding-bandingkan agama yang satu dengan yang lain. Semua kalimat dalam ibadah itu membuatku teringat akan sesuatu. Benar juga ternyata, kenapa tidak aku serahkan saja semua tangisanku ini ke Tuhan, (Tuhanku makasudnya, Allah) ? Sesampainya di rumah, mendadak aku ingat akan perkataan dari seseorang yang menurut banyak orang dia bisa membaca pikiran padaku waktu itu, “Balik sana ke Tuhan!”. Setelah mendengar kalimat yang tiba-tiba muncul itu sontak aku kaget. Dalam hati aku membatin, “Apa?! Kenapa tiba-tiba itu kalimat pertama yang diucapkannya?”. Dengan pedenya aku membantah, “Aku masih tetap berkerudung, aku masih mengerjakan sholat lima waktu, ya meskipun aku udah jarang banget ngaji dan puasa, tapi setidaknya aku masih menjalankan sholat!”. Dia berkata, “Ibaratnya seperti ini, ya, kamu masih tetap mengerjakan perintahnya, namun, hatimu tidak bersamanya. Coba pikirkan pelan-pelan kalimat barusan.” Hmm, ya, kini baru aku sadari, aku sudah tidak lagi seperti dulu, yang menyerahkan segalanya pada Tuhan. Tidak pernah ada kata terlambat bagi pengampunan dosa. Dan siang itu, segera kuambil air wudlu dan melaksanakan sholat dzuhur. Setelah sholat, di situlah aku mengungkapkan segalanya pada Tuhan. Tuhan, aku meyakini bahwa ini semua dariMu, dan oleh karena itu aku memohon pertolongan juga padaMu. Aku tidak menyesali semua yang telah terjadi. Namun, aku hanya meminta padaMu, segera berikanlah aku ketenangan, ya, itu saja. Aku ingin segera bisa tertawa seperti dulu. Dan ternyata, ya, pelan-pelan aku mulai bisa tenang..... Terimakasih, Ya Allah
Baca Selengkapnya →Agama ?

Malang, 14 Juli 2012 @ Legi Pait Coffe

0 comments

Sabtu, 14 Juli 2012

Teruntuk mereka yang pernah aku katakan "tidak" padanya, Untuk mereka yang pernah aku tolak, Untuk mereka yang pernah aku anggap biasa-biasa saja, Untuk mereka yang pernah aku sakiti, Untuk mereka yang pernah benar-benar menungguku, Pokoknya untuk mereka yang dulu pernah aku buat seenaknya sendiri, Aku, Ni Made Pipit Deastuti, mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya, Aku baru tahu bagaimana rasanya tidak bisa memiliki orang yang benar-benar aku sayang. Ini adalah pelajaran banget buatku. Berkali-kali aku bilang dicintai itu lebih enak daripada mencintai. Dan dulu dengan gampangnya aku bergitu bersama kalian. Tapi sekarang, saat aku juga nggak pernah bisa mengerti akan mendapatkan perasaan ini, rasanya, mencintai itu memang berat. Tapi benar kata seseorang, lebih baik kita tidak dicintai orang yang kita cintai daripada kita bersama orang yang kita cinta sedangkan orang itu tidak bahagia bersama kita. ahh, sudahlah. Dengan begini aku sudah bisa tersenyum. Aku nggak pernah ngomong tentang ini semua kecuali hanya di sini. Terimakasih atas kejelasannya. Terimakasih atas pengertiannya. Terimakasih atas segalanya. Dan hari ini begitu indah. Aku diam bukan berarti aku tidak mau bercerita pada kalian, Namun, aku hanya butuh waktu. Ya, aku butuh waktu untuk ini semua. Untuk beberapa orang yang sedang mencemaskanku saat ini, tenanglah, aku baik-baik saja. Ya, pasti, aku akan baik-baik saja.
Baca Selengkapnya →Malang, 14 Juli 2012 @ Legi Pait Coffe

Kalau Semua Ingin Jadi yang Nomor 1, Lantas Mau Dibawa Ke Mana Dunia Ini???

0 comments

Jumat, 13 Juli 2012

Teruntuk teman-temanku yang benar-benar gila akan persaingan. Upsss, jangan salah tangkap dulu.... hehee. Di sana tertulis “teman-temanku” lho ya, jadi ya lebih dari satu. Tidak khusus untuk anda ataupun seseorang. Ini untuk teman-temanku di bangku kuliah, SMA, SMP, SD, TK, dan semuanya. Ini hanya sebagai wacana saja. Masih kuingat ketika Sastrawan Putu Wijaya datang ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, ia berkata, dalam pidato entah itu menteri pendidikan atau siapalah, yang jelas, beliau mengatakan bahwa “Anak Indonesia haruslah mempunyai jiwa yang kompetitif”. Di sini tampak jelas yang diharuskan bagi anak indonesia adalah pendidikan dengan motivasi berkompetisi. Jadi yang diutamakan adalah kompetisi terus menerus. Padahal, jika semuanya ingin menjadi nomor 1, pasti dibutuhkanlah beberapa bagian manusia yang bisa menjadi pengamat, penengah, dan pengalah, agar dunia ini tidak pincang. Dan setiap mausia berhak memilih ingin menjadi pribadi yan seperti apa. Karena pada dasarnya setiap pribadi pasti ada baik dan buruknya. Dan itulah yang diharapkan dari sebuah keseimbangan. Berkompetisi itu baik. Bersaing secara sehat dalam hal positif. Persaingan dapat menjadi pemacu kesuksesan. BENAR, ABSOLUTELY ALLRIGHT. Aku tidak pernah berkata kalimat itu salah. Namun, sekali lagi aku katakan, setiap orang bebas memilih mau menjadi pribadi yang seperti apa. Nah, terakhir, satu yang harus kita renungkan, jika semua orang ingin menjadi yang nomor 1, lantas mau dibawa ke mana dunia ini???  *Ahh, seandainya ini semua bisa kukatakan padamu, mas...* (Yaaah, keinget lagi deh... sendu lagi deh... wekaweka)
Baca Selengkapnya →Kalau Semua Ingin Jadi yang Nomor 1, Lantas Mau Dibawa Ke Mana Dunia Ini???

