Je pense que IKHLAS itu kewajiban
Posted by deastu at 20.45Selasa, 17 Juli 2012
Hidup adalah soal keberanian.
Mengahadapi yang tanda tanya, tanpa kita ketahui, tanpa kita sadari.
Terimalah, dan hadapilah.
Bukan tentang bagaimana kita menanggapi persoalan kehidupan, tapi harusnya tentang bagaimana kita menghadapi persoalan kehidupan.
Menurutku semua ini berasal dari niat, jadi niatnya dulu yang harus ditata.
Dengan niat, maka ikhlaspun akan tercipta.
Nah, baru ketika perasaan ikhlas sudah tertanam pada persoalan yang sedang kita hadapi, di situlah segalanya akan lancar, insyaAllah...
Bukan tentang salah atau benar dalam sebuah pengambilan keputusan, namun tentang bagaimana cara mempertanggungjawabkan sebuah pilihan.
Bukan tentang berani atau tidak, siap atau tidak dalam mempertanggungjawabkan sebuah keputusan, tapi tentang ikhlas atau tidaknya menghadapi kenyataan yang ada.
Ya, kuncinya tetaplah “IKHLAS”.
Nggak gampang lho belajar ilmu ikhlas itu.
Namun, sebuah kewajiban bagi kita semua untuk mempelajarinya.
Yang terjadi sekarang bagiku inilah sebuah pembelajaran dari sebuah penyesalan.
Inilah sebuah penjelasan dari sebuah ke”malu”an.
Inilah sebuah ke”palsu”an dari sebuah ke”asli”an.
Inilah sebuah kebahagiaan dari sebuah kesedihan.
Dan inilah hidup dari sebuah persoalan hidup.
Wahana dalam dunia permainan adalah penggambaran sebuah kehidupan.
Kata siapa aku berani di ketinggian?
Kata siapa tubuhku berani diputar-putar dia atas?
Kata siapa aku nggak gemetaran ngeliat orang lain yang sedang naik wahana?
Kata siapa?
Awalnya, aku bukanlah orang yang memang berani untuk melakukan hal-hal semacam itu.
Namun, aku menjadi orang yang terbukti mampu menaiki segala wahana itu.
Bukan karena aku berani, aku hanya mencoba melakukan yang orang lain bisa lakukan.
Soal mengalahkan keberanian, menguji adrenalin, sok-sok an kuat, itu biarlah aku yang merasakannya, yang penting kan hasilnya.
Kalau kita tidak pernah mencoba, mau sampai kapan lagi cuma bisa menebak-nebak gimana rasanya?
Sama seperti hidup ini, kalau hanya berspekulasi, hanya perasaan menduga-duga yang akan tercipta.
Spekulasi dan memakai perasaan dalam sebuah pemikiran itu memang tetap diperlukan.
Namun, kita juga harus sadar, kita hidup di dunia nyata, cobalah sedikit berpikir secara real.
Bebas, terbuka, di atas, adalah sebuah kenikmatan.
Bebas, tertutup, di atas, adalah sebuah ketakutan.
Sama seperti bianglala itu.
Di atas ataupun dibawah, jika cupnya tertutup, bagiku tetap saja akan merasa lebih menakutkan.
Memang sih, aman.
Tapi, apakah keaman itu bisa menjamin sebuah kebahagiaan?
Namun jika cupny terbuka, segalanya akan terasa berbeda.
Kita bagaikan terbang, lepas, bebas, dan siap menikmati hidup.
Ada di atas ataupun ada di bawah, tetap saja terasa bahagia.
Justru kita akan lebih berani.
Memang sih kurang aman, tapi kembali lagi, mau pilih mana, aman, atau bahagia?
Terjamin, atau tenang?
Mau pilih yang mana, itu terserah kita.
Toh pembuat bianglala itu sudah menyediakan pilihan.
Sama seperti Tuhan, Beliau juga sudah meyuguhkan banyak pilihan, tinggal terserah kita mau pilih yang mana.
Kembali lagi, bukan soal benar atau tidaknya kita dalam mengambil sebuah pilihan.
Namun soal ikhlas atau tidaknya kita menghadapi kebahagiaan maupun resiko yang akan terjadi dalam pilihan yang telah kita ambil.
:)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 comments:
Posting Komentar