Posted by
deastu
at
02.50
Jumat, 13 Juli 2012
Ni Made Pipit Deastuti
Kak Ilham, Aku Kangen Kakak...
Pulang sekolah...
Hampir setengah jam aku menunggu jemputan sopir. Tapi tiba-tiba ada mobil berhenti di depan sekolah.
“Sepertinya aku kenal sama mobil ini”, bisikku dalam hati.
“Mobil siapa ya?”, aku berpikir.
“Oh ya! Nggak salah lagi, itu kan mobil Kal Aldi! Hah? Kak Aldi? Ngapain dia ke sini? Memangnya mau jemput aku? Nggak mungkin deh....”, ucapku dalam hati.
“Hai, Lulu!”, sapa Kak Aldi. Ini adalah kalimat pertama yang aku denger dari mulut Kak Aldi.
“Hai, Kak..”, ucapku terbata-bata.
Aku ke sini mau jemput kamu. Aku mau ngajak kamu sama Ilham jalan-jalan. Ilham udah ada di mobil”, kata Kak Aldi.
“Emang ada acara apa? Mau jalan-jalan ke mana? Udah bilang sama Ayah sama Bunda?”, tanyaku.
“Udah, Ayah sama Bunda udah ngijinin kok. Hari ini hari ultahku. Aku sama temen-temen mau ngerayain ke vila. Tempatnya asyik kok!”
“Ulang tahun? Hari ini Kakak ulang tahun? Waaaah, selamat ya!”
“Iya, makasih. Makanya, kamu ikut ya!”
“Oke deh!
Di mobil ternyata sudah ada Kak Ilham dan enam orang teman Kak Aldi, empat cowok, dan dua cewek. Akhirnya sampai juga kami di sebuah vila di wilayah pegunungan. Tempatnya asyik juga. Dua cewek teman Kak Aldi pergi untuk membeli camilan.
“”
“Lulu, ke taman yuk!”, Kak Aldi mengajakku.
“Nggak ngajak Kak Ilham sama temen-temen Kakak lainnya?”
“Ilham ama yang laennya lagi maen PS. Itung-itung nunggu cemilan dateng, kita ngorol-ngobrol dulu. Aku Cuma pengen ngajak kamu ke taman atas”.
Kita duduk berdua di taman itu. Di atas rumput yang segar. Hawa sejuk semakin menambah indahnya hari itu.
“Lulu, menurut kamu, bahagia itu apa?”
“Bahagia itu kalo kita bisa nerima semua apa adanya”.
“Apakah kalo kehilangan orang yang kita cinta, kita harus nerima semuanya, jadi kita juga harus bahagia?”
“Iya, tapi bukan lantas bahagia dengan cara tertawa”.
“Maksudnya?”
“Jadikanlah kebahagiaan itu sebagai kekuatan dalam menjalani cobaan”.
“Hmm, aku tanya lagi ya, apakah kita harus jujur meskipun kejujuran itu menyakitkan?”
“Harus, karena aku yakin kejujuran itu akan menerangi hal-hal yang tertutupi. Mau bentuknya menggembirakan ataupun menyedihkan, berkat kejujuran, semua masalah akan terselesaikan”.
Kak Aldi terdiam. Sepertinya ada maksud lain yang ingin diucapkannya. Tiba-tiba, Kak aldi mencengkeram pundakku. Dia berteriak kencang di hadapanku.
“Aku benci kamu!” aku benci kalian bertiga!”, teriak Kak Aldi.
“Apa maksud Kakak?!”, tanyaku ketakutan.
“Denger ya! Kalau nggak kena rayuan Ibu kamu yang genit itu, nggak mungkin Ayahku nikah lagi! Ayah sangat mencintai Ibuku! Sekarang dengan enaknya kalian menikmati harta Ayahku! Dasar keluarga sundel!!!!”, teriaknya di depan mukaku.
Oh, Tuhan, ada apa ini? Aku takut, aku benar-benar takut. Kak Aldi tiba-tiba menjadi marah seperti ini. Dari kejauhan kudengar Kak Ilham berteriak lantang,..
“Lulu! Cepat pergi! Cepaaaaaat!”
Ada apa ini. Kak Ilham berlari dengan kencang dan di belakangnya ada tiga cowok teman Kak Aldi yang mengejarnya dengan muka garang. Tanpa pikir panjang, aku segera pergi setelah mendengar teriakan Kak Ilham. Namun naas, Kak Aldi mencengkeram tubuhku. Aku tak bisa berlari.
“Lepaskan! Lepaskan!”, teriakku.
Ketiga cowok teman Kak Aldi berhasil menangkap Kak Ilham. Mereka menghajar, memukul, menghantam perut, muka, dan dada Kak Ilham.
“Jangaaaaaaaaaaan!!! Jangan pukuk Kakakku!! Lepaskan!”, teriakku.
Kak Aldi tetap mencengkeram tubuhku. Dia semakin mengikatku. Kemudian salah satu temannya ganti mencengkeramku, dan Kak Aldi ikut menghajar Kak Ilham bersama teman-temannya. Namun apa yang terjadi, cowok ini mendorongku hingga aku terjatuh. Dia memegangi kedua kakiku dan aku berusaha merangkak dengan tangan. Tuhanku, aku tak mau ini terjadi.
“Stop! Stop! Aldi!”, teriak Kak Intan.
“Rizki, hentikan!”, teriak Kak Dila sambil mendorong cowok yang sedang mencengkeramku ini.