INILAH AKU, DENGAN SEGALA KEKURANGANKU

0 comments
Jumat, 29 Juni 2012 Ada yang menarik sesampainya aku di sini. Setelah melihat enam ekor anak kucing yang baru saja dilahirkan Onix, sangat terlihat bagaimana penilaian orang tentang hal ini. Ya, beginilah memang yang terjadi. Dari keenam anak kucing itu, pasti ada satu yang paling bagus dan satu yang paling jelek. “Yang itu lho ya yang paling bagus...”. “Yang empat ini biasa aja”. “Yang itu yang paling jelek ya”. Begitulah kaliamat yang muncul dari bibir setiap orang yang datang melihatnya. Bersyurlah dia yang terlahir dengan bulu yang paling bagus. Kelak pasti sanjungan akan sering diterimanya jika ia bertambah besar nanti. Bulunya tebal, berwarna coklat muda agak kuning keputih-putihan. Lain halnya dengan ia yang berbulu putih dengan corak kuning sama seperti induknya. Dia terkesan biasa. Dan yang lebih parahnya, keempat anak kucing lainnya. Mereka memang memiliki bulu dengan tiga warna, coklat, putih, dan kuning, namun, itu semua tidak terkesan istimewa karena ada lebih dari satu yang berwujud seperti mereka. Di sinilah sekarang yang harus lebih ditinjau, bagaimana perlakuan sang pemelihara. Apakah akan berbeda? Atau sama rata? Saya tertarik membuat tulisan ini karena saya ingin mencoba mengaitkan fenomena itu dengan kehidupan nyata. Seorang anak yang terlahir sebagai anak tunggal, di mata orang tua selalu dialah yang paling segalanya. Semua hal buruk pun tak pernah terlihat di mata mereka. Berbeda jika seseorang terlahir sebagai adik maupun kakak. Di mana dibutuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Saya tidak berkata bahwa anak tunggal tidak bisa menghormati dan menyayangi orang lain lho ya, tidak, sama sekali tidak. Dan yang lebih menarik algi jika kita berbicara tentang anak kembar. Hmm, sangat menarik. Tidak jarang anak kembar yang sering merasa orang tuanya pilih kasih. Kembali pada persoalan kucing tadi. Coba saja diambil salah satu kucing dari keempat kucing yang memiliki warna yang sama tadi. Dia, pasti akan terlihat bagus. Bulu tebal, hidung pesek, bulu tiga warna, sehat, dan lucu. Tapi ketika dia dikembalikan pada ketiga kucing lainnya itu, dia akan terliaht sama dengan mereka. Tak ada yang paling menonjol, bahkan terkadang orang sulit membedakannya. Tidak pada seekor kucing yang paling bagus (menurut mereka), apapun yang ia lakukan, di mata mereka tetaplah dia yang paling bagus. Dan untuk kucing yang paling jelek (menurut mereka lagi nih ya), dia biasa, dan di manapun tetap akan menjadi biasa. Ini baru anggapan sementara. Tapi pengasuh yang bijaksana adalah yang mau memberikan kasih sayang yang sama satu sama lain, yang mau mengakui kelebihan pada diri masing-masing kucing, yang mau selalu merawat mereka tanpa ada perasaan tidak suka karena suatu hal. Sama seperti orang tua. Siapapun mereka yang mempunyai anak tunggal, anak kembar, hingga anak banyak, jika ia mau menyayangi anaknya tanpa harus membeda-bedakan, itulah yang bisa dikatakan sebagai orang tua yang bijak. Dan saya yakin, setiap orang tua pasti memiliki sifat itu. Kita tidak pernah tahu, Condro, Junior, Monza, Valley, dan dua ekor kucing lagi yang belum mempunyai nama, kelak akan menjadi seperti apa. Pasti akan ada yang paling nakal, yang paling calm, yang paling cantik, yang paling lucu, yang paling menggemaskan, yang paling lincah, yang paling rakus, dan yang paling lainnya. Galaksi yang sudah ada sebelum keenam kucing itu lahir, mulai bisa berinteraksi dengan kucing yang sudah ada sebelumnya. Cheval dan Boy mulai bisa menyayangi Leksi, panggilan untuk Galaksi. Mereka yang mengajarinya berlari kencang, memanjat pohong, dan bermain ke sana ke mari. Kelak keenam kucing itu pasti akan bahagia bersama kucing-kucing lainnya. Dan Keyza, aku yakin dia sekarang sudah lebih berbahagia. Dia bebas ke manapun yang dia mau. Terkadang aku berpikir, apa kabar dengan Marsha, Elce, dan Elcy. Begitulah sifat manusia, mana yang paling bagus, dialah yang paling dipertahankan. Sisanya, buang. Aku sih berharap ketiga kucing itu masih bisa bertahan hidup. Aku ucapkan selamat kepada Keyza dan Cheval yang tidak terbuang seperti kedua saudaranya, Elce dan Elcy itu. Masih kuingat, Elce dan Elcy juga memiliki warna yang sama, dan itulah yang membuat kita memberikan pada orang lain. Padahal, masih kuingat, wajah mereka sangat cantik. Sepertinya mereka perempuan. Bahkan aku belum sempat melihat perkembangan mereka. (menghela nafas) C’est la vie. Mana yang terpilih, dialah yang bertahan. Mana yang masih mampu menunjukkan kelebihannya, dialah yang terpilih. Tapi, di balik itu semua, pasti akan ada yang paling rendah hati, yang bisa menyikapi segalanya dari berbagai sisi, yang mampu berlaku benar di manapun dia berada, dan segala kebaikan kelebihan yang mungkin tidak banyak orang yang menyadarinya itu, dia jugalah yang akan menjadi juaranya. (tersenyum simpul) Ya, itulah sekilas opiniku tentang fenomena yang terjadi kemarin malam. Seperti biasanya, aku tidak pernah pro ataupun kontra terhadap suatu hal. Bukannya aku tidak punya pilihan, tapi inilah aku yang selalu menganggap segala sesuatunya harus dipikirkan dan dipandang dari berbagai sudut, yang selalu mencoba mengamati segalanya secara mendalam, yang selalu terkadang lama dalam mengambil tindakan yang padahal sebenarnya aku masih memikirkan langkah terbaik mana yang harus aku ambil agar menjadi baik untuk semuanya, yang selalu, yang selalu, dan yang selalu. Ya, inilah aku, dengan segala kekuranganku.
Baca Selengkapnya →INILAH AKU, DENGAN SEGALA KEKURANGANKU

Malang, 6 April 2012 / 21:30

0 comments
Terdengar goresan air mata di penghujung antara kelelahan dan kebangkitan Tahukah kau, aku di sini menjerit dalam kesunyian Menyapu segala upaya Membangkitkan segala kenistaan Lampu-lampu berkilauan seakan mencoba Menepis simfoni yang luka Lelah tak berobat Geming tak berdawai Gelora tak berujung Jika dikata selesai, tidak Kecewa, pasti Namun, mawar tetaplah mawar Merubahnya menjadi melati, Bukanlah sebuah kemuliaan Namun, sedap malam masih tetap berdendang Meresap ke dalam sukma. Dan kalian ? Tertawalah. Karena aku, hanya akan tersenyum simpul.
Baca Selengkapnya →Malang, 6 April 2012 / 21:30

Mungkin

0 comments
Sebuah lagu dari Ruth Sahanaya : Mungkin hanya Tuhan, yang tahu sgalanya Apa yang kuinginkan, di saat-saat ini Kau tak kan percaya, kau slalu di hati Haruskah kumenangis, untuk mengatakan yang sesungguhnya? Kaulah segalanya untukku Kaulah curahan hati ini Tak mungkin ku melupakanmu Tiada lagi yang kuharap, hanya kau seorang... Ya, lagu itu indah ya. Spesial untukmu. Kalau mereka bertanya masihkah aku menyukaimu, jawabannya pasti masih. Untuk apa aku harus berbohong pada diriku sendiri bahwa aku memang menginginkanmu? Aku tidak pernah mengelak bahwa aku memang menginginkanmu. Namun, aku rasa saat ini mungkin kurang tepat jika aku memikirkan hal itu. Aku rasa, masih banyak hal yang perlu dipikiran daripada hanya sibuk dengan pikiran tentangnya. Bagiku, sama seperti lirik dalam lagu itu, mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya, apa yang kuinginkan di saat-saat ini. Aku percaya, Tuhan pasti denger apa kata hatiku. Aku juga yakin, Tuhan pasti akan membuat segalanya menjadi lebih indah. Entah itu kapan dan bagaimana. Aku ingin tidak ada lagi kesedihan karena mencintainya. Aku menginginkan kebahagiaan dengan mencintainya. Aku ingin senyuman bisa semakin mengembang karenanya, bukan malah sebaliknya. Ini soal perasaan, dan aku amat sangat yakin bahwa hanya Tuhanlah yang maha membolak-balikkan perasaan. Cinta itu bukan saling menyakiti, namun saling menghormati. Kalau ditanya kangen, jujur, aku kangen denganmu. Aku rindu pada momen-momen yang mungkin bagimu tidak berkenang. Diam bukan berarti hilang. Aku masih tetap memikirkanmu. Hasratku untuk memilikimu terkadang menggebu-gebu. Namun, hati nurani selalu berhasil mengontrol keagresifan jiwa yang sedang dilanda suka dan duka ini. Masa laluku dengan siapapun itu rasa-rasanya sudah tertutup karenamu. Andai kata semua orang berkata tidak padamu, di sini ada aku yang siap untuk berkata iya, untukmu. Bukan soal partitur, artikulator suara, solmisasi nada, dan segalanya tentang itu, namun sejenak aku ingin bicara padamu tentang cinta dan keindahan. Rasa ini begitu murni, indah, cantik, dan mengagumkan.
Baca Selengkapnya →Mungkin

