PERDEBATAN DUA SUARA
Posted by deastu at 02.55Jumat, 13 Juli 2012
Aku tahu, hidup ini selalu memaksa semua makhluk hidup untuk memutuskan sebuah pilihan. Dan pilihan yang disajikan hanya dua. Iya atau tidak, maju atau mundur, kalah atau menang, dan segala antonim lainnya. Sering aku berpikir, apakah emang seperti inilah hidup ini ya? Apakah untuk menjadi dewasa harus melewati jalan seperti ini? Dan perdebatan itupun muncul dikala kesendirian menyelinap...
^Jika kamu masih saja terus bersikap seperti ini, ya nggak akan pernah ada yang berubah!^
*Tapi, saya tetap tidak pernah merasa nyaman. Dan itu kuncinya!*
^Tapi, kalau tidak pernah mau menjalani, pengalaman apa yang akan kamu dapet? Nothing!^
*Tapi, nanti kamu menyesal lho!*
^Untuk apa berada di lingkungan yang aku tidak pernah bisa merasa senang secara natural?^
*Memangnya kamu nggak pernah takut di kedepannya nanti berpikir, “kalau saja waktu itu aku mau sedikit aja mengesampingkan emosi, pasti nantinya aku bisa menjadi seperti mereka”*
^Untuk apa bersikap berpura-pura kalau kenyataanya cuma menyiksa diri? Kebahagiaan itu datangnya dari hati. Bukan dari seberapa banyak uang yang kita dapet, setinggi apa prestasi yang pernah kita raih, sebanyak apa teman yang akrab dengan kita, dll^
*Dengan kamu bicara seperti ini, memangnya kamu tidak merasa bahwa kamu juga menjadi orang yang perfectionis?*
^Ya, karena aku terpengaruh mereka.^
*Apa itu buruk bagimu?*
^Tidak. Bukankah sudah kukatakan, tidak ada yang salah atas mereka. Yang salah ya dari diriku sendiri. Dan, sepanjang apapun kalimat yang aku rangkai, tak akan pernah berhasil menggambarkan bagaimana perasaan yang sedang aku rasakan jika orang yang sedang aku ajak bicara tidak pernah mau sedikit aja mencoba belajar merasakan.^
*Tapi, bukankah hidup ini penuh persaingan? Dimana siapapun itu akan menjadi kalah jika tida bisa beradaptasi dengan hidup ini?*
^Tapi apakah dengan seperti itu juga aku harus merubah kepribadianku? Kepribadian yang bisa dikatakan cemen ini menurutmu? Yang sebenernya kamu nggak pernah mengerti bahwa ya memang beginilah aku. Aku yang tidak pernah bisa langsung akrab dengan semuanya. Aku yang selalu mengedepankan tanggung jawab daripada emosiku. Aku yang cenderung memakai perasaan. Aku yang tak kuasa berdebat dengan orang lain. Aku yang tak pernah ingin sekecilpun melukai perasaan orang lain. Aku yang kelihatannya cenderung memilih jalan aman. Aku yang cenderung menggunakan cara yang lurus. Aku yang selalu merasa kuat karena aku berpikir bahwa pengalaman akan didapat dari sini. Aku yang selalu memikirkan segalanya dari sudut pandang yang berbeda-beda. Aku, aku, dan aku. Ya, karena apa sih? Karena aku yang selalu ingin semuanya baik-baik saja^
*(tertawa sinis). Absurd!*
^Ya, silahkan mau berkata apa.^
*Inilah hidup. Kamu bukan anak kecil lagi. Ini hidupmu. Tak akan ada orangtua, guru-guru, teman sepermainan, dan hal lainnya yang dulu yang selalu enak! Tatap ke depan! Berhenti mengeluh!*
^Mengeluh?! Jika kamu beranggapan aku mengeluh, itu salah besar! Kalaupun aku mengeluh, harusnya aku sudah pergi dari dulu^
*Ya itulah salahmu. Kalau memang kamu ingin pergi, lantas mengapa masih ada di situ?!*
^Ya karena inilah aku. Aku bukanlah orang yang mudah untuk pergi jika apa yang aku inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, keluar dari tanggungjawab, dan mencari tempat lain. Bukan. Aku bukanlah pribadi yang seperti itu. Sesakit apapun aku, selelah apapun aku, senggak kuat apapun aku, aku masih akan tanggungjawab karena pilihan yang sudah aku ambil.^
*Memangnya kamu nggak inget, dia pernah berkata “kenapa sih si A itu, selalu seperti itu. Setiap sudah selesai satu proyek, yasudah, langsung selesai.” Tidakkah kamu sedikit tersindir?*
^(tertawa) Ya, waktu itu, aku memang sedikit tersindir karena omongannya. Memang sih yang dimaksud bukan aku, tapi aku menjadi merasa dikasih kaca buat siap-siap karena nantinya aku sepertinya akan seperti itu^
*Dia yang kamu inginkan, berada dalam dunia itu. Masih bertahankah hatimu berkata bahwa kamu mencintainya? Bukankah dulu kamu pernah bilang bahwa sebenernya kamu menginginkan pasangan yang berbeda dunia? Lantas apakah itu berarti kamu yang akan mundur? Memangnya kamu nggak pernah ber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 comments:
Posting Komentar