INILAH AKU, DENGAN SEGALA KEKURANGANKU

Jumat, 13 Juli 2012

Jumat, 29 Juni 2012 Ada yang menarik sesampainya aku di sini. Setelah melihat enam ekor anak kucing yang baru saja dilahirkan Onix, sangat terlihat bagaimana penilaian orang tentang hal ini. Ya, beginilah memang yang terjadi. Dari keenam anak kucing itu, pasti ada satu yang paling bagus dan satu yang paling jelek. “Yang itu lho ya yang paling bagus...”. “Yang empat ini biasa aja”. “Yang itu yang paling jelek ya”. Begitulah kaliamat yang muncul dari bibir setiap orang yang datang melihatnya. Bersyurlah dia yang terlahir dengan bulu yang paling bagus. Kelak pasti sanjungan akan sering diterimanya jika ia bertambah besar nanti. Bulunya tebal, berwarna coklat muda agak kuning keputih-putihan. Lain halnya dengan ia yang berbulu putih dengan corak kuning sama seperti induknya. Dia terkesan biasa. Dan yang lebih parahnya, keempat anak kucing lainnya. Mereka memang memiliki bulu dengan tiga warna, coklat, putih, dan kuning, namun, itu semua tidak terkesan istimewa karena ada lebih dari satu yang berwujud seperti mereka. Di sinilah sekarang yang harus lebih ditinjau, bagaimana perlakuan sang pemelihara. Apakah akan berbeda? Atau sama rata? Saya tertarik membuat tulisan ini karena saya ingin mencoba mengaitkan fenomena itu dengan kehidupan nyata. Seorang anak yang terlahir sebagai anak tunggal, di mata orang tua selalu dialah yang paling segalanya. Semua hal buruk pun tak pernah terlihat di mata mereka. Berbeda jika seseorang terlahir sebagai adik maupun kakak. Di mana dibutuhkan rasa saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Saya tidak berkata bahwa anak tunggal tidak bisa menghormati dan menyayangi orang lain lho ya, tidak, sama sekali tidak. Dan yang lebih menarik algi jika kita berbicara tentang anak kembar. Hmm, sangat menarik. Tidak jarang anak kembar yang sering merasa orang tuanya pilih kasih. Kembali pada persoalan kucing tadi. Coba saja diambil salah satu kucing dari keempat kucing yang memiliki warna yang sama tadi. Dia, pasti akan terlihat bagus. Bulu tebal, hidung pesek, bulu tiga warna, sehat, dan lucu. Tapi ketika dia dikembalikan pada ketiga kucing lainnya itu, dia akan terliaht sama dengan mereka. Tak ada yang paling menonjol, bahkan terkadang orang sulit membedakannya. Tidak pada seekor kucing yang paling bagus (menurut mereka), apapun yang ia lakukan, di mata mereka tetaplah dia yang paling bagus. Dan untuk kucing yang paling jelek (menurut mereka lagi nih ya), dia biasa, dan di manapun tetap akan menjadi biasa. Ini baru anggapan sementara. Tapi pengasuh yang bijaksana adalah yang mau memberikan kasih sayang yang sama satu sama lain, yang mau mengakui kelebihan pada diri masing-masing kucing, yang mau selalu merawat mereka tanpa ada perasaan tidak suka karena suatu hal. Sama seperti orang tua. Siapapun mereka yang mempunyai anak tunggal, anak kembar, hingga anak banyak, jika ia mau menyayangi anaknya tanpa harus membeda-bedakan, itulah yang bisa dikatakan sebagai orang tua yang bijak. Dan saya yakin, setiap orang tua pasti memiliki sifat itu. Kita tidak pernah tahu, Condro, Junior, Monza, Valley, dan dua ekor kucing lagi yang belum mempunyai nama, kelak akan menjadi seperti apa. Pasti akan ada yang paling nakal, yang paling calm, yang paling cantik, yang paling lucu, yang paling menggemaskan, yang paling lincah, yang paling rakus, dan yang paling lainnya. Galaksi yang sudah ada sebelum keenam kucing itu lahir, mulai bisa berinteraksi dengan kucing yang sudah ada sebelumnya. Cheval dan Boy mulai bisa menyayangi Leksi, panggilan untuk Galaksi. Mereka yang mengajarinya berlari kencang, memanjat pohong, dan bermain ke sana ke mari. Kelak keenam kucing itu pasti akan bahagia bersama kucing-kucing lainnya. Dan Keyza, aku yakin dia sekarang sudah lebih berbahagia. Dia bebas ke manapun yang dia mau. Terkadang aku berpikir, apa kabar dengan Marsha, Elce, dan Elcy. Begitulah sifat manusia, mana yang paling bagus, dialah yang paling dipertahankan. Sisanya, buang. Aku sih berharap ketiga kucing itu masih bisa bertahan hidup. Aku ucapkan selamat kepada Keyza dan Cheval yang tidak terbuang seperti kedua saudaranya, Elce dan Elcy itu. Masih kuingat, Elce dan Elcy juga memiliki warna yang sama, dan itulah yang membuat kita memberikan pada orang lain. Padahal, masih kuingat, wajah mereka sangat cantik. Sepertinya mereka perempuan. Bahkan aku belum sempat melihat perkembangan mereka. (menghela nafas) C’est la vie. Mana yang terpilih, dialah yang bertahan. Mana yang masih mampu menunjukkan kelebihannya, dialah yang terpilih. Tapi, di balik itu semua, pasti akan ada yang paling rendah hati, yang bisa menyikapi segalanya dari berbagai sisi, yang mampu berlaku benar di manapun dia berada, dan segala kebaikan kelebihan yang mungkin tidak banyak orang yang menyadarinya itu, dia jugalah yang akan menjadi juaranya. (tersenyum simpul) Ya, itulah sekilas opiniku tentang fenomena yang terjadi kemarin malam. Seperti biasanya, aku tidak pernah pro ataupun kontra terhadap suatu hal. Bukannya aku tidak punya pilihan, tapi inilah aku yang selalu menganggap segala sesuatunya harus dipikirkan dan dipandang dari berbagai sudut, yang selalu mencoba mengamati segalanya secara mendalam, yang selalu terkadang lama dalam mengambil tindakan yang padahal sebenarnya aku masih memikirkan langkah terbaik mana yang harus aku ambil agar menjadi baik untuk semuanya, yang selalu, yang selalu, dan yang selalu. Ya, inilah aku, dengan segala kekuranganku.

0 comments:

Posting Komentar