PERDEBATAN DUA SUARA

0 comments
Aku tahu, hidup ini selalu memaksa semua makhluk hidup untuk memutuskan sebuah pilihan. Dan pilihan yang disajikan hanya dua. Iya atau tidak, maju atau mundur, kalah atau menang, dan segala antonim lainnya. Sering aku berpikir, apakah emang seperti inilah hidup ini ya? Apakah untuk menjadi dewasa harus melewati jalan seperti ini? Dan perdebatan itupun muncul dikala kesendirian menyelinap... ^Jika kamu masih saja terus bersikap seperti ini, ya nggak akan pernah ada yang berubah!^ *Tapi, saya tetap tidak pernah merasa nyaman. Dan itu kuncinya!* ^Tapi, kalau tidak pernah mau menjalani, pengalaman apa yang akan kamu dapet? Nothing!^ *Tapi, nanti kamu menyesal lho!* ^Untuk apa berada di lingkungan yang aku tidak pernah bisa merasa senang secara natural?^ *Memangnya kamu nggak pernah takut di kedepannya nanti berpikir, “kalau saja waktu itu aku mau sedikit aja mengesampingkan emosi, pasti nantinya aku bisa menjadi seperti mereka”* ^Untuk apa bersikap berpura-pura kalau kenyataanya cuma menyiksa diri? Kebahagiaan itu datangnya dari hati. Bukan dari seberapa banyak uang yang kita dapet, setinggi apa prestasi yang pernah kita raih, sebanyak apa teman yang akrab dengan kita, dll^ *Dengan kamu bicara seperti ini, memangnya kamu tidak merasa bahwa kamu juga menjadi orang yang perfectionis?* ^Ya, karena aku terpengaruh mereka.^ *Apa itu buruk bagimu?* ^Tidak. Bukankah sudah kukatakan, tidak ada yang salah atas mereka. Yang salah ya dari diriku sendiri. Dan, sepanjang apapun kalimat yang aku rangkai, tak akan pernah berhasil menggambarkan bagaimana perasaan yang sedang aku rasakan jika orang yang sedang aku ajak bicara tidak pernah mau sedikit aja mencoba belajar merasakan.^ *Tapi, bukankah hidup ini penuh persaingan? Dimana siapapun itu akan menjadi kalah jika tida bisa beradaptasi dengan hidup ini?* ^Tapi apakah dengan seperti itu juga aku harus merubah kepribadianku? Kepribadian yang bisa dikatakan cemen ini menurutmu? Yang sebenernya kamu nggak pernah mengerti bahwa ya memang beginilah aku. Aku yang tidak pernah bisa langsung akrab dengan semuanya. Aku yang selalu mengedepankan tanggung jawab daripada emosiku. Aku yang cenderung memakai perasaan. Aku yang tak kuasa berdebat dengan orang lain. Aku yang tak pernah ingin sekecilpun melukai perasaan orang lain. Aku yang kelihatannya cenderung memilih jalan aman. Aku yang cenderung menggunakan cara yang lurus. Aku yang selalu merasa kuat karena aku berpikir bahwa pengalaman akan didapat dari sini. Aku yang selalu memikirkan segalanya dari sudut pandang yang berbeda-beda. Aku, aku, dan aku. Ya, karena apa sih? Karena aku yang selalu ingin semuanya baik-baik saja^ *(tertawa sinis). Absurd!* ^Ya, silahkan mau berkata apa.^ *Inilah hidup. Kamu bukan anak kecil lagi. Ini hidupmu. Tak akan ada orangtua, guru-guru, teman sepermainan, dan hal lainnya yang dulu yang selalu enak! Tatap ke depan! Berhenti mengeluh!* ^Mengeluh?! Jika kamu beranggapan aku mengeluh, itu salah besar! Kalaupun aku mengeluh, harusnya aku sudah pergi dari dulu^ *Ya itulah salahmu. Kalau memang kamu ingin pergi, lantas mengapa masih ada di situ?!* ^Ya karena inilah aku. Aku bukanlah orang yang mudah untuk pergi jika apa yang aku inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, keluar dari tanggungjawab, dan mencari tempat lain. Bukan. Aku bukanlah pribadi yang seperti itu. Sesakit apapun aku, selelah apapun aku, senggak kuat apapun aku, aku masih akan tanggungjawab karena pilihan yang sudah aku ambil.^ *Memangnya kamu nggak inget, dia pernah berkata “kenapa sih si A itu, selalu seperti itu. Setiap sudah selesai satu proyek, yasudah, langsung selesai.” Tidakkah kamu sedikit tersindir?* ^(tertawa) Ya, waktu itu, aku memang sedikit tersindir karena omongannya. Memang sih yang dimaksud bukan aku, tapi aku menjadi merasa dikasih kaca buat siap-siap karena nantinya aku sepertinya akan seperti itu^ *Dia yang kamu inginkan, berada dalam dunia itu. Masih bertahankah hatimu berkata bahwa kamu mencintainya? Bukankah dulu kamu pernah bilang bahwa sebenernya kamu menginginkan pasangan yang berbeda dunia? Lantas apakah itu berarti kamu yang akan mundur? Memangnya kamu nggak pernah ber
Baca Selengkapnya →PERDEBATAN DUA SUARA

Ini Murni Hanya Pemikiranku Saja Kok

0 comments
Terkadang aku berpikir, Kalau aku saja bisa memaafkan, kenapa orang lain tidak? Kalau aku saja bisa menyudahi rasa sakit hati, kenapa orang lain tidak? Kalau aku saja bisa melupakan kesalahan, kenapa orang lain tidak? Kalau aku saja bisa mencoba mengerti, kenapa orang lain tidak? Kalau aku saja bisa berusaha menjadikan suasana menjadi baik kembali, kenapa orang lain tidak? Kenapa, kenapa, kenapa. Kenapa harus dari diri sendiri dulu? Lalu, orang lain kapan? Kapan, kapan, kapan?
Baca Selengkapnya →Ini Murni Hanya Pemikiranku Saja Kok

Teruntuk kamu yang selalu kubanggakan.

0 comments
(Seandainya aku bisa berteriak, “Buat apa aku aku hanya dikasi kebebasan berpendapat yang pendapatnya tidak pernah didengarkan? Kalau memang seperti itu, lantas buat apa aku di sini? Masih perlukan suara dariku?”) Mas, orang lain nggak tau siapa kamu sebenarnya. Mereka hanya melihat dengan kacamata general laki-laki pada umumnya. Namun aku yakin, apa kata hatiku adalah seperti itulah adanya kamu di mataku. Mas, segala yang kamu lakukan tampak benar di mataku. Aku sekarang berada di antara orang-orang yang tidak pernah sepemikiran dengan mas. Dan itu yang membuatku sering berdebat, berdebat, dan berdebat dengan mereka. Gimana ya mas, bagiku atau mungkin juga bagimu, kesempurnaan adalah hal yang paling penting. Segores kesalahanpun akan mengacaukan segala persiapan. Lain halnya bagi mereka, mas... kesederhanaan adalah hal terpenting. Oke akupun setuju dengan kalimat itu. Tapi, itu semua kan ada tempatnya............. Harusnya mereka tau waktu dan penempatannya. Ahh, tidak hanya pada mereka, pada beberapa organisasi lain yang aku ikuti juga demikian. Aku sering sekali tidak setuju dengan pemikiran mereka. Mas...., jarang yang mau denger omonganku... Mereka yang seide denganku pasti cuma bisa diem tanpa ikut menguatkan argumenku, baru nanti di belakang, mereka baru mau berbicara. Sering sekali pendapatku kalah dengan orang-orang yang berada di atasku. Padahal ya, mas, toh kenyataannya apa yang aku pikirkan benar. Toh pada akhirnya mereka mengikuti pemikiranku. Toh pada akhirnya mereka sendiri yang buat jadi tidak jalan. Hmm, mereka nggak pernah tau sih bahwa aku sudah memikirkan baik buruknya... Dan di saat perdebatan itu mulai muncul, tak kuasa batin ini menjerit. Seandainya aku bisa berteriak, “Buat apa aku aku hanya dikasi kebebasan berpendapat yang pendapatnya tidak pernah didengarkan? Kalau memang seperti itu, lantas buat apa aku di sini? Masih perlukan suara dariku?” Aku lelah, mas, dengan keadaan yang seperti itu... Samakan dengan yang sering kamu rasakan??? Keep your smile, mas.
Baca Selengkapnya →Teruntuk kamu yang selalu kubanggakan.

