Agama ?

Selasa, 17 Juli 2012

Pada dasarnya semua agama itu sama, yang berbeda adalah sudut pandang kita masing-masing. Yang dibahas sama, tentang pemujian Tuhan, bagaimana menjadi hamba yang mulia, baik buruk, dan, yah, seputar itulah. Dulu aku menjadi umat hindu, sekarang aku tercatat sebagai umat Islam, dan siang tadi, aku mengikuti doa di gereja. Eits, jangan salah dulu... Aku hanya ingin melihat dan mengamati apa yang belum pernah aku tahu. Di saat puji-pujian mulai digaungkan, yang terlintas di benak dan pikiranku hanyalah Tuhan yang aku sebut Allah. Biarkan saja mereka menyembah apa yang mereka sebut sebagai Tuhan mereka. Beribadah di manapun sama saja. Tergantung niatnya. Nyanyian yang mereka serukan tadi, tak terasa menenggelamkanku pada perasaan haru. Ketika seorang pemimpin yang entah disebut apa tadi itu berkata, “Serahkan semua pada Yesus. Percayalah bahwa Yesus adalah Raja di atas sana! Jika kalian yang datang ke mari membawa segala masalah, serakan semuanya pada Tuhan, Haleluya, Haleluya!”, dan masih banyak lagi sebenarnya. Aku tidak ingin membahas penulisan haleluya yang salah ataupun soal penyebutan nama Tuhan atau apalah itu. Aku juga tidak bermaksud membanding-bandingkan agama yang satu dengan yang lain. Semua kalimat dalam ibadah itu membuatku teringat akan sesuatu. Benar juga ternyata, kenapa tidak aku serahkan saja semua tangisanku ini ke Tuhan, (Tuhanku makasudnya, Allah) ? Sesampainya di rumah, mendadak aku ingat akan perkataan dari seseorang yang menurut banyak orang dia bisa membaca pikiran padaku waktu itu, “Balik sana ke Tuhan!”. Setelah mendengar kalimat yang tiba-tiba muncul itu sontak aku kaget. Dalam hati aku membatin, “Apa?! Kenapa tiba-tiba itu kalimat pertama yang diucapkannya?”. Dengan pedenya aku membantah, “Aku masih tetap berkerudung, aku masih mengerjakan sholat lima waktu, ya meskipun aku udah jarang banget ngaji dan puasa, tapi setidaknya aku masih menjalankan sholat!”. Dia berkata, “Ibaratnya seperti ini, ya, kamu masih tetap mengerjakan perintahnya, namun, hatimu tidak bersamanya. Coba pikirkan pelan-pelan kalimat barusan.” Hmm, ya, kini baru aku sadari, aku sudah tidak lagi seperti dulu, yang menyerahkan segalanya pada Tuhan. Tidak pernah ada kata terlambat bagi pengampunan dosa. Dan siang itu, segera kuambil air wudlu dan melaksanakan sholat dzuhur. Setelah sholat, di situlah aku mengungkapkan segalanya pada Tuhan. Tuhan, aku meyakini bahwa ini semua dariMu, dan oleh karena itu aku memohon pertolongan juga padaMu. Aku tidak menyesali semua yang telah terjadi. Namun, aku hanya meminta padaMu, segera berikanlah aku ketenangan, ya, itu saja. Aku ingin segera bisa tertawa seperti dulu. Dan ternyata, ya, pelan-pelan aku mulai bisa tenang..... Terimakasih, Ya Allah

0 comments:

Posting Komentar