Aku segera berlari menghampiri Kak Ilham. Kulihat tubuh Kak Ilham yang berlumuran darah, babak belur, dihajar Kak Aldi dan teman-temannya yang brengsek itu.
“Kakaaak!!!”, teriakku. Kudekap dia, aku menangis sekeras-kerasnya.
“Bangun, Kak! Bangun!”
“”
Di Rumah Sakit..
“Saudari Lulu, silahkan masuk!”, pinta Dokter.
“Kak,.. Ini Lulu, Kak.. Maafin Lulu. Lulu nggak bisa nolong Kakak...”, ucapku menangis.
“Lu... Maafin Kakak.. Ka-kak nggak bi-sa ja-ga-in ka-mu... Ka-mu nggak pa-pa kan..?”, tanya Kak Ilham terbata-bata.
“Ja-ga-in Bunda.. Ja-ngan den-dam sa-ma Kak Aldi.. Se-be-ner-nya di-a baik... Kakak mohon...”, pinta Kak Ilham.
“Kak, jangan ngomong kaya gini. Kakak harus cepat sembuh. Kita pasti bisa meraih cita-cita bersama dan buat Bunda bahagia! Kakak musti jagain aku!”, ucapku tersedu-sedu.
“”
Tuhan berkehendak lain. Ia terlalu menyayangi Kak Ilham, hingga ia mengambilnya malam itu juga. Tangisan ini tak terbendung lagi mengiringi kepergiannya. Aku tak pernah menyangka, harus secepat inikah? Kakak, aku tak bisa hidup tanpa Kakak.... Kenapa Kau ambil Kakakku, Ya Tuhan.......
Ayah dan Bunda datang. Bunda pun tak kuasa menahan tangis. Aku berlari ke luar. Semakin kudengar tangisan Bunda, semakin teriris rasanya hati ini. Aku berlari semakin kencang menembus derasnya hujan kala itu. Sampai akhirnya aku bertabrakan dengan seorang cowok. Kak Aldi. Aku tak tahu harus bagaimana melampiaskan semua perasaan ini.
Sambil menangis aku berkata, “Puas kamu?! Puas?! Kenapa nggak sekalian aku dan Bunda yang kamu bunuh?! Kenapa Cuma Kak Ilham?! Kenapa?! Kenapa kamu rusak impian kami?! Aku dan Kak Ilham selalu berusaha menghormatimu, tapi kenapa ini yang kamu berikan pada kami?! Setelah ini, giliran siapa yang akan kamu bunuh?! Aku, atau Bunda?! Ayo jawab! Jangan diem aja!”, tangisku semakin menjadi-jadi.
Kak Aldi tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam terpaku dengan arah pandangan yang tak jelas. Tubuhnya jatuh, berlutut di bawahku.
“Bunuh aku, Lulu....”, ucapnya.
“Bunuh saja aku atau masukkan aku ke penjara dengan hukuman mati, atau siksa aku, atau masukkan aku dalam kandang binatang, lakukan apa saja yang kamu mau..... Aku nggak pernah nyangka kalau Ilham bakalan kaya gini...”, ucap Kak Aldi dengan bercucuran air mata.
“Terus, kalau misalnya tadi temen-temen kamu yang brengsek itu berhasil memperkosa aku gimana?! Sekarang Kak Ilham udah nggak ada, siapa yang bakal ngejaga aku?! Kenapa?! Kenapa kamu ambil malaikat penjagaku?! Kenapa?!!!!”
“”
Lima tahun kemudian...
Masih mengalir air mata ini bila kuingat kejadian di hari itu. Rasanya berat sekali bangkit dari keterpurukan. Butuh bertahun-tahun kami menyembuhkan hati yang luka. Dan kini, aku berada di depan makam Kak Ilham. Ingin kuceritakan semua padanya.
“Kak, aku sudah mengikhlaskan segalanya. Kak Aldi sudah berubah. Bahkan Kak Aldi pula yang selalu mengunjungi, menjaga, dan merawat makam Kakak ketika aku memutuskan untuk menerima beasiswa ke luar negeri selama dua tahun studiku. Tapi setelah itu, aku merasa ingin menetap di sana hingga kini telah berjalan tiga tahun. Aku berniat melupakan kehidupan di sini. Tapi ternyata, bayangan Kakak selalu ada di setiap langkahku hingga aku bisa berhasil seperti ini. Kemarin malam, waktu Kakak mendatangiku lewat mimpi, aku merasa bahwa Kakak menyuruhku untuk pulang. Dan memang benar, Bunda, Ayah, Kak Aldi dan semuanya sangat merindukanku. Aku diterima mejadi wakil direktur bank sesuai cita-citaku, Kak... Kak Aldi juga berhasil menjadi dokter spesialis jantung. Dia telah menikah dan baru saja punya anak, lucu. Kak Aldi berkali-kali meminta maaf padaku. Dia menjagaku seperti Kakak waktu itu. Bunda menyuruhku untuk menetap di sini. Ya, aku menyetujuinya. Dua bulan lagi aku menikah, Kak.. Dengan orang yang Kakak kenal, Rama Aditya. Inget kan, Kak? Hahaa, ya, dia yang selalu aku harapkan dan kini aku berhasil memilikinya. Semuanya sudah berubah, Kak. Berubah menjadi lebih baik... Kakak, berbahagialah di surga, aku selalu mendoakan Kakak. Dan hingga detik ini, tak ada kata lain selain rindu yang hanya untuk Kakak. Ya, Kak Ilham, aku kangen kakak....”, batinku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 comments:
Posting Komentar