Teruntuk kamu yang pernah membuatku bangkit.

0 comments
Tak terasa setahun sudah waktu berjalan. Setahun juga perjuanganku untuk bebas dari perasaan bersalah perlahan-lahan mulai membuahkan hasil. Hari ini dan mungkin empat hari ke depan saatnya kamu berjuang. Selamat, selamat menempuh ujian. Suatu penyelasaian yang sekaligus akar dari permasalahan kita, dulu. Memang tak ada kata yang terucap, tak ada kalimat yang tertuliskan, tak ada yang begitu tampak, karena aku hanya setidaknya mendoakan. Ya, mendoakan, dari sini. Bahkan aku tak pernah tau sedang atau tidak sedangkah kamu saat ini. Kalau memang sedang, aku mendoakan, sedikit mengingat. Semoga kita sama-sama menjadi lebih baik untuk ke depannya. Walau tak ada niatku untuk kembali padamu, aku tetap minta maaf. Aku minta maaf atas segala sapaan yang tidak pernah aku balas lagi, atas ajakan yang tidak pernah aku terima lagi, atas permintaan maaf yang tidak pernah aku bahas lagi, atas rayuan yang tidak pernah aku hiraukan lagi, atas semua yang tidak pernah aku maui lagi. Tidak, cukup, bagiku lebih baik aku dengan kehidupanku, dan kamu dengan kehidupanmu. Segala yang dulu, aku harap bisa sama-sama dijadikan pelajaran berharga untuk kita. Percayalah, memang beginilah perjalanan hidup manusia, oui, c’est la vie, monsieur....
Baca Selengkapnya →Teruntuk kamu yang pernah membuatku bangkit.

Mimpi Manis

0 comments
Semalam aku bermimpi, apa mungkin karena kepikiran ya??? Hahaaa Aku bermimpi lagi duduk-duduk setelah tampil manggung. Di sebelahku, seorang perempuan yang kira-kira umurnya lebih di atasku, mengajakku ngobrol. Di tengan obrolan kami, dia berkata, “Penampilan yang bagus.. Pasti mau jadi penyanyi terkenal ya?” Dan apa yang terjadi? Aku menoleh ke kanan, tersenyum padanya, ia pun membalas senyumku. Aku menggeleng dan berkata, “Tidak,..” dan masih tetap tersenyum. Dia pun dengan herannya berkata, “Lalu? Mau jadi apa?” Aku dengan suara pelan dan malu-malu menjawab, “keyboardist...” Dia pun tersenyum, ah bukan, tepatnya adalah tersenyum tapi dengan memperlihatkan beberapa gigi atasnya. Dan tiba-tiba aku tebangun. Hmmmm...... Yeah, I hope my dreams will come true, amin.
Baca Selengkapnya →Mimpi Manis
0 comments
Ni Made Pipit Deastuti Kak Ilham, Aku Kangen Kakak... Pulang sekolah... Hampir setengah jam aku menunggu jemputan sopir. Tapi tiba-tiba ada mobil berhenti di depan sekolah. “Sepertinya aku kenal sama mobil ini”, bisikku dalam hati. “Mobil siapa ya?”, aku berpikir. “Oh ya! Nggak salah lagi, itu kan mobil Kal Aldi! Hah? Kak Aldi? Ngapain dia ke sini? Memangnya mau jemput aku? Nggak mungkin deh....”, ucapku dalam hati. “Hai, Lulu!”, sapa Kak Aldi. Ini adalah kalimat pertama yang aku denger dari mulut Kak Aldi. “Hai, Kak..”, ucapku terbata-bata. Aku ke sini mau jemput kamu. Aku mau ngajak kamu sama Ilham jalan-jalan. Ilham udah ada di mobil”, kata Kak Aldi. “Emang ada acara apa? Mau jalan-jalan ke mana? Udah bilang sama Ayah sama Bunda?”, tanyaku. “Udah, Ayah sama Bunda udah ngijinin kok. Hari ini hari ultahku. Aku sama temen-temen mau ngerayain ke vila. Tempatnya asyik kok!” “Ulang tahun? Hari ini Kakak ulang tahun? Waaaah, selamat ya!” “Iya, makasih. Makanya, kamu ikut ya!” “Oke deh! Di mobil ternyata sudah ada Kak Ilham dan enam orang teman Kak Aldi, empat cowok, dan dua cewek. Akhirnya sampai juga kami di sebuah vila di wilayah pegunungan. Tempatnya asyik juga. Dua cewek teman Kak Aldi pergi untuk membeli camilan. “” “Lulu, ke taman yuk!”, Kak Aldi mengajakku. “Nggak ngajak Kak Ilham sama temen-temen Kakak lainnya?” “Ilham ama yang laennya lagi maen PS. Itung-itung nunggu cemilan dateng, kita ngorol-ngobrol dulu. Aku Cuma pengen ngajak kamu ke taman atas”. Kita duduk berdua di taman itu. Di atas rumput yang segar. Hawa sejuk semakin menambah indahnya hari itu. “Lulu, menurut kamu, bahagia itu apa?” “Bahagia itu kalo kita bisa nerima semua apa adanya”. “Apakah kalo kehilangan orang yang kita cinta, kita harus nerima semuanya, jadi kita juga harus bahagia?” “Iya, tapi bukan lantas bahagia dengan cara tertawa”. “Maksudnya?” “Jadikanlah kebahagiaan itu sebagai kekuatan dalam menjalani cobaan”. “Hmm, aku tanya lagi ya, apakah kita harus jujur meskipun kejujuran itu menyakitkan?” “Harus, karena aku yakin kejujuran itu akan menerangi hal-hal yang tertutupi. Mau bentuknya menggembirakan ataupun menyedihkan, berkat kejujuran, semua masalah akan terselesaikan”. Kak Aldi terdiam. Sepertinya ada maksud lain yang ingin diucapkannya. Tiba-tiba, Kak aldi mencengkeram pundakku. Dia berteriak kencang di hadapanku. “Aku benci kamu!” aku benci kalian bertiga!”, teriak Kak Aldi. “Apa maksud Kakak?!”, tanyaku ketakutan. “Denger ya! Kalau nggak kena rayuan Ibu kamu yang genit itu, nggak mungkin Ayahku nikah lagi! Ayah sangat mencintai Ibuku! Sekarang dengan enaknya kalian menikmati harta Ayahku! Dasar keluarga sundel!!!!”, teriaknya di depan mukaku. Oh, Tuhan, ada apa ini? Aku takut, aku benar-benar takut. Kak Aldi tiba-tiba menjadi marah seperti ini. Dari kejauhan kudengar Kak Ilham berteriak lantang,.. “Lulu! Cepat pergi! Cepaaaaaat!” Ada apa ini. Kak Ilham berlari dengan kencang dan di belakangnya ada tiga cowok teman Kak Aldi yang mengejarnya dengan muka garang. Tanpa pikir panjang, aku segera pergi setelah mendengar teriakan Kak Ilham. Namun naas, Kak Aldi mencengkeram tubuhku. Aku tak bisa berlari. “Lepaskan! Lepaskan!”, teriakku. Ketiga cowok teman Kak Aldi berhasil menangkap Kak Ilham. Mereka menghajar, memukul, menghantam perut, muka, dan dada Kak Ilham. “Jangaaaaaaaaaaan!!! Jangan pukuk Kakakku!! Lepaskan!”, teriakku. Kak Aldi tetap mencengkeram tubuhku. Dia semakin mengikatku. Kemudian salah satu temannya ganti mencengkeramku, dan Kak Aldi ikut menghajar Kak Ilham bersama teman-temannya. Namun apa yang terjadi, cowok ini mendorongku hingga aku terjatuh. Dia memegangi kedua kakiku dan aku berusaha merangkak dengan tangan. Tuhanku, aku tak mau ini terjadi. “Stop! Stop! Aldi!”, teriak Kak Intan. “Rizki, hentikan!”, teriak Kak Dila sambil mendorong cowok yang sedang mencengkeramku ini. Aku segera berlari menghampiri Kak Ilham. Kulihat tubuh Kak Ilham yang berlumuran darah, babak belur, dihajar Kak Aldi dan teman-temannya yang brengsek itu. “Kakaaak!!!”, teriakku. Kudekap dia, aku menangis sekeras-kerasnya. “Bangun, Kak! Bangun!” “” Di Rumah Sakit.. “Saudari Lulu, silahkan masuk!”, pinta Dokter. “Kak,.. Ini Lulu, Kak.. Maafin Lulu. Lulu nggak bisa nolong Kakak...”, ucapku menangis. “Lu... Maafin Kakak.. Ka-kak nggak bi-sa ja-ga-in ka-mu... Ka-mu nggak pa-pa kan..?”, tanya Kak Ilham terbata-bata. “Ja-ga-in Bunda.. Ja-ngan den-dam sa-ma Kak Aldi.. Se-be-ner-nya di-a baik... Kakak mohon...”, pinta Kak Ilham. “Kak, jangan ngomong kaya gini. Kakak harus cepat sembuh. Kita pasti bisa meraih cita-cita bersama dan buat Bunda bahagia! Kakak musti jagain aku!”, ucapku tersedu-sedu. “” Tuhan berkehendak lain. Ia terlalu menyayangi Kak Ilham, hingga ia mengambilnya malam itu juga. Tangisan ini tak terbendung lagi mengiringi kepergiannya. Aku tak pernah menyangka, harus secepat inikah? Kakak, aku tak bisa hidup tanpa Kakak.... Kenapa Kau ambil Kakakku, Ya Tuhan....... Ayah dan Bunda datang. Bunda pun tak kuasa menahan tangis. Aku berlari ke luar. Semakin kudengar tangisan Bunda, semakin teriris rasanya hati ini. Aku berlari semakin kencang menembus derasnya hujan kala itu. Sampai akhirnya aku bertabrakan dengan seorang cowok. Kak Aldi. Aku tak tahu harus bagaimana melampiaskan semua perasaan ini. Sambil menangis aku berkata, “Puas kamu?! Puas?! Kenapa nggak sekalian aku dan Bunda yang kamu bunuh?! Kenapa Cuma Kak Ilham?! Kenapa?! Kenapa kamu rusak impian kami?! Aku dan Kak Ilham selalu berusaha menghormatimu, tapi kenapa ini yang kamu berikan pada kami?! Setelah ini, giliran siapa yang akan kamu bunuh?! Aku, atau Bunda?! Ayo jawab! Jangan diem aja!”, tangisku semakin menjadi-jadi. Kak Aldi tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam terpaku dengan arah pandangan yang tak jelas. Tubuhnya jatuh, berlutut di bawahku. “Bunuh aku, Lulu....”, ucapnya. “Bunuh saja aku atau masukkan aku ke penjara dengan hukuman mati, atau siksa aku, atau masukkan aku dalam kandang binatang, lakukan apa saja yang kamu mau..... Aku nggak pernah nyangka kalau Ilham bakalan kaya gini...”, ucap Kak Aldi dengan bercucuran air mata. “Terus, kalau misalnya tadi temen-temen kamu yang brengsek itu berhasil memperkosa aku gimana?! Sekarang Kak Ilham udah nggak ada, siapa yang bakal ngejaga aku?! Kenapa?! Kenapa kamu ambil malaikat penjagaku?! Kenapa?!!!!” “” Lima tahun kemudian... Masih mengalir air mata ini bila kuingat kejadian di hari itu. Rasanya berat sekali bangkit dari keterpurukan. Butuh bertahun-tahun kami menyembuhkan hati yang luka. Dan kini, aku berada di depan makam Kak Ilham. Ingin kuceritakan semua padanya. “Kak, aku sudah mengikhlaskan segalanya. Kak Aldi sudah berubah. Bahkan Kak Aldi pula yang selalu mengunjungi, menjaga, dan merawat makam Kakak ketika aku memutuskan untuk menerima beasiswa ke luar negeri selama dua tahun studiku. Tapi setelah itu, aku merasa ingin menetap di sana hingga kini telah berjalan tiga tahun. Aku berniat melupakan kehidupan di sini. Tapi ternyata, bayangan Kakak selalu ada di setiap langkahku hingga aku bisa berhasil seperti ini. Kemarin malam, waktu Kakak mendatangiku lewat mimpi, aku merasa bahwa Kakak menyuruhku untuk pulang. Dan memang benar, Bunda, Ayah, Kak Aldi dan semuanya sangat merindukanku. Aku diterima mejadi wakil direktur bank sesuai cita-citaku, Kak... Kak Aldi juga berhasil menjadi dokter spesialis jantung. Dia telah menikah dan baru saja punya anak, lucu. Kak Aldi berkali-kali meminta maaf padaku. Dia menjagaku seperti Kakak waktu itu. Bunda menyuruhku untuk menetap di sini. Ya, aku menyetujuinya. Dua bulan lagi aku menikah, Kak.. Dengan orang yang Kakak kenal, Rama Aditya. Inget kan, Kak? Hahaa, ya, dia yang selalu aku harapkan dan kini aku berhasil memilikinya. Semuanya sudah berubah, Kak. Berubah menjadi lebih baik... Kakak, berbahagialah di surga, aku selalu mendoakan Kakak. Dan hingga detik ini, tak ada kata lain selain rindu yang hanya untuk Kakak. Ya, Kak Ilham, aku kangen kakak....”, batinku.
Baca Selengkapnya

Kamu itu Dahulu

0 comments
Jika matamu berat memandangku, ringankanlah kakimu pergi dariku. Jika bibirmu terpaksa senyum padaku, relakanlah wajahmu tuk berpaling dariku. Jika dirimu susah untuk melupakan kesalahanku, maka senanglah lidahmu untuk menghinaku. Tapi, andai suatu hari nanti telingamu mendengar berita kematianku, ikhlaskanlah tanganmu untuk mengusap jasadku, dan bisikkan padaku sesuatu yang akan mengingatkanku. Semoga kalimat terakhirmu dapat menjadi pelita dalam kamar gelapku dan menjadi bantal ketika tidur panjangku. Maafkan atas semua kesalahanku... Hmm..... Aku Cuma bisa tersenyum simpul membaca pesan kemarin malam itu. Walau telah lama kuhapus jejakmu, namun aku tahu bahwa itu adalah dirimu. Ya, dirimu yang dulu pernah ada di hidupku. Sudahlah, yang dulu hanyalah dulu. Tidak perlu minta maaf lagi. Aku sudah memafkan dari dulu. Oh, bukan, bukan hanya memaafkan, tapi aku juga memang telah melupakan. Kamu nggak pernah tahu kan, dampak dari semua itu baru terlihat sekarang. Semuanya menjadi terbalik sekarang. Aku menganggap semuanya sama. Tidak ada yang spesial hingga detik ini. Aku hanya bisa tersenyum melihat yang terjadi sekarang. Sudahlah tidak ada yang perlu disesali,.. Ya mungkin Tuhan sudah membukakan pikiran jernih kita masing-masing. Permintaan maaf nggak ada artinya, yang penting sekarang bagaimana kamu memperbaiki hidupmu. Pasti ada hikmah dari ini semua. Sudahlah..., bagiku kini, hidupku ya hidupku, hidupm ya hidupmu. Aku dengan duniaku, dan kamu, silahkan dengan duniamu, tanpa perlu lagi kamu kembali memasuki hidupku yang sekarang. Aku sudah berada jauh di depan, jelas aku tak ingin untuk kembali ke belakang. Urusan perasaan, jujur, memang belum ada yang mengisi hati ini. Namun bukan berarti karena belum ada yang bisa menggantikanmu. Bukan. Sama sekali bukan. Bahkan hatiku sudah lama pergi dari masa-masa itu. Aku Cuma tidak ingin mengulangi kesalahan. Aku hanya percaya sama Tuhan, tanpa harus aku ngoyo untuk mendapatkan “dia” yang aku mau. Ya just santai aja, nikmatin hidup. Aku berteman dengan siapa saja, tanpa ada perasaan apapun. Dan kamu, tidak perlu tahu tentang semua ini. Aku sudah malas untuk membahasmu. Sudahlah, kita banyak rintangannya, dan perasaanku pun sudah tidak seperti dulu lagi...
Baca Selengkapnya →Kamu itu Dahulu

Malam yang....

0 comments
Ah, tahun ini mungkin memang benar seperti yang aku pernah bilang. Tahun ini adalah tahun yang mungkin awal dari bagaimana merasakan beratnya hidup. Banyak yang bisa dipetik semenjak predikat sebagai siswa berganti menjadi mahasiswa. Segalanya diatur sendiri. Terutama dalam pengambilan keputusan. Dan aku, sudah berkali-kali ditatapkan pada dua situasi di mana aku harus memilih. Tidak ada yang lebih baik, kurang baik, atau lebih buruk, dan kurang buruk. Semuanya sama baiknya. Ya, tidak sekali dua kali. Malam ini, adalah kesekian kalinya aku harus memilih. Berat, itu yang kurasakan. Lagi-lagi aku disadarkan bahwa kita tidak bisa menjalani dua keberhasilan. Tidak, and absolutely imposible! Berada di antara dua pilihan. Segala pengandaian tidak akan mungkin terjadi. Aku pernah berandai, andai saja ada dua buah tanggal yang sama, atau, andai saja aku mempunyai tubuh cadangan, atau, andai saja.... ahhh, segala pengandaian yang tidak masuk akal. Kembali lagi aku diingatkan, harus satu-satu, tidak ada yang bisa dua sekaligus. Kalau bisa dua, tiga, atau empat, itu tidak sekaligus, itu pasti tergapai namun tetap bergiliran, tidak secara bersamaan. Dalam hal ini, pepatah Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui kurang dapat ditempatkan. Masalahnya bukan sekali kerja bisa dua atau tiga pekerjaan selesai, tapi ini lebih pada dua sisi yang nggak mungkin dikerjakan secara bersama. Di sini dibutuhkan fokus, agar hasilnya maksimal. Oh Tuhan, sesuai dengan perintah berdoa on air jam 10 malam tepat, aku tadi sudah berdoa padaMu. Semoga Engkau segera memberikan jalan terbaik untuk kami semua. Amin....
Baca Selengkapnya →Malam yang....

NETON

0 comments
“Ngapain nanya soal neton? Memangnya kamu mau nikah? Jujur ya, Mas, pokoknya Ibu belum siap, lagian, ya mending kamu itu kerja dulu, siapin semuanya. Urusan pesta pernikahan itu gampang, tergantung uangnya lah.... Memangnya pacar kamu anak mana? Bali? Awas yo, lek sampek pacarmu arek Bali! Wes...pokok e Ibu gak setuju!” “Heheheheheeee. Haduh nggak nggak, Bu. Tenang ae... Wong aku lho mek sekedar nanya...” Mendengar percakapan itu, akupun menyeletuk, “Kalau Mas nggak dapet anak Bali, kalau ternyata aku yang dapet, gimana Bu?” Dan beliau sontak menjawab, “Lha wong mas aja tak penging, kok malah kamu! Gak!” “Hala Bu..., selama iki aku lho malah sering cedek ambek yang berbeda agama ilho.... Pernah aku sama anak Kristen, Hindu juga pernah, Budha sama Konghucu yang belum pernah. Heheheee” “Makanya, kamu itu jangan suka ngasi harapan! Wong pacaran ae gak becus, malah sik sempet-sempet e nyoba ambek arek beda agama... Inget nggak kamu, pacaran baru seminggu ae wes gupuh lek ate putus. Sewulan iku ae mbetah-mbetahno. Yo kan?” “Heheee. Iyo se... Lha ancen aku bosenan ilho... Lha mosok aku pacaran mek dek e sing seneng, Bu... aku iku mek belajar mencintainya. Wkwk. Lagian, sekali aku seneng, mesti wong sing tak senengi iku bermasalah. Gurung onok i sing lelaki normal lalu sama-sama suka gitu. Mesti ben dek e seneng, aku sing nggak seneng. Ben aku seneng, aku wedi katene nyedek i. Hahaaa. Ya begitulah, Bu, belum ada yang cocok sampai sekarang...” “Sayang....memangnya kamu pengen pacaran lagi cuma dibuat pelengkap gitu? Cuma karena malu gak bawa pacar gitu? Jangan pernah malu karena nggak pacaran! Pokoknya sekarang ini yg penting ndang marekno kuliahmu, ndang kerjo, senengno sik awakmu iku. Westalah, enak enak lek wes duwe ilmu akeh iku...” “Nggih...” ......................................................................................................................................................
Baca Selengkapnya →NETON

Malang, 5 Februari 2012

0 comments
Mungkin pada dasarnya perbedaan visi dan misi lah yang membuat kedamaian itu tak tercipta. Kalau aku sih karena mungkin tidak pernah terlalu berharap yang sangat besar kali ya. Seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu, keadaan, pengalaman yang didapatnya, juga karena apa yang dimilikinya sekarang. Yang kemarin beda dengan hari ini, yang hari ini bisa saja berbeda dengan hari esok. Itulah manusia. Bukannya aku tidak percaya pada keyakinan. Aku tetap mempercayai keyakinan, bahkan aku mendewakannya. Karena memang segalanya bisa berjalan berdasarkan keyakinan yang ada Namun, kita tidak boleh terlalu percaya pada yang diucapkan, tidak semua ucapan bisa seelalu berjalan sampai kapanpun. Karena ya itu tadi, seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Dan kita sebagai manusia dituntut agar bisa menerima semua kenyataan yang ada, sekalipun itu sangat mengecewakan hati. Aku tidak pernah merencanakan sesuatu secara detail dan yang bener-bener optimis dengan segalanya. Tidak. Bukan karena aku tidak mempunyai harapan, cita-cita, atau yang biasa disebut dengan impian. Bukan juga karena aku pesimis. Bukan. Sama sekali bukan. Bukan karena itu. Tapi semata-mata hanya agar diri ini siap menghadapi kekecewaan. Bahkan ternyata, kalau kita siap menghadapi hal yang sekiranya tidak mengenakkan hati, maka tidak akan pernah ada rasa kecewa di dunia ini. Aku selalu optimis. Aku punya harapan. Aku punya impian, kata siapa aku membiarkan hidup ini mengalir begitu saja? Hanya orang bodoh yang membiarkan hidupnya mengalir begitu saja. Bukankah ada ayat yang mengatakan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika tidak dari diri kita sendiri yang merubahnya.... Ya. Bukannya let it flow, namun, hanya membiarkan Tuhanlah yang memberikan apa-apa yang akan terjadi menjadi sebuah kejutan dalam hidup ini. Sungguh akan terasa bahagia kalau kita mau meresapi apa yang telah Tuhan berikan. Aku selalu percaya padaNYA, karena hanya DIA lah yang selalu mengerti apa yang ada dalam hatiku...
Baca Selengkapnya →Malang, 5 Februari 2012

Ahh

0 comments

Rabu, 11 Juli 2012

Ahh, kenapa tiba-tiba detik ini aku jadi inget hal itu lagi ya? Hmm, tiba-tiba aku keinget sama... ups, kalau dikatakan salah, ya nggak sih. Ini kan udah resiko. Kalau dibilang langkah yang aku ambil salah, gak pantes aku ngomong kaya gini, kan segala sesuatunya itu nggak boleh disesali. Namun jujur, ada perasaan kecewa. Aku mutusin buat ikut lomba ke Semarang dengan membawa sejuta harapan dan bayangan yang indah-indah. Kepengenanku dari dulu mengenai drama Prancis yang katanya akan ditampilin di Jakarta, dengan yakin aku tolak nggak ikut audisi hanya karena tampilnya berdekatan dengan lomba itu. Masih teringat waktu salah satu temanku berkata padaku tentang drama Prancis itu, “Jakarta, Pit! Ikut audisi ya!” dan aku dengan bahagianya menjawab, “Iya,iya, pasti! Nanti, info selanjutnya kasih aku kabar ya. Pengen banget aku. Jakarta, pengen ke sana!” Ya, senyuman itu terus mengembang. Hingga tiba saatnya, ternyata aku nggak bisa. Aku harus fokus lomba ke Semarang itu. Aku nggak mau dikatakan nggak bertanggungjawab pada apa yang sudah jadi komitmenku. Mengenai BCF, dengan berat hati aku mutusin untuk mundur dari kepanitiaan. Aku merasa aku harus perjuangin fakultasku. Aku harus memilih, tetap di BCF atau Semarang, tanggalnya sama. Apa salahnya sih kalau aku lebih memilih ini. Karena berbagai alasan itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk segera mundur. Beberapa tugas sudah kukerjakan dengan rapi, it’s okay, kalau aku mundur, aku ikhlas dengan yang sudah kukerjakan. Namun ternyata, aku diminta untuk tetap dalam kepanitiaan itu, namun pada hari H nya, aku boleh ke Semarang. Alhamdulillah, Tuhan kasih jalan. Padahal semaleman aku udah mikirin mateng-mateng gimana baiknya. Sama seperti waktu aku harus memilih tetap di BC4 atau ikut LA. Huwfth, pilihan yang amat berat. Annual Concert atau latihan untuk tampil di BCF pun aku tolak, karena aku merasa aku nggak tampil nantinya, aku kan nggak ada di hari H nya.. Uang pembayaran lomba sudah aku bayarkan. Bukannya aku terlihat sok kaya, bukan. Bagiku, entar di belakang aku nggak bisa makan sebulan, atau apapun, udah, biar jadi urusanku. Yang penting aku udah bayar kewajibanku. Segalanya sudah kupersiapkan, sepatu, baju, semuanya deh... aku udah kangen banget ikut lomba paduan suara. Udah lama....banget nggak ngerasain momen-momen itu. Waktu SMP, SMA, seru!, cuma itu kata yang bisa aku ungkapkan. Latihan perlatihan aku ikuti,... Doa tiap jam 10 malam pun selalu aku haturkan. Ibu juga selalu ngedukung. Indah....banget yang ada di bayanganku tentang Semarang. Ini akan jadi lomba perdanaku di bangku universitas, ke luar kota lagi. Aku kabarkan ke beberapa temanku kalau aku mau ke Semarang, doain ya rek.... Namun......... Melihat kenyataan yang ada, semakin lama semakin pupus harapanku. Semangat yang tadinya membara, perlahan-lahan menciut. Ambisi yang tadinya menggebu-gebu, perlahan-lahan hilang. Hopeless. Ya. Feelingku mengatakan, kita nggak jadi ke Semarang jika keadaannya seperti ini. Percuma, dukungan aja nggak cukup. Diperlukan pengorbanan untuk terus berlatih. Nggak cuma dalam berlatih, dalam segala hal. Perasaanku terus aja nggak enak selama latihan. Bahkan tiap kali jargon selesai latihan, saling bergandeng tangan, saling bersorak, “XXXXXXX goes to XXXXXX, sukses! Sukses! Sukses!”, yang lain berteriak demikian, hanya aku yang diam. Aku merasa, “nggak. Sepertinya nggak jadi.” Ya, dulu memang awal-awal aku sangat bersemangat mengucap jargon itu. Tapi untuk beberapa minggu terakhir ini, feelingku berkata “tidak...” Dan akhirnya, setelah pembahasan yang lumayan singkat, diputuskan untuk tidak jadi mengikuti lomba di Semarang. Kecewa, pasti. Semua yang sudah latihan pasti juga merasakan hal yang sama dalam hal ini. Kecewa, bahkan ada yang berkata, “no coment”. Memang, nggak ada yang sia-sia latihan selama ini. Toh itu pasti berguna untuk ke depannya. Oke. Aku setuju dengan pernyataan itu,bahkan sangat setuju. Ya sudahlah, aku belajar legowo. Ya mungkin emang belum saatnya kita ke sana. Nangis, ya, hahaa. Aku sengaja nggak langsung pulang malam itu. Aku menceritakan semuanya pada salah seorang temanku. Bukannya aku merasa semuanya hancur, bukan. Aku hanya merasa, aku cukup kecewa. Aku merasa, aku lelah bernyanyi. Aku ingin berhenti saja... Aku cuma pingin ngerasain tenang.... Hidup emang seperti ini, benturan-benturan akan membuat kita menjadi semakin dewasa dalam menyikapi berbagai hal di kehidupan. Tapi sekali lagi aku katakan, aku cukup kecewa. Bukannya aku sambat, bukan, sama sekali bukan. Aku ngerasa sayang aja,. Benar kata temanku, apa yang aku perjuangin selama ini, malah begini jadinya. Sedangkan yang bisa aku raih, malah aku lepasin gitu aja.. Aku tidak pernah menyesal, bagiku ini pelajaran yang amat berharga. Aku emang harus nerima resiko atas pilihan yang sudah aku ambil. Konser, lepas. Drama, lepas. Lomba, lepas. Aku jadi berpikir, apa emang seharusnya nggak perlulah aku menyiapkan segalanya secara matang ya? Kok rasa-rasanya tiap kali aku mempersiapkan sesuatu secara detail, hasilnya malah nggak karu-karuan. Maksud hati sih biar semuanya sempurna, kalau hasilnya ternyata demikian, kan ya malah eman.. Sedangkan kalau sesuatu yang ndadak-ndadak, malah lebih jadi berkesan... Berusaha berkata “iya nggak apa-apa” itu adalah nggak mungkin. Buktinya, aku jadi suntuk. Kalo inget ke matos sampe malem, ke mog muter-muter, cuma buat ngilangin suntuk, untung aja ada temen yang mau aku ajak ngegembel di sana.... Capek, dari rumah langsung tidur. Hmm, cukup dua hari itu saja. Aku masih bisa fokus bahwa aku harus belajar, wong mau UTS... Yah, lega rasanya menuliskan perasaanku yang tiba-tiba ini tadi. Aku harus yakin bahwa ada hikmah yang akan didapat atas apa yang telah terjadi. Satu yang bikin aku sadar, sholatku mulai sering telat, ngajiku udah nggak pernah, tahajudku tak lagi aku lakuin, puasaku udah sama sekali nggak pernah, kerudung semakin sering aku buka, ya, aku tidak lagi sepatuh dulu... mungkinkah Tuhan marah? itu salahku...dan mungkin juga itu yang buat aku nggak setenang dulu dalam menyikapi berbagai masalahku akhir-akhir ini. Yasudahlah, yang akan aku lakukan sekarang adalah pelan-pelan memperbaiki apa-apa yang sekiranya masih bisa diperbaiki. Toh, emang c’est la vie! Inilah hidup! “Tetaplah tersenyum karena itu jalan yang telah kau pilih.....” Ahh, lagu itu, sendu sekali...... 
Baca Selengkapnya →Ahh

Kamis, 14 Juni 2012

0 comments
Jujur, aku bener-bener panik persiapan menghadapi tes DELF. Entah akunya yang terlalu lebay kali ya? Kata mereka, nggak perlulah sepanik ini. Tes DELF A1 itu gampang. Semua juga bakalan lulus. Hmm, iya sih... Tapi, bagiku, tetep aja aku nderedeg. Ini pertama kalinya aku mau ikut ujian DELF. Ya kan jadi berasa gimana.....gitu. Sekali lagi, entah akunya yang terlalu lebay, atau merekalah yang sok-sok an bilang gitu biar aku nggak lebay.Hahaaa. Entahlah, yang penting tes akan tetap berjalan. Ya aku sih cuma berdoa semoga semuanya lancar dan hasilnya memuaskan. Aku juga udah bilang ke Faris tentang tes ini. Entah kenapa, setiap kali aku bilang ke dia tentang semua hal yang akan aku lakukan, jadi berasa tenaaaaang gitu. Dan aku yakin, diapun akan selalu ngedoain aku yang terbaik, di sana. Dan masalahnya sekarang, aku belum belajar. Buku persiapan DELF masih aku baca beberapa halaman. Sumpah, rasanya pengen cepet-cepet nyelesain soal-soal di buku itu. Namun, apa daya, manusia boleh berencana, tapi tetap Tuhanlah yang menentukan segalanya. Hihihiii.... pepatah yang maksa, banget. Ajakan dari salah satu temanku itu sangat mulia. Main ke perpustakaan Batu. Aku belum pernah ke sana. Kayanya menarik deh. Dan yang lebih bikin aku pengen ikut, karena kita nanti ke sananya naik bus. Woooowww! Pasti seru. Dengan berpikir beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Hmm, biar tenang, tak lupa kumasukkan buku DELF ini ke dalam tas dengan niatan lumayanlah ngebuka-buka dikit lagi nih buku sembari menikmati perjalanan. Kue, minum, jaket, dompet, dan beberapa keperluan lainnya sudah siap, dan........cusss! allez-y! Berangkatlah kita ke sana. Bahagiaaaaaaa banget rasanya duduk di pinggir pintu bis, diiringi angin sepoi-sepoi, tak kusadari aku senyum-senyum sendiri. Untung aja nggak ada yang ngeliat. Hihihi. Sampailah kita di perpustakaan itu. Kereeen! Bagus! Tempatnya emang sip dah! Tapi, sekali lagi tapi nih ya, ternyata perpustakaannya baru buka jam 2 siang. Fiuuwhfth,,,,,,,sekarang masih jam 10... Walhasil, kita foto-foto aja di sekitar perpus. Kita juga memutuskan untuk ke JP1 tapi cuma di depannya aja, foto-foto... Ya, itung-itung mengisi waktu hingga jam 2 siang. Ntar kalo udah jam 2, kita balik ke perpus. Sesampainya di JP, kok aku ngiler ya....? Nanggung banget gitu rasanya. Udah nyampe di depan JP, tinggal cus aja masuk, udah bisa gila-gilaan di dalem. Sayangnya, aku nggak bawa uang banyak. Mereka juga. Karena kan tujuan awalnya ke sini emang ke perpus, bukan ke JP. Tapi, mendadak salah satu temenku bilang dia bawa uang kok, 250 ribu. Aku bilang, “Ha??? 250? Wah, cukup itu! Ayo-ayo! Ke sana! Ayolah....”, sambil merengek-rengek. Okelah, kita membeli tiket masuk dan begitu masuk ke dalam, hmm, nggak bisa diungkapin deh gimana rasa senengku. Enam tahun yang lalu aku ke sini, dan hari ini, aku kembali ke sini avec mes amis. Kita berlari ke manapun sesuka hati. Kita juga nyobain semua wahana. Ada beberapa hal menarik yang sedikit menggelitikku. Saat naik sebuah wahana yang namanya aku lupa, wahana itu berjalan maju dan sesekali mundur. Dalam kenderedegan itu, aku merasa, ada pelajaran hidup yang aku dapat. Ketika wahana ini melaju ke depan, wuih, rasanya menakutkan, cepet banget jalannya. Tapi, ketika wahana ini melaju ke belakang, alias mundur, secepet apapun jalannya, aku malah merasa enak, tenang, nyaman, pokoknya menyenangkan deh. Aku jadi inget tentang jalan hidup ini. Masa depan itu terkadang memang menakutkan. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana nanti. Rasanya seperti kecepatan yang terlalu dipaksakan. Tapi, ketika kita kembali ke masa lalu, ke dalam kenangan-kenangan itu, rasanya, hati ini terasa begitu nyaman. Hahaaa, sempet-sempetnya ya aku mikir gitu padahal yang lain pada teriak-teriak ketakutan. Ada lagi, ketika ada di kolam ikan koi, banyak kulihat uang koin ada di dasar kolam. Kata temenku, itu koin permohonan. Iseng aja aku juga nyoba. Tetep dong, aku berdoa ke Allah. Setelah beberapa doa kupanjatkan, aku lempar aja uang koin ini ke dalam kolam itu. “Plung!”, dan ikan-ikanpun ramai berkejaran. Semoga, Tuhan mengabulkan doaku. Amin. Dan masih banyak lagi wahana yang lainnya. Puuuuaaaaasssssss! Itu menurutku, nggak tau deh kalo yang lain. Hehee. Nggak kerasa udah jam 3 sore, kita memutuskan untuk cus ke perpus trus cus pulang, kita takut keabisan bus. Uang abis, perut laper. Yasudah, kita cari ATM, mais.... ATM c’est trop loin ici. Alors, lebih baik kita makan dulu aja, ntar baru ke ATM. Padahal udah cari warung di pinggiran, tempatnya juga jauh dari JP, milih juga makanan yang biasa aja, eh kok ya tetep masih mahal aja toh??? Rawon sepiring aja 9 ribu. Hmm.... Kita ngumpulin uang yang masih tersisa di masing-masing dompet. Dan kita rasa, uang patungan masih cukup buat naik bus pulang, tanpa harus ke ATM. Setelah puas makan dan ngobrol-ngobrol cantik, kita pergi ke perpustakaan. Bener-bener nyaman tempatnya. Tapi sayang, cuma sebentar. Nggak ada setengah jam di sana. Aku juga belum puas. Lagi enak-enaknya baca majalah Elle, udah diajak pulang. Yaaaaah............  Okelah, nanti kapan-kapan kita ke sini lagi, yang lama, biar puas. Beberapa menit kemudian bus datang dan kamipun kembali ke Malang. Di bus, salah satu temanku berkata, “Hmm kan....nggak jadi belajar lagi kan... Padahal udah bawa buku gramaire buat persiapan UAS.. Trus juga mau baca-baca di perpus Batu biar tambah pinter. Malah ke JP..... Yaaah.... Dasar! Hahaaaa” Sambil menengok pemandangan dari jendela bus, dalam hati aku berujar, “Jadi anak muda itu enak ya. Biarin aja urusan dan kesibukan yang ada di belakang, yang penting kita seneng-seneng sekarang. Kapan lagi bisa kaya gini? Belum tentau momennya bisa pas kaya saat ini”. Aku juga jadi teringat dia, dia yang sekarang sudah berbahagia dengan yang lain, “Hmm, kamu bisa aja bahagia ke pantai bersama dia. Aku di sini juga bahagia kok. Bahkan sangat berbahagia. Ada teman-temanku, dunia baruku, percakapan bahasa Prancis yang mengasyikkan, ada semuanya deh di sini. Aku bisa tetep bahagia, tanpa kamu. Silahkan kamu bersenang-senang di sana. Aku juga bisa bersenang-senang di sini. Dan aku yakin, memang beginilah jalan terbaik dari hubungan kita. Semoga semuanya diberi yang terbaik. Amin.” Aku juga tiba-tiba teringat dia, dia yang selalu kusebutkan namanya dalam doaku, “Ahh, seandainya kamu tahu bagaimana aku, mas.. Andaikan pada akhirnya nanti kita disatukan, aku berani berkata pada mereka bahwa akulah orang yang paling berbahagia di dunia ini, karena aku bisa mendampingimu, selamanya”. Dan ketika pikiran ini mulai ngaco dengan pengandaian-pengandaian itu,segera kusadarkan alam bawah sadarku, “Hmm...mulai deh. Ngayal! Udah ahh, mending tidur aja. Hahaa”. Dan beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba di Malang. Dari rumah, rasanya capek banget. Badan pegel-pegel. Tapi, itu semua segera terbayar dengan perasaan gembira yang nggak akan pernah ada habisnya. Hahaaaa.. Lebay banget ya cerita ini rasanya???????? Hehehheheheheeeee
Baca Selengkapnya →Kamis, 14 Juni